Satu Kawanan Satu Gembala (6): Keturunan Abraham Dan Agama Universal

Oktober 2, 2009 at 7:46 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya:

“Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:
Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk
menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati
engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti
bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan
menduduki kota-kota musuhnya.
Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
karena engkau mendengarkan firman-Ku.”
(Kej. 22:15-18)

——————

Dipilih, Bukan Diklaim

Semoga sudah jelas bagimu bahwa Tuhan hanya menciptakan satu agama universal bagi seluruh umat manusia. Tapi mungkin akan timbul pertanyaan selanjutnya: agama universal yang mana? Banyak agama mengklaim dirinya sebagai agama universal. Atas dasar apa sebuah agama dapat mengklaim dirinya agama universal?

Jawabanku: tidak ada dasar apapun yang bisa digunakan untuk mengklaim sebuah agama sebagai agama universal. Agama universal itu dipilih dan dibentuk oleh Tuhan sendiri, tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Bukan kamu yang memilih Aku tapi Akulah yang memilih kamu…” (Yoh.15:16). Agama universal bukanlah suatu status yang dapat diklaim, diraih, dilombakan apalagi diperdebatkan oleh manusia. Tuhan sendiri yang telah memilih dan membentuk agama universal ini, bukan berdasarkan pengakuan atau klaim manusia. Dan sekali Tuhan memilih, pilihanNya itu tetap, Tuhan tidak pernah mengganti pilihanNya di tengah jalan seolah-olah Dia telah melakukan kesalahan pada pilihan sebelumnya. Jadi apapun yang diupayakan manusia tidak dapat membuat agama universal menjadi bukan universal lagi, dan sebaliknya juga tidak dapat mengubah agama yang sebelumnya bukan agama universal menjadi agama universal. Manusia tidak bisa mengubah apa yang telah ditetapkan dan dipilih Tuhan sendiri.

Anakku, kalau engkau memahami ini akan menjadi lebih mudah bagimu untuk menentukan mana sesungguhnya agama universal diantara agama-agama lainnya. Kata kuncinya: dipilih, bukan diklaim. Ingatlah perkataanku ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Prinsip ini dapat menjadi peganganmu dalam mencari agama universal yang otentik.

Engkau tinggal mencari dalam sejarah keselamatan, di dalam kisah-kisah para nabi kapan saat Tuhan menentukan pilihanNya dan mulai membangun agama universal ini. Bandingkanlah diantara sekian banyak agama yang ada, mana yang paling layak sebagai agama universal. Dan harus engkau ingat, sekali Ia menetapkan pilihan Tuhan tidak pernah menggantinya seolah-olah Ia telah gagal. PilihanNya sudah pasti benar dan lagi Tuhan selalu setia pada apa yang telah dipilihNya sendiri. Sekalipun manusia atau malaikat berupaya mengacaukan agama universal ini, Tuhan pasti sanggup memulihkannya. RancanganNya selalu berhasil.

Dan engkau akan melihat agama universal ini memiliki keunggulan yang jauh di atas semua agama lain, bedanya akan seperti langit dan bumi, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yes: 55:8-9). Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya agama universal ini memiliki suatu unsur yang hanya dapat dibuat oleh Tuhan dan tidak dapat dibuat oleh tangan manusia sebagai bukti otentik agama tersebut memang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Ini yang akan menjadi pembeda signifikan antara agama universal dan agama-agama lain.

Sama seperti seorang nabi yang dipilih Tuhan untuk mengajar kebenaran, demikian juga agama universal ini dipilih Tuhan untuk mewartakan sabdaNya bagi seluruh umat manusia. Kalau engkau bijaksana dan sungguh-sungguh menggunakan akal-budimu engkau akan bisa menemukannya di antara sekian banyak agama yang ada.

Mereka yang mengatakan Tuhan telah memilih agama universal baru karena agama universal yang lama sudah gagal atau diselewengkan adalah sama dengan menghina Tuhan, seolah-olah Dia tidak mampu memilih dengan baik sejak awal dan rancanganNya gagal. Kalau sudah begitu sama sekali tidak ada jaminan ‘agama universal’ yang baru juga benar, mungkin saja Tuhan salah lagi dan kita butuh agama universal yang baru lagi. Lalu sampai kapan Tuhan akan membuat agama universal yang baru? Jangan engkau percaya perkataan orang-orang semacam itu, asumsi mereka tidak logis dan mereka hanya akan menyesatkanmu. Ujilah dengan akal sehatmu dan engkau akan menemukan kebenaran.

Perjanjian Dengan Abraham

Sebagai seorang Katolik aku percaya bahwa Gereja Katolik adalah agama universal yang diciptakan oleh Tuhan bagi seluruh umat manusia. Dari namanya, Katolik memang berarti universal. Sekalipun secara resmi Gereja Katolik baru hadir dalam panggung sejarah setelah kehadiran Yesus di dunia, Gereja Katolik bukanlah agama yang sepenuhnya baru. Gereja Katolik merupakan kelanjutan dan penggenapan dari ajaran-ajaran para nabi dalam tradisi agama Yahudi. Bisa dikatakan Gereja Katolik adalah agama universal yang dibentuk Tuhan secara bertahap sejak dimulainya tradisi keagamaan Yahudi yang digenapi dengan kehadiran Yesus Kristus dan berlanjut terus hingga hari ini melalui Paus dan para uskup.

Dalam pengertianku, Tuhan merencanakan penyelamatan manusia memang sejak kejatuhan Adam, tapi momen paling signifikan yang menandai dimulainya pembentukan agama universal ini adalah saat Tuhan melakukan perjanjian dengan Abraham. Setelah Abraham berhasil melewati ujian dimana dia diminta mengorbankan anaknya, Ishak, Tuhan mengikat perjanjian bahwa Ia akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan melalui keturunannya semua bangsa akan mendapatkan berkat.

Ini berkaitan erat dengan puncak karya keselamatan, yaitu penyaliban Yesus Kristus. Pada penyaliban Yesus, Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengorbankan putraNya sendiri. Lihat benang merahnya, kesediaan dan ketaatan Abraham mengorbankan anaknya menjadi awal dari karya keselamatan yang berpuncak pada pengorbanan diri Yesus Sang Putra Allah. Kesediaan Abraham mengorbankan anaknya menjadi pembuka jalan bagi penyaliban Kristus, Putra Allah, Anak Domba Allah. Setelah Abraham menyatakan kesediaannya mengorbankan Ishak, Tuhan memberikan anak domba sebagai korban pengganti sekaligus tanda dimulainya karya keselamatan, dan ribuan tahun kemudian Tuhan memberikan lagi Yesus Kristus Sang Anak Domba Allah (Agnus Dei) sebagai korban salib yang menjadi puncak karya keselamatan.

Korelasi ini menegaskan hubungan yang tak terpisahkan antara perjanjian Tuhan dan Abraham dengan karya penebusan Yesus Kristus. Dengan sendirinya ini juga menjadi tanda adanya kesinambungan antara tradisi keagamaan Yahudi yang dimulai dari Abraham dan dilanjutkan oleh Gereja Katolik. Hubungan tak terpisahkan antara keturunan Abraham dan Gereja Katolik juga ditegaskan secara simbolik melalui 12 orang rasul pengikut Yesus yang melambangkan 12 suku Israel yang berasal dari 12 anak Yakub, cucu Abraham. Sulit sekali menyangkal ini semua saling berkaitan.

Lihatlah anakku, perjanjian Tuhan dan Abraham ini juga menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan memilih Abraham dan keturunannya sebagai agama universal, bukan bangsa yang lain: Abraham telah menunjukkan iman dan ketaatan yang begitu besar kepada Tuhan dengan sanggup mengorbankan miliknya yang terbaik bagi Tuhan. Ketaatan dan iman Abraham yang demikian besar ini telah membuat Tuhan berkenan mempercayakan seluruh karya keselamatan melalui Abraham dan keturunannya. Ini semua menjadikan bangunan agama universal ciptaan Tuhan begitu indah, kokoh, dan penuh makna simbolik: dimulai dengan iman dan ketaatan Abraham lalu dipuncaki oleh cinta kasih Yesus Kristus.

Kesetiaan Tuhan

Aku ingin mengulangi lagi pernyataanku: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal dan Dia tidak pernah gagal. Eksistensi Gereja Katolik hingga saat ini sebagai perwujudan dari agama universal yang dibentuk Tuhan sejak perjanjianNya dengan Abraham menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Sekalipun perjalanan sejarah agama universal ini tidak mulus dan penuh dengan pergolakan, agama universal ini tetap eksis dan terus menjadi cahaya kebenaran bagi seluruh bangsa hingga saat ini.

Faktor yang paling berperan dalam eksistensi agama universal ini adalah kesetiaan Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama (PL), bangsa Israel sebagai pembawa agama universal berkali-kali ditaklukkan dan ditindas bangsa lain, mengalami pembuangan, bahkan berkali-kali tidak setia pada Tuhan dan berpaling pada dewa-dewa bangsa asing, namun itu semua tidak membuat Tuhan meninggalkan bangsa Israel. Tuhan tetap percaya dan setia pada keturunan Abraham, Dia tetap menjadikan keturunan Abraham sebagai sarana sabda-Nya.

Demikian juga di dalam sejarah Gereja Katolik, agama universal ini berkali-kali mengalami upaya penghancuran, mulai dari munculnya aliran-aliran bidaah yang memecah-belah gereja, mengalami berbagai tekanan dan penindasan politis, peperangan, ancaman invasi Islam yang memicu munculnya Perang Salib, dan banyak lagi. Ini tidak membuat Gereja Katolik runtuh. Bahkan ketika Gereja Katolik menjadi demikian korup, penuh skandal, tidak setia pada Tuhan dan mencintai keduniawian sehingga memunculkan gerakan reformasi dari Martin Luther, Tuhan juga tidak pernah meninggalkannya. Tuhan hanya memberikan peringatan dan dengan caraNya sendiri Tuhan memulihkan kembali kemurnian Gereja Katolik sebagai agama universal pembawa sabdaNya.

Sama seperti bangsa Israel yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, Gereja Katolik juga penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Namun itu semua tidak mengalihkan penyertaan Tuhan. Kesetiaan dan belas kasih Tuhan jauh lebih besar dari ketidaksetiaan Gereja Katolik. Sebagai penerus keturunan Abraham (secara rohani) sampai saat ini Gereja Katolik tetap dipercaya sebagai agama universal yang menjadi sarana berkat Tuhan bagi seluruh bangsa. Tuhan tetap mempercayakan seluruh SabdaNya kepada Gereja dan menjaganya dari segala kesesatan hingga saat ini. Tak ada satu momen yang cukup signifikan dalam sejarah yang menunjukkan Tuhan pernah mengalihkan berkat dan sabdaNya dari Gereja Katolik. Ini semua membuktikan kesetiaan Tuhan yang tanpa syarat sebagaimana pernah ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: “…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:20).

Satu Kawanan Satu Gembala (5): Sabda Tuhan Dan Agama Universal

Oktober 2, 2009 at 7:44 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.
(Yes. 59:21)

—————–

Nabi Pewarta Sabda

Semoga sudah menjadi jelas bagimu bahwa Tuhan menghendaki manusia menjadi sempurna. Di dalam hati nurani setiap manusia sesungguhnya terdapat panggilan menuju kesempurnaan, yang ditanamkan oleh Tuhan sendiri. Hal ini sengaja kuulang-ulang supaya benar-benar tertanam dalam pikiranmu yang terdalam.

Lalu dengan cara apa Tuhan memulihkan keadaan manusia yang penuh kelemahan dan dosa ini menjadi sempurna?

Ketika Tuhan memulai karya ciptaNya Dia bersabda, “Jadilah terang…” maka terangpun terjadilah. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sabdaNya. Ketika ciptaanNya yang utama, yaitu manusia, jatuh ke dalam dosa maka Dia juga memulihkannya dengan sabdaNya yang menyelamatkan. Dengan sabdaNya Dia menciptakan segalanya dan dengan sabdaNya juga Dia memulihkan segalanya.

Memang benar sabda Tuhan terus menyapa semua manusia sepanjang jaman dan di setiap bangsa. Di setiap bangsa selalu muncul orang-orang bijak yang mengajarkan dan mencontohkan kebaikan. Dan itu dalam arti tertentu memang sabda Tuhan juga. Disitu aku bisa menerima kenyataan bahwa agama-agama lain juga pembawa cahaya kebenaran. Namun agama-agama tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembawa sabda Tuhan yang bersifat universal, jadi sifatnya cuma lokal dan parsial. Sabda yang diwartakannya hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan manusia menerima sabdaNya yang universal. Disini aku menghendaki engkau mengenali keterbatasan yang ada dalam agama-agama lokal tersebut.

Ketika agama-agama tersebut menyadari keterbatasannya, itu bagus. Aku kira itu memang kehendak Tuhan. Keterbatasan yang ada dalam agama-agama itu juga termasuk tidak adanya jaminan tidak dapat salah, dengan kata lain agama-agama tersebut bisa memiliki kesesatan yang berdampingan dengan kebenaran. Tapi ketika agama-agama itu tidak mau menyadari keterbatasannya dan berusaha mengklaim keuniversalan yang bukan haknya, masalahnya menjadi lain. Agama semacam itu bukan lagi pewarta sabda Tuhan melainkan penyesat yang harus dihindari dan dimusnahkan.

Pikirkan seperti ini, bayangkan seolah-olah engkau hidup di jaman seorang nabi. Bukankah melalui orangtuamu engkau juga menerima berbagai ajaran yang baik, yang telah diajarkan nenek-moyangmu secara turun-temurun? Itu tidak salah, tapi ajaran kedua orangtuamu bahkan nenek-moyangmu bagaimanapun ada keterbatasannya. Dan seorang nabi yang dipilih oleh Tuhan telah diberi kuasa dan kemampuan untuk mengajarkan lebih dari apa yang bisa diajarkan kedua orang tuamu. Kalau orang tuamu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan engkau untuk belajar serta mendengarkan nabi itu tentu bagus. Itu adalah kehendak Tuhan. Tapi kalau orang tuamu melarang engkau pergi mengikuti sang nabi, tentu menjadi salah. Orang tuamu telah menjadi kaki-tangan iblis dan berbalik menentang Tuhan. Dengan analogi ini mudah-mudahan engkau bisa memahami keterbatasan agama-agama lokal di hadapan agama universal.

Demikian juga melalui rencana keselamatan yang universal sabdaNya secara penuh hadir menyapa manusia melalui sarana pilihan yang dirancang dan dibuatNya sendiri. Sarana ini yang sekarang kita kenal sebagai agama universal. Ini seperti sang nabi yang dipilih Tuhan dalam analogi di atas.

Di dalam agama universal ini kita bisa mengenal sabda Tuhan di sepanjang jaman yang diterima manusia melalui para nabi, rasul, orang-orang kudus, dan juga kitab-kitab suci. Melalui sarana ini Tuhan secara total mencurahkan sabdaNya, apapun yang perlu diketahui manusia demi keselamatannya akan disampaikan melalui sarana ini, bukan yang lain. Bukankah tidak ada sarana yang lebih baik selain agama universal yang telah dibuat dengan tanganNya sendiri?.

Sabda Tuhan – Satu Sabda Banyak Sarana

Sekarang aku ingin engkau juga memperluas wawasanmu bahwa yang namanya sabda Tuhan tidak hanya disampaikan melalui kitab suci saja. Sabda Tuhan bisa hadir juga melalui manusia, baik itu para nabi, orang-orang kudus, atau siapapun yang dipilihNya untuk mewartakan sabda. Nanti aku akan menjelaskan padamu lebih lanjut bahwa sabda Tuhan tidak hanya dipercayakan pada kitab suci saja, tetapi juga pada orang-orang pilihan. Bagaimanapun sabda Tuhan yang tertulis dalam berbagai kitab suci pada awalnya juga hadir melalui manusia. Tuhan itu maha kreatif, Dia bisa menggunakan banyak sarana untuk menyampaikan sabdaNya. Kitab suci hanyalah salah satunya, tapi bukan satu-satunya.

Mungkin timbul pertanyaan, jika Tuhan bisa menggunakan banyak sarana mengapa hanya melalui agama universal? Mengapa Tuhan tidak menggunakan agama-agama lain juga? Sebenarnya kalau engkau cermati dengan baik, agama universal yang aku bicarakan merupakan kumpulan dari banyak ajaran, tulisan, dan kisah-kisah para nabi serta orang-orang pilihan di berbagai jaman. Tetapi para nabi dan ajaran-ajarannya tidak membentuk agama yang berbeda-beda melainkan membentuk satu kesatuan ajaran yang utuh dalam satu agama universal. Jadi bisa dikatakan sabda Tuhan dalam agama universal sebenarnya sudah mencerminkan penggunaan banyak sarana pewartaan sabda Tuhan karena merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran para nabi dan kitab-kitab suci. Ajaran para nabi dan kitab-kitab suci yang berbeda-beda namun membentuk satu kesatuan dalam agama universal ini menandakan adanya satu sumber sabda Tuhan yang sama.

Agama Universal Sebagai Jaminan Otentisitas Sabda

Adanya satu agama universal juga merupakan cara Tuhan untuk memberi jaminan otentisitas sabdaNya. Melalui agama universal yang satu Tuhan menegaskan bahwa apa yang ada di dalamnya adalah sabdaNya yang sesungguhnya (otentik) dan bebas dari kesesatan. Ini sangat penting untuk menghindarkan manusia dari sabda Tuhan yang palsu. Harus engkau sadari bahwa ada banyak upaya-upaya untuk menyesatkan manusia dengan cara memalsukan dan membajak sabda Tuhan untuk maksud-maksud lain.

Jika tidak ada agama universal pasti akan menimbulkan kesulitan yang serius: bagaimana manusia bisa menemukan sabda Tuhan yang otentik diantara sekian banyak ajaran dan agama-agama dunia yang berbeda satu sama lain? Tanpa adanya agama universal ini manusia akan dibingungkan dengan begitu banyak ‘kitab suci’ dan ajaran yang mengklaim sebagai sabda Tuhan. Semuanya kelihatannya baik, ajaran-ajaran palsu ini sepintas lalu memang mirip dengan sabda Tuhan yang sesungguhnya. Sungguh-sungguh sulit untuk membedakannya. Apalagi manusia begitu mudah termakan oleh propaganda yang menyesatkan sehingga apa yang salah dianggap benar sedangkan yang benar justru dikira palsu. Apa pegangan manusia dalam situasi seperti ini? Tanpa agama universal maka tidak ada kepastian jalan kebenaran dan jurang menuju kesesatan akan terbuka lebar.

Butuh karunia dan rahmat khusus untuk bisa mengetahui mana sabda Tuhan yang benar dan mana yang bukan. Sama seperti Tuhan di jaman dulu telah memberikan karunia khusus ini kepada para nabi yang dipilihNya dan tidak kepada semua orang, Tuhan sampai sekarang juga mempercayakan rahmat dan karunia khusus ini kepada agama universal yang dibangun dengan tanganNya sendiri, bukan kepada yang lain. Adanya agama universal memberikan kepastian sabda Tuhan yang benar dan otentik. Cukup dengan percaya pada apa yang diajarkan agama universal, engkau sudah terhindar dari kesesatan dan engkau sudah mendengarkan sabda Tuhan yang membawa kebenaran dan menyelamatkan. Tidak perlu ada keraguan lagi.

Sekarang bagimu sudah cukup jelas bahwa sabda Tuhan yang otentik dipercayakan pada agama universal. Ada dua hal yang penting yang akan engkau dapatkan melalui agama universal. Yang pertama terdapat jaminan bahwa seluruh sabda Tuhan yang perlu bagi keselamatan manusia sudah tersedia seluruhnya di dalam agama universal. Yang kedua, terdapat jaminan bahwa seluruh ajaran yang ada di dalamnya terbebas dari kesesatan. Ini semua dimungkinkan karena Tuhan sendirilah yang membentuk agama universal ini. Kedua hal penting ini, kebenaran yang penuh dan bebas dari kesesatan, tidak mungkin ada dalam agama lain. Jadi sekalipun ada kebenaran dan kebaikan di dalam agama lain, kebenaran tersebut tidak penuh dan juga tidak bebas dari kekeliruan. Extra ecclesiam nulla salus – Tuhan tidak memberikan jalan keselamatan lain selain yang telah diberikanNya melalui agama universal!

Satu Kawanan Satu Gembala (4): Manusia Dan Citra Tuhan

Oktober 2, 2009 at 7:41 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
(Kej. 1:26-27)

—————-

Agama Dan Kesempurnaan

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang agama universal ini, aku ingin mengajak kalian merenungkan lagi mengapa Tuhan menciptakan agama universal. Agama diciptakan tentu agar dapat membawa manusia menuju kebenaran dan menjadikan manusia menjadi lebih baik. Kalau manusia sudah berada dalam keadaan baik, untuk apa lagi Tuhan menciptakan agama?

Jadi adanya agama mengandaikan bahwa manusia berada dalam keadaan tidak mengenal kebenaran dan dalam kondisi yang tidak baik. Keadaan ini tidak dikehendaki Tuhan sehingga Dia menciptakan agama universal untuk membawa manusia pada kebenaranNya dan menjadikan manusia lebih baik dari sebelumnya. Jika agama universal adalah jalan terbaik yang telah disediakan Tuhan sendiri, maka tentunya jalan tersebut dapat membawa manusia pada kondisi terbaik yang mungkin ada pada manusia. Dan kondisi terbaik yang mungkin pada manusia adalah menjadi manusia sempurna, tidak ada lagi kondisi yang lebih baik dari itu. Jadi agama universal adalah jalan terbaik yang dapat membawa manusia pada kesempurnaan.

Tapi masalahnya ada banyak ukuran sempurna. Jika engkau tanyakan pada 10 orang mungkin akan ada 10 ukuran sempurna yang berbeda-beda. Tidak heran jika ada banyak agama yang menawarkan manusia untuk sampai pada kesempurnaan tapi pada akhirnya jatuh pada ukuran sempurna yang relatif. Bahkan ada yang bilang tidak ada ciptaan yang sempurna, termasuk manusia. Bagiku ini sebuah penghinaan terhadap Tuhan karena sama saja dengan mengatakan Tuhan tidak mampu menciptakan mahluk yang sempurna! Dimanakah kesempurnaan dan kemahakuasaan Tuhan kalau begitu? Tentunya Tuhan mampu menciptakan manusia yang sempurna.

Sebenarnya hanya ada satu ukuran sempurna yang mutlak, yaitu sempurna seperti Tuhan sendiri. Adakah yang akan membantah perkataanku ini dan memberikan alternatif yang lebih baik? Tak ada yang lebih sempurna dari pada Tuhan maka dari itu bagi manusia tak ada yang lebih baik dari pada menjadi seperti Tuhan sendiri. Tuhan adalah ukuran sempurna yang mutlak.

Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal bagi manusia bukan sekedar membuat manusia menjadi lebih baik tapi lebih dari itu. Yaitu manusia bisa menjadi sempurna seperti Dia sendiri adalah sempurna. Ini harus engkau ingat baik-baik karena akan menjadi salah satu unsur pembeda penting yang memisahkan agama universal dengan agama-agama lainnya.

Engkau akan melihat bahwa panggilan untuk menjadi sempurna seperti Tuhan ini ada dalam Injil:

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
(Mat. 5:48)

Aku belum melihat tuntutan se-ekstrim ini di agama-agama lain. Mungkin tuntutan untuk menjadi sempurna ada di agama lain, tapi sempurna yang seperti apa? Tuntutan menjadi sempurna seperti Tuhan hanya ada di dalam Injil.

Kesempurnaan Sebagai Jati Diri Manusia

Dari apa yang telah aku pelajari dari agama Katolik aku mengetahui bahwa kondisi sempurna ini bukan suatu kondisi yang baru sama sekali. Kondisi inilah yang justru pada mulanya ada pada manusia. Dalam pemahaman iman Katolik, manusia adalah puncak karya penciptaan Tuhan. Setelah menciptakan manusia, Tuhan merasa puas dan merayakannya dengan beristirahat. Dan karya terbaik yang mampu dihasilkan oleh Tuhan adalah membuat ciptaan yang serupa dengan diriNya sendiri, yaitu manusia yang diciptakan sempurna sesuai dengan citraNya.

Demikianlah, Adam dan Hawa yang kisahnya tertulis dalam Kitab Suci adalah gambaran metaforis manusia awal sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dan hidup dalam kondisi ideal. Namun sayang sekali karena ketidaktaatan dan penyalahgunaan kehendak bebas, manusia pertama ini telah kehilangan kondisinya yang sempurna sebagai citra Tuhan dan untuk selanjutnya hidup dalam penderitaan selama turun-temurun. Ketidaktaatan manusia pertama dan hilangnya hidup manusia sebagai citra Tuhan adalah dosa asal yang suatu saat harus dipulihkan kembali.

Saat Tuhan kehilangan ciptaan terunggulNya, manusia berusaha lari dan sembunyi tapi Tuhan justru mencarinya, “Dimanakah engkau?” Dengan demikian Tuhan yang merasakan kehilangan dan berinisiatif mencari manusia. Dia ingin memulihkan kondisi manusia kembali menjadi sempurna sebagai citraNya.

Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kesempurnaannya, manusia memang harus diusir dari Taman Eden. Manusia sudah tidak layak lagi hidup bersama Tuhan. Ini bukan berarti Tuhan membenci manusia karena bersamaan dengan itu Tuhan sendiri menyiapkan suatu rencana penyelamatan yang akan membuat manusia kembali menemukan martabatnya sebagai citra-Nya. Tuhan ingin manusia kembali lagi kepadaNya sebagai anak-anakNya yang sempurna, bukan sebagai hamba dosa.

Telah kukatakan tadi bahwa setelah manusia terpisah dari Tuhan, bukan manusia yang ingin kembali pada Tuhan tapi sebaliknya justru Tuhanlah yang mencari manusia. Sekalipun manusia sudah jatuh kedalam tipu daya Iblis, Tuhan tahu bahwa ciptaanNya tidak sepenuhnya gagal dan kejatuhan ini bisa dipulihkan dengan suatu rencana keselamatan. Dan soal rencana keselamatan itu, Tuhan tidak peduli harganya, berapapun biayanya Tuhan siap melaksanakannya karena manusia adalah ciptaan yang begitu berharga dimataNya. Jadi rencana keselamatan adalah inisiatif yang berasal dari Tuhan sendiri.

Karya Keselamatan – Karya Cinta Tuhan

Kalian mungkin masih ingat sewaktu kalian kecil dulu aku membelikan kalian beberapa ekor kelinci yang lucu. Kalian senang sekali dengan kelinci-kelinci itu dan setiap hari aku mengeluarkannya dari kandang supaya kalian bisa bermain-main dengan kelinci-kelinci itu. Suatu saat salah satu kelinci itu lepas dari kandang dan hilang entah kemana, kalian sedih dan aku beserta ibumu mencari-cari kelinci kecil itu semalaman sampai akhirnya ketemu. Kelinci itu cuma binatang yang harganya hanya puluhan ribu seekor dan aku sebenarnya bisa membelinya lagi, tapi toh kita semua terlanjur sayang dan kehilangannya membuat kita mau bersusah payah mencarinya sampai ketemu. Maka dari itu kita juga bisa memahami betapa besar rasa kehilangan Tuhan saat manusia ciptaanNya yang begitu dikasihi jatuh ke dalam dosa dan kehilangan martabatnya oleh tipu daya iblis. Dan bagaimana Tuhan sendiri juga akan melakukan apapun yang mungkin untuk dapat menyelamatkan manusia kembali.

Dengan demikian inilah yang menurutku menjadi alasan mengapa Tuhan membangun sebuah agama universal untuk manusia: Tuhan ingin memulihkan martabat manusia agar kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Ini dilakukanNya supaya manusia layak hidup bersama-sama dengan Tuhan dalam cinta kasih yang maha membahagiakan.

Jadi bisa disimpulkan bahwa agama universal ini adalah rencana keselamatan yang telah dirancang sendiri oleh Tuhan sejak kejatuhan Adam. Dan dalam ajaran Katolik, harga dari rencana keselamatan ini sungguh tidak terbayangkan besarnya: Tuhan sendiri rela mati di kayu salib untuk memulihkan martabat manusia. Engkau bayangkan nak, harga sebesar itu untuk menebus manusia-manusia durhaka seperti kita ini sungguh tidak masuk di akal kecuali dipahami dengan alasan ini: begitu besar kasih Tuhan kepada manusia sehingga Dia sendiri mau menyerahkan nyawaNya di kayu salib untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia, agar manusia kembali memperoleh martabatnya sebagai citra Tuhan dan hidup dalam kemuliaan surgawi bersamaNya.

Sejauh ini aku telah menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan agama dan apa tujuan Tuhan menciptakan agama. Sekarang coba engkau selidiki hal tersebut pada agama-agama lain. Telah kukatakan bahwa Tuhan menciptakan agama karena Dia begitu mencintai manusia dan ingin menyelamatkannya dari kejatuhan akibat dosa. Tuhan menciptakan agama universal karena cinta. Selidiki adakah alasan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain?

Juga kukatakan bahwa tujuan agama adalah memulihkan martabat manusia untuk kembali menjadi sempurna sebagai citra Tuhan. Selidiki adakah tujuan yang lebih baik dari ini dalam agama-agama lain? Aku sendiri terus terang belum sanggup menemukannya.

Satu Kawanan Satu Gembala (3): Jalan-Jalan Menuju Tuhan

Oktober 2, 2009 at 7:39 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.
(Mat. 7:13-14)

——————–

Ada Banyak Tawaran Jalan

Anakku, memilih jalan yang benar di antara sekian banyak jalan yang ada di hadapan kalian bukan perkara mudah. Adalah sebuah kenyataan yang harus kalian terima bahwa kalian hidup dalam masyarakat yang plural dengan agamanya yang beragam. Dan kalau kalian mengamati dengan baik agama-agama yang berbeda tersebut, kalian akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan aku: semua agama mengajarkan kebaikan.

Tapi apakah dengan demikian semua agama sama saja? Apakah semua agama mengajarkan kebaikan-kebaikan yang sama dan mengarahkan manusia pada tujuan yang sama? Atau lebih jauh lagi apakah semua agama yang beragam itu berasal dari Tuhan yang satu dan sama?

Mungkin ada banyak orang yang terpancing menjawab pertanyaan ini dengan jawaban penuh basa-basi dan semangat toleransi: semua agama sama baiknya, semua agama berasal dari Tuhan atau semua agama sama-sama mengarahkan manusia pada Tuhan. Ada yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama-agama yang berbeda itu seperti orang-orang buta yang sedang memegang bagian-bagian yang berbeda dari seekor gajah dan berusaha menjelaskan apa itu gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya. Ada juga yang mengambil perumpamaan seolah-olah agama itu hanyalah jalan yang berbeda-beda yang sebenarnya mengarahkan manusia pada tujuan yang sama. Dan ada banyak lagi jawaban basa-basi lainnya yang kira-kira serupa.

Jawaban semacam ini tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sehat. Bagaimana mungkin dua agama atau lebih yang saling bertentangan bisa sama-sama benar? Aku akan mengambil contoh yang ekstrim: orang Katolik (dan juga Kristen pada umumnya) percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi Islam menolak keras Yesus sebagai Tuhan. Bisakah kedua ajaran tersebut sama-sama benar? Salah satunya sudah pasti salah. Ada jawaban yang mencoba jalan tengah dengan mengatakan bahwa pemakaian atribut Tuhan pada pribadi Yesus hanyalah sekedar simbol dan tidak berarti Tuhan yang sesungguhnya. Tapi aku akan mengatakan sebagai seorang Katolik bahwa Yesus memang benar diyakini sebagai Tuhan dalam arti kata yang sesungguhnya dalam iman Katolik, tidak pernah kurang dari itu. Jadi menurutku ini kenyataan pahit yang harus diterima: salah satu dari kedua agama itu pasti salah.

Meskipun demikian jawaban basa-basi yang mencoba mengkompromikan keduanya harus dimengerti sebagai upaya untuk menjaga kerukunan umat beragama dan untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda agama. Maklumlah, bangsa kita bukanlah bangsa yang rasional dan mampu menerima kelemahan dengan kepala dingin. Apalagi dalam hal yang sangat sensitif seperti agama. Bisa kalian bayangkan apa yang terjadi kalau di negara kita ini agama seseorang dikatakan sebagai agama yang keliru dan tidak berasal dari Tuhan?

Agama Memang Tidak Sama

Sebaliknya, aku tidak akan memberikan jawaban basa-basi semacam itu yang hanya akan membuat kalian bingung untuk memutuskan jalan kebenaran yang harus kalian pilih. Sekiranya aku harus memilih sikap, aku lebih takut menyesatkan kalian dari pada menyinggung perasaan orang lain. Membimbing kalian menuju kebenaran adalah tugas suci yang aku terima dari Tuhan sebagai orang tua, dan aku lebih takut kepada Tuhan dari pada kepada manusia.

Pada kenyataannya cepat atau lambat aku harus memilih tetap berbasa-basi pada manusia atau bersikap tegas demi kebenaran Tuhan. Dan sekarang aku memutuskan untuk bersikap tegas demi kebenaran, aku akan menjawab pertanyaan di atas: tidak semua agama sama baiknya. Sekalipun kebaikan dan ajaran-ajaran yang ada dalam semua agama memang berasal dari Tuhan yang satu tapi tidak semua agama tersebut dirancang dan diciptakan Tuhan bagi manusia. Bahkan aku akan mengatakan yang lebih ekstrim lagi: Tuhan hanya menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih. Tuhan di berbagai jaman telah memilih dan mengutus banyak nabi serta orang-orang pilihan untuk mengajarkan manusia jalan kebenaranNya. Bagiku itu adalah bagian dari sebuah proses yang dilakukan Tuhan dalam menciptakan satu agama untuk manusia, tidak lebih.

Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya hanyalah ciptaan manusia sebagai ungkapan kerinduan kepada Tuhan, oleh karenanya tidak ada satupun agama yang bisa merasa berhak sebagai agama yang paling benar bagi manusa. Jika agama itu ciptaan manusia, siapakah yang bisa melarang kita untuk menciptakan agama baru bagi diri kita sendiri? Tidak ada! Konsekuensinya tidak ada nilai-nilai absolut, semua kebenaran akan bersifat relatif. Semua orang akan menciptakan kebenaran sesuai keinginan dan ukurannya sendiri.

Satu Agama Untuk Semua

Jadi hanya mungkin ada agama yang layak ditaati manusia kalau agama itu memang ciptaan Tuhan. Tapi apakah Tuhan menciptakan hanya satu agama? Mengapa Dia tidak menciptakan agama yang berbeda-beda untuk manusia yang berbeda-beda budayanya?

Memang betul manusia berbeda-beda kebudayaan dan tradisinya, tapi apakah Tuhan juga harus menciptakan lebih dari satu agama yang berbeda satu sama lain? Bagi Tuhan perbedaan budaya dan tradisi tidak mengubah kenyataan bahwa kesemuanya itu adalah satu umat manusia yang sama. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan ras dan budaya, Tuhan sama sekali tidak rasialis! Bagi Tuhan semua manusia adalah satu umat.

Jika demikian tidak mampukah Tuhan menciptakan hanya satu agama untuk seluruh manusia yang satu itu? Atau adakah manusia yang berani menganggap Tuhan tidak mampu menciptakan satu agama yang dapat berlaku secara universal untuk semua manusia? Tentu jawabannya Tuhan pasti mampu menciptakan satu agama universal semacam itu. Memang ada orang yang dalam semangat pluralisnya mengatakan demikian: Tuhan tidak cukup dimengerti hanya melalui satu agama. Itu benar jika agama yang dimaksud adalah agama-agama ciptaan manusia. Tetapi untuk agama universal yang diciptakan Tuhan tentu pandangan itu tidak berlaku. Agama universal ciptaan Tuhan pasti sanggup memberikan semua kebenaran yang dibutuhkan manusia untuk mengenal dan mencintai Tuhan.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul, mengapa Tuhan tidak menciptakan dua atau tiga agama yang berbeda yang sama benarnya dan sama baiknya? Mengapa Tuhan hanya menciptakan satu agama?

Sebelum engkau menjawabnya tanyalah pada dirimu sendiri adakah sebuah negara di dunia ini yang diatur oleh dua atau lebih undang-undang dasar? Tentu saja tidak, dua undang-undang dasar yang berbeda dalam satu negara hanya akan membuat keadaan menjadi kacau dan memunculkan pertentangan yang tidak ada habisnya. Adakah kapal yang dipimpin oleh dua nahkoda atau lebih? Tentu tidak ada, karena kalau ada kapal semacam itu tentu tidak pernah sampai ke tujuan atau akan tenggelam di tengah lautan karena pertentangan diantara awaknya. Demikian juga jika Tuhan melihat manusia sebagai satu umat, tentunya Dia akan memberikan satu hukum yang sama untuk semua orang, bukan dua atau lebih yang hanya akan membawa perpecahan abadi.

Coba engkau bayangkan apa jadinya jika Tuhan menciptakan satu agama untuk orang Jawa, satu agama untuk orang Arab, satu agama untuk orang Cina, dan masing-masing satu agama untuk bangsa-bangsa lain?

Pada masa lalu dimana bangsa-bangsa merupakan komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain ide semacam ini tampak baik. Tapi menjadi tidak memadai lagi jika komunitas manusia cenderung menjadi satu dan tidak lagi terpisah-pisah dalam wilayah geografis atau komunitas-komunitas etnis seperti yang sekarang terjadi dalam era globalisasi. Aku yakin tentu saja Tuhan sudah memperhitungkan kemungkinan semakin bersatunya manusia menjadi satu komunitas global.

Agama-agama yang berbeda itu, yang dalam banyak hal memiliki perbedaan yang mendasar (seperti contoh soal ketuhanan Yesus itu tadi) hanya akan menghalangi manusia untuk percaya akan adanya kebenaran mutlak. Semua kebenaran menjadi relatif dan subyektif. Karena kebenaran mutlak menjadi mustahil, maka juga berarti tidak ada Tuhan. Dari alasan ini saja engkau mengetahui bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan banyak agama karena hal itu hanya akan menjauhkan manusia dari kebenaran. Jadi kesimpulannya jelas, Tuhan memang menghendaki satu agama universal yang akan menjadi jalan kebenaran mutlak bagi seluruh manusia.

Dengan memahami ini kalian menjadi tahu bahwa dari sekian banyak agama yang ada sekarang ini memang hanya ada satu agama yang layak menjadi agama kalian dan Tuhan menghendaki kalian memilih agama itu, yaitu agama yang telah diciptakanNya sendiri bagi manusia.

Lalu bagaimana dengan agama-agama lainnya? Bukankah ada banyak orang yang sungguh-sungguh tulus dan baik yang berasal dari agama-agama tersebut?

Anakku, aku tidak pernah mengatakan bahwa agama-agama lain adalah agama yang sepenuhnya buruk dan tidak mengandung ajaran kebenaran. Aku sungguh menaruh hormat pada agama-agama itu karena bagamanapun agama-agama itu telah menjadi penerang bagi sebagian manusia yang dengan tulus berusaha mencari Tuhan dan kebenaranNya.

Dalam kenyataannya agama-agama tersebut dalam batas-batas tertentu juga mengajarkan kebenaran dan membawa manusia menjadi lebih baik. Tapi dengan sangat menyesal aku harus mengatakan bahwa agama-agama tersebut tidak mampu mengajarkan kebenaran dan kebaikan pada tingkat yang sama dengan agama yang diciptakan Tuhan bagi manusia, yakni agama universal yang aku maksudkan. Logikanya sederhana saja: tidak mungkin yang bukan Tuhan mampu menyamai atau bahkan melebihi karya Tuhan sendiri. Jadi engkau tidak perlu ragu untuk memilih agama universal dan melepaskan yang lain.

Kalian mungkin akan bertanya: lalu dari manakah kebaikan dan kebenaran yang ada pada agama-agama itu berasal? Sumbernya banyak, dan langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Bukankah Tuhan itu sumber segala kebaikan dan kebenaran?

Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan hati nurani yang memiliki bibit kebaikan dan kerinduan akan kebenaran. Dari orang-orang yang sungguh tulus mencari kebenaran dan melakukan kebaikan ini agama-agama yang muncul dalam berbagai tradisi dan bangsa mendapatkan ajaran kebenarannya. Sementara itu beberapa agama lainnya memperoleh ajaran kebenaran dan kebaikan dengan jalan mencomot sebagian ajaran-ajaran yang sudah ada dalam agama ciptaan Tuhan.

Baik kebenaran yang muncul dari hati nurani orang-orang suci maupun kebenaran yang ditiru dari agama Tuhan, semuanya langsung atau tidak langsung memang berasal dari Tuhan juga. Pada suatu bangsa, yang entah karena jaman atau karena terpisah secara geografis belum mengenal agama Tuhan, agama-agama ini juga bisa menjadi sarana untuk mengarahkan manusia pada kebenaran meski belum sempurna. Aku percaya, menurut kebijaksanaan-Nya sendiri Tuhan juga menggunakan agama-agama buatan manusia ini untuk mengarahkan manusia kepada-Nya. Seperti kata pepatah: tidak ada rotan, akarpun berguna.

Aku ingin mengumpamakan ini seperti air yang sama tapi diambil dari tempat yang berbeda-beda, ada yang mengambilnya dari mata air yang jernih, tapi ada juga yang mengambil dari sungai atau tempat lain yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni lagi. Agama universal ini seperti mata air yang dipersiapkan oleh Tuhan supaya manusia bisa mengambil air yang jernih dan berlimpah yang tidak pernah habis. Sedangkan agama-agama lain seperti sungai-sungai atau danau-danau kecil yang sedikit banyak sudah tercemar dan tidak murni seperti halnya mata air tadi. Kalau engkau belum bisa menemukan mata air itu, tentu mengambil air dari sungai atau danau juga tidak apa-apa asalkan engkau memasaknya lebih dulu supaya kuman-kumannya hilang. Tapi jika engkau sudah menemukan mata air yang jernih yang dipersiapkan Tuhan sendiri, untuk apa lagi mengambil dari sungai atau danau? Jika engkau tetap mengambil air di tempat lain bisa jadi engkau justru mengecewakan dan menyakiti hati Tuhan yang telah dengan susah payah menyiapkan sumber mata air murni.

Membedakan Agama Universal Dengan Yang Lain

Baiklah kita sudah sampai pada kesimpulan penting ini: Tuhan hanya menciptakan satu agama universal untuk seluruh manusia, tidak lebih. Sekarang bagaimanakah kita bisa mengetahui yang mana agama universal ciptaan Tuhan diantara sekian banyak agama yang mengaku sebagai agama yang berasal dari Tuhan? Adakah ciri khusus yang bisa membuat kita mampu membedakan agama universal ini dengan agama-agama lainnya?

Jika kalian percaya bahwa karya Tuhan jauh melampaui karya-karya manusia, maka agama universal ini tentunya memiliki keunggulan yang jauh melampaui agama lainnya. Keunggulan itu menjadi mutlak dan tak terbantahkan lagi apabila di dalam agama universal itu terdapat unsur-unsur yang hanya mungkin dibuat oleh Tuhan sendiri.

Untuk apa Tuhan menciptakan agama universal kalau manusia sendiri sudah mampu menciptakan agama yang setara dengan itu? Dengan demikian Tuhan menciptakan agama universal karena manusia memang tidak mampu menciptakan agama yang semacam itu. Dengan kata lain dalam agama universal itu pasti terdapat unsur-unsur yang tidak mungkin dapat dibuat oleh tangan manusia tidak peduli seberapa hebatnyapun manusia itu.

Jadi inilah kesimpulanku: agama universal selain memiliki keunggulan yang melampaui agama-agama lainnya pasti memiliki unsur-unsur yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, tidak peduli seberapapun kerasnya usaha manusia dan sampai kapanpun manusia mencobanya. Dengan demikian ada landasan obyektif untuk memilih manakah agama universal itu diantara sekian banyak agama yang ada. Ini adalah salah satu kunci penting untuk menemukan agama universal ciptaan Tuhan.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku berangkat dari sikap yang sepenuhnya netral seolah-olah saat ini aku tidak memeluk agama apapun. Dalam perjalanan hidupku aku telah berkesempatan mempelajari dan menjalani berbagai ajaran agama sampai akhirnya aku menemukan agama universal itu, yaitu Katolik. Kebetulan dari namanyapun Katolik sudah berarti universal. Aku tidak memilihnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan subyektif saja, tapi juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif. Antara lain konsep-konsep ajarannya yang melampaui agama manapun juga, dan dalam agama Katolik terdapat elemen-elemen mendasar yang sangat kokoh yang tidak mungkin dapat dibuat oleh manusia. Ini yang membuatnya unggul jauh melampaui agama-agama lain yang tidak diciptakan Tuhan. Aku akan berupaya menjelaskan ini semua kepadamu, selain untuk membantumu memilih agama yang benar juga sebagai bagian dari pertanggungjawaban imanku sendiri.

Satu Kawanan Satu Gembala (2): Naiklah Keatas

Oktober 2, 2009 at 7:20 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.
(Ul. 34:1-3)

———————–

Aku akan mulai dengan cerita sederhana ini.

Ada dua anak yang sedang mencari jalan pulang ke rumahnya. Di tengah hutan mereka tersesat dan bingung dengan banyaknya pilihan jalan. Mereka berpikir semua jalan-jalan itu tentunya akan membawa mereka pergi dari tempat itu, tapi apakah jalan tersebut akan membawa mereka pulang? Belum tentu! Merekapun kebingungan dan mulai menangis tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Beberapa saat kemudian kakaknya mulai dapat menguasai diri dan berpikir dengan jernih.

“Adikku, jangan menangis. Kita tidak mungkin sampai di rumah kalau engkau terus menangis seperti ini. Ayo kita naik ke atas pohon yang tinggi, supaya kita bisa melihat jalan mana yang bisa membawa kita pulang ke rumah.”

Mulailah mereka naik ke pohon yang tinggi. Semakin tinggi mereka naik, semakin jelas ke arah mana jalan-jalan tersebut akan membawa mereka. Ada jalan yang hanya berputar-putar di sekitar hutan, ada jalan yang menuju hutan lain, ada juga jalan yang tampaknya mengarah ke rumah mereka tapi sesungguhnya justru membawa mereka menjauh dari rumah. Setelah mengamati semuanya dengan seksama akhirnya mereka menemukan sebuah jalan yang bisa membawa mereka pulang ke rumah. Merekapun turun dan mengikuti jalan tersebut hingga akhirnya sampai di rumah dengan selamat.

Begitulah anakku, dulu manakala manusia masih terkotak-kotak pada komunitasnya sendiri seorang anak tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti agama orang tua atau masyarakat sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu engkau tidak akan disalahkan sepenuhnya jika mengikuti agama yang kurang baik karena memang hanya itu jalan terbaik yang tersedia. Tapi sekarang tidak demikian lagi, engkau dihadapkan pada banyak pilihan agama yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran. Bukan hanya kalian tapi ada begitu banyak orang di seluruh dunia ini yang berada dalam kebingungan untuk memilih jalan kebenaran di tengah begitu banyaknya pilihan agama-agama yang ada.

Ada yang memilih jalan berdasarkan dorongan hatinya dan pertimbangan-pertimbangan yang sederhana seperti keuntungan-keuntungan ekonomis maupun politis, ada juga yang sekedar mengikuti apa yang dipilih oleh orang tua, teman hidup, atau lingkungannya. Cara demikian sangat besar resikonya dan sungguh-sungguh tidak bertanggungjawab. Tak ada jaminan agama yang menarik dan semarak adalah agama yang benar. Tak ada jaminan agama yang memberikan keuntungan-keuntungan duniawi adalah agama yang benar. Dan tak ada jaminan agama yang diikuti orang-orang yang terdekat dengan kita atau agama yang secara tradisi diikuti keluarga kita secara turun-temurun adalah agama yang benar.

Aku mengharapkan kalian bertindak seperti kedua anak yang tersesat itu: naiklah ke atas dan lihatlah jalan mana yang akan membawamu pulang. Yang kumaksudkan dengan naik ke atas adalah kalian harus membebaskan diri dari sikap-sikap subyektif, pandangan-pandangan sempit, tradisi-tradisi yang keliru dan tawaran-tawaran kebenaran palsu. Selanjutnya kalian harus mulai menggunakan akal budi dan hati nurani supaya kalian dapat melihat dengan lebih jelas kemana agama-agama itu akan mengarahkan jiwamu dan agama mana yang akan mengarahkanmu pada kebenaran yang sesungguhnya. Hanya dengan cara naik ke atas engkau dapat melihat kebenaran sejati.

Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani kalian akan melihat bahwa semua agama memang mengajarkan kebaikan, tapi sesungguhnya kebaikan yang diajarkan sekian banyak agama yang berbeda-beda itu tidak sama. Engkau akan melihatnya kalau engkau mau naik ke atas. Ini seperti cerita di atas, semua jalan memang akan membawa kedua anak pergi dari tempat itu, tapi tidak semua jalan dapat mengarahkan anak-anak itu pulang. Melalui akal budi dan nurani, kalian akan mengetahui ke arah mana tujuan perjalanan hidupmu yang sesungguhnya, dan jalan mana yang akan membawa kalian ke tujuan itu. Sekarang aku akan mencoba mengajak kalian naik ke atas untuk melihat jalan mana yang membawa kalian sampai ke tempat tujuan. Semoga kalian dapat melihat jalan itu dan selanjutnya kalian berani mengambil keputusan untuk mengikutinya sampai ke tujuan.

Satu Kawanan Satu Gembala (1): Untuk Anak-Anakku

Oktober 2, 2009 at 7:17 pm | In Pencarian Kebenaran | Leave a Comment
Tags: , ,

Anak-anakku, kalian adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Sama seperti kata-kata para bijak, kalian bukanlah milikku ataupun milik kami orang tuamu. Kalian adalah pribadi-pribadi bebas ciptaan Tuhan yang dipercayakan pada kami.

Adalah sebuah kebahagiaan dan kegembiraan bagi kami karena telah dipercaya Tuhan untuk menjadi sarana kehadiran kalian di dunia. Tapi bersama dengan itu di dalamnya terkandung suatu tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus suci, yaitu membimbing dan membesarkan kalian sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.

Di antara sekian banyak tugas dan kewajiban kami dalam membesarkan kalian, bagiku salah satu yang terpenting dan terluhur adalah ini: mengarahkan kalian ke dalam jalan Tuhan supaya kalian dapat menapaki jalan yang telah dipersiapkanNya untuk menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kehendakNya.

Ini bukan tugas yang ringan, tapi sebaliknya sangat berat dan menuntut seluruh kemampuan terbaik yang aku miliki. Tugas ini sungguh berat karena kalian hidup dalam masyarakat yang plural dimana ada banyak jalan yang memproklamirkan diri sebagai jalan Tuhan yang benar sehingga kebenaran sejati semakin sulit ditemukan.

Dan yang lebih berat lagi karena kalian dibesarkan dalam dua tradisi iman yang berbeda. Ibumu, sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mengikuti agama Islam sebagai jalan hidupnya. Sebaliknya aku ayahmu, sekalipun dulu sedikit-banyak pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim serta pernah mengikuti berbagai ajaran agama dan kepercayaan, sekarang telah menetapkan pilihan menjadi seorang Katolik.

Memang hidup dalam kondisi demikian membuat kalian sulit untuk menentukan pilihan agama. Tapi menurutku hal tersebut justru memiliki keuntungan tersendiri karena kalian dituntut memiliki kesadaran untuk memilih agama secara bertanggungjawab, bukan mengikuti tradisi yang belum tentu benar.

Kalian tentu tidak akan memilih Katolik hanya karena ingin mengikuti agama ayahmu, sikap itu akan melukai ibumu yang telah melahirkan kalian dengan susah payah dan mencintai kalian lebih dari dirinya sendiri. Atau kalian juga tidak akan memilih Islam hanya karena ingin mengikuti ibumu, sikap tersebut tentunya akan mengecewakan dan melukai ayahmu yang juga menyayangi kalian sama besarnya dengan yang dilakukan ibumu.

Kalianpun jangan memilih agama karena agama tersebut sudah diikuti oleh nenek-moyang kalian. Ibumu, ayahmu, bahkan nenek-moyangmu belum tentu benar dalam memilih agama. Jangan sampai kesalahan mereka kalian ikuti dan kalian telan butal-bulat begitu saja. Demi kebenaran, kalian berhak untuk mengambil pilihan yang berbeda dengan siapapun. Kalian punya kebebasan yang suci untuk memilih kebenaran sejati.

Juga hendaknya kalian tidak memilih agama hanya karena agama tersebut cocok atau sesuai dengan selera kalian. Agama bukanlah pakaian yang bisa kalian pilih berdasarkan unsur suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Sewaktu kalian bersekolah, mungkin jajanan yang penuh warna-warni dengan aneka rasa nikmat yang ditawarkan penjual makanan di luar sekolah lebih menarik selera dibanding bekal makanan yang sehat yang telah dipersiapkan ibumu dari rumah. Tapi kemungkinan besar jajanan itu bukanlah makanan yang sehat dan tidak selayaknya kalian makan. Demikian juga dalam memilih agama, jangan kalian memilihnya hanya karena alasan-alasan subyektif (suka tidak suka, cocok tidak cocok, senang tidak senang) karena dengan begitu kalian telah mengabaikan akal budi dan hati nurani yang telah diberikan Tuhan sebagai bekal untuk mencari dan menemukan kebenaran. Perlu kalian ketahui, dalam banyak hal jalan kebenaran sejati justru jauh tidak menarik dan lebih sempit dibanding kebenaran palsu.

Sebaliknya kalian dituntut untuk memilih suatu agama berdasarkan pertimbangan seluruh akal budi dan hati nuranimu yang terdalam bahwa agama tersebut memang benar dan sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Jika hal tersebut adalah alasannya, apapun pilihannya maka aku maupun ibumu tidak punya alasan untuk kecewa dan sakit hati oleh karena anaknya telah menemukan jalan kebenaran.

Sebagai ayahmu aku tidak akan membiarkan kalian mencari jalan kebenaran itu sendirian tanpa arah dan terombang-ambing diantara sekian banyak pilihan. Dan sebagai ujud dari tanggungjawabku untuk membimbing kalian, pada tulisan sederhana ini aku akan menuangkan apa yang kuketahui berdasarkan anugerah dan hikmat pengertian yang telah diberikan Tuhan kepadaku selama ini. Inilah bagian terbaik dari hidupku dan akan kuberikan kepada kalian dengan tujuan agar kalian dapat menemukan jalan kebenaran sebagaimana aku percaya akupun telah menemukan jalan kebenaran itu. Mungkin saat kalian membaca ini, kalian masih sangat belia dan belum semuanya dapat kalian pahami isinya. Baca dan pahami apa yang dapat kalian pahami saat ini, dalam perjalanan waktu semoga Tuhan memberi kalian hikmat pengertian yang baik untuk memahami seluruhnya secara bertahap.

Sekalipun demikian aku tidak pernah memaksa kalian menerima begitu saja apa yang kukatakan dalam buku ini, kalian punya hak yang suci untuk berpikir dan menilai berdasarkan akal budi dan hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Tapi dari diriku aku percaya bahwa aku telah berkata dan mengajarkan apa yang benar. Kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku, kalian adalah darah dagingku sendiri dan aku tidak akan pernah menipu atau menyesatkan darah dagingku sendiri.

Penyakit Kronis ISLAM

Juli 12, 2008 at 8:55 am | In Kontra Islam | 4 Comments

Adalah sebuah ironi ketika begitu banyak tindakan-tindakan teror di berbagai belahan dunia dilakukan dengan pembenaran yang mengatasnamakan ISLAM. Terorisme bernuansa islami memang dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi keprihatinan mendalam semua orang beradab. Ikon terorisme Islam di jaman modern yang begitu membekas mungkin adalah tragedi 9/11 (WTC) di New York.

Agama yang seharusnya membawa perdamaian sekarang menjadi sosok yang mengancam perdamaian. Nama Islam, suka atau tidak suka, kini memang erat kaitannya dengan terorisme dan kekerasan. Seandainya dibuat sebuah polling tentang agama yang terkait tindak kekerasan dan terorisme maka saya yakin Islam akan menjadi pemenangnya.

Apakah ini sekedar penafsiran Islam yang keliru atau memang inilah wajah Islam yang sesungguhnya? Tentu saja golongan Islam moderat yang merasa malu dan tercoreng wajahnya selalu mengatakan Islam adalah agama damai yang menentang kekerasan. Tapi kaum jihadis toh terus tumbuh makin banyak dan tetap menafsirkan ajaran Islam sebagai pembenaran tindakan-tindakan teror mereka.

Islam Moderat, Sang ‘PR’

Kesibukan cendekiawan dan ulama Islam moderat yang mencoba meyakinkan dunia tentang wajah Islam yang damai justru menguntungkan kaum jihadis. Sementara dunia berusaha memahami Islam menurut penafsiran moderat, kaum fundamentalis terus menjalankan rencana-rencana terornya tanpa ada satu pihakpun yang bisa menghentikan mereka. Sayangnya kaum cendekiawan dan ulama moderat hanya sibuk berusaha berbicara pada dunia untuk mengubah persepsi dunia tentang Islam, bukannya pada kaum jihadis yang seharusnya mereka ubah cara berpikirnya.

Pada kenyataannya kaum Islam moderat seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholis Majid, Jalaludin Rahmat,dll memang tidak mampu berbuat apa-apa mengatasi masalah ini, mereka tidak punya kekuasaan dan superioritas apapun untuk memaksakan penafsiran Islam moderat pada para jihadis. Apapun penafsiran dan ajaran para kaum moderat, tidak akan pernah didengar oleh kaum jihadis karena mereka sudah punya ulama otoritatif yang menafsirkan Islam sejalan dengan ideologi mereka.

Singkatnya yang dilakukan oleh golongan Islam moderat tidak lebih dari upaya mengubah persepsi orang lain tentang Islam. Para kaum moderat tidak lebih dari petugas PR dalam agama Islam.

Islam Dan Kekerasan

Ironisnya, ajaran yang menganjurkan penggunaan kekerasan itu memang ada di dalam Islam, meski ini memiliki batasan-batasan tertentu. Ajaran-ajaran tersebut bertebaran di Alquran dan Hadis. Apa yang dilakukan cendekiawan dan ulama moderat cuma berusaha mengabaikan ayat-ayat keras ini, atau menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan makna yang bersifat rohani, bukan fisik. Tapi sesungguhnya di dalam Islam tidak ada yang bisa memaksakan penafsiran lembut semacam ini. Bahkan sebagian orang menganggap arti harafiahnya yang keras lebih kuat dari pada penafsiran lembut.

Harus diakui upaya kaum moderat selalu gagal untuk membuat perubahan yang permanen. Mereka hanya mampu mengubah trend pemikiran yang bersifat sementara, dan kemudian Islam akan selalu kembali pada wajah aslinya. Tampaknya kekerasan memang sudah menjadi karakter dasar Islam yang tidak dapat diubah dan ditutupi oleh siapapun.

Bagi kaum jihadis, ayat-ayat pedang lebih mudah diterima apa adanya tanpa perlu penafsiran yang rumit. Dengan cara ini mereka dengan mudah mengakomodasi nafsu-nafsu kekerasan dengan pembenaran ajaran Islam untuk mencapai tujuan, entah politis entah religius. Terlebih lagi ini ditunjang dengan contoh-contoh aplikasi ajaran keras tersebut pada jaman Muhamad, nabi mereka. Penafsiran yang diberikan golongan moderat bagi mereka tidak lebih hanya sebuah alternatif yang sama sekali tidak menarik. Tidak ada kewajiban apapun untuk menerima penafsiran kaum moderat. Setiap upaya kaum moderat akan selalu berakhir sia-sia.

Saya ambil contoh sebuah ayat Alquran:

Q 9:29
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah ataupun kepada Hari Kiamat, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab (Yahudi dan Kristen) kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Islam moderat akan berusaha mengatakan bahwa ayat ini tidak relevan untuk diterapkan pada masa kini karena umat Islam tidak berperang melawan siapapun melainkan bersama-sama dengan umat lain membangun dunia yang damai. Sebuah pandangan yang menyejukkan dan membuat orang percaya bahwa Islam itu membawa damai.

Tapi kaum jihadis dan ulama-ulamanya melihat dunia dengan cara lain, mereka melihat Islam yang sedang dipinggirkan dan menjadi korban ketidakadilan. Oleh karena itu mereka memandang ayat tersebut sebagai perintah Tuhan untuk memerangi negara atau kelompok yang mereka anggap sebagai musuh-musuh Islam. Pandangan inilah yang sedang tumbuh dengan subur sementara dunia masih terbuai oleh penafsiran Islam moderat.

Penafsiran mana yang benar? Tidak ada seorangpun yang bisa menentukannya.Masing-masing golongan mendapat dukungan ulama-ulamanya sendiri.

Relativisme penafsiran memang menjadi masalah pelik bagi Islam. Sambil mengagung-agungkan Islam sebagai agama yang paling sempurna, tidak ada satu pihakpun yang bisa menentukan bagaimana ‘agama yang sempurna’ itu harus ditafsirkan. Semua orang yang entah bagaimana asal mulanya mendapat predikat ulama bisa menafsirkan Islam dengan cara apapun yang mereka inginkan.

Akibatnya ajaran Islam menjadi begitu fleksibel, bisa ditafsirkan untuk tujuan apapun. Termasuk untuk tujuan-tujuan kekerasan yang dibungkus dengan dalih ‘pembelaan terhadap agama’. Dengan demikian dalam Islam akan selalu ada golongan yang memilih melakukan penafsiran yang keras untuk mengakomodasi kepentingan kelompoknya sendiri dan tidak ada satu golonganpun yang bisa mencegahnya.

Membongkar mitos dan menampilkan Islam apa adanya.

Lalu bagaimana solusinya? Islam sudah terlanjur dimitoskan sebagai ajaran yang sempurna, tak ada apapun yang dapat dilakukan manusia untuk mengubah Islam tanpa mengundang protes dan pertentangan. Setiap upaya perubahan Islam akan selalu ditolak. Kaum Islam liberal dan moderat tidak akan pernah bisa menghentikan siapapun yang ingin menafsirkan Islam secara keras. Siapapun di dunia tidak akan bisa mencegah orang menafsirkan ayat-ayat keras guna melakukan tindakan teror yang merusak kedamaian. Adanya unsur kekerasan dalam ajaran Islam dan relativisme penafsiran adalah persoalan dilematis dalam Islam. Ini sebuah penyakit kronis yang tidak mungkin disembuhkan lagi. Ini adalah sebuah kesalahan mendasar yang mungkin tidak disadari pendiri Islam. Dan penyakit itu sekarang mulai menebarkan terornya pada dunia.

Buat saya tidak ada solusi lain selain mengungkapkan Islam apa adanya termasuk memperlihatkan sisi Islam yang keras. Dengan demikian orang akan menyadari wajah Islam yang sesungguhnya dan akan berpikir untuk meninggalkan Islam. Karena Islam dengan segala cacat bawaannya sudah tidak mungin diperbaiki lagi, maka jalan satu-satunya adalah mengajak sebanyak mungkin pengikut Islam yang masih merindukan kedamaian untuk segera meninggalkan Islam. Ini solusi terbaik.

Gambaran Islam yang lembut dan damai dari kaum Islam moderat harus dikritisi dan dianggap sebagai upaya untuk mengelabui manusia dari kenyataan Islam yang sebenarnya. Saya pribadi menyadari betul adanya cacat produk dari agama bernama Islam ini. Oleh karena itu saya tidak pernah bersimpati dengan upaya-upaya para golongan Islam moderat untuk ‘menetralisir’ kondisi Islam yang sesungguhnya. Sama seperti saya tidak pernah bersimpati dengan para juru bicara perusahaan pelaku pembalakan liar ataupun pengacara para koruptor. Sekalipun saya tahu orang-orang Islam moderat semacam Gus Dur atau Nurcholis Madjid mungkin tidak berniat jahat dan mengelabui publik. Mereka hanyalah orang-orang tulus yang terlanjur terjebak sebagai orang Islam dan ingin mencoba menunjukkan sisi baik Islam.

Bagi saya, mitos-mitos yang mengatakan Islam sebagai agama damai harus dibongkar dan kenyataan seperti apa Islam sesungguhnya harus diungkapkan. Biarkan semua orang melihat Islam apa adanya, tanpa polesan apapun. Orang harus disadarkan bahwa Islam memang memiliki kesalahan yang mendasar dalam ajarannya yang sama sekali tidak dapat diperbaiki lagi. Islam adalah agama rusak yang sejak awal tidak layak untuk menjadi agama manusia. Tetapi sekeras dan sekejam apapun ajaran Islam, tidak akan berarti apa-apa lagi bagi dunia kalau sudah tidak ada pengikutnya. Saya percaya pada akhirnya kebenaran akan mengalahkan Islam.

Islam Sebagai ANTITESIS AGAMA (4 – Habis): Deus Vult!

April 5, 2008 at 5:45 am | In Islam Sebagai Antitesis Agama | 10 Comments

Siapakah pendusta itu?
Bukankah dia yang menyangkal
bahwa Yesus adalah Kristus?
Dia itu adalah
antikristus,
yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak.
(1 Yoh. 2:22)


Tulisan ini adalah bagian terakhir dari seri ‘Islam Sebagai Antitesis Agama’. Pada bagian pertama saya menjelaskan bagaimana Islam berupaya mengacaukan rancangan keselamatan yang telah dibangun Tuhan sendiri tanpa terputus dalam bentuk Agama Universal, yang dimulai sejak jaman Abraham hingga hari ini (Paus Benediktus XVI). Lalu pada bagian kedua saya mencoba menunjukkan bagaimana Alquran di hadapan kriteria obyektif bukanlah kitab suci yang berasal dari Tuhan, sebaliknya kehadiran Alquran tidak lebih dari upaya untuk menyesatkan manusia dari Sabda Tuhan yang sesungguhnya. Pada bagian ketiga saya menunjukkan bagaimana Islam sebagai agama gagal menawarkan visi peradaban yang ideal bagi manusia, bahkan dalam banyak hal ajaran-ajaran Islam justru memiliki unsur-unsur yang merusak peradaban.

Tulisan-tulisan ini memang bernuansa anti-islam. Mengapa saya melakukannya? Sebenarnya apa yang saya lakukan kurang lebih memiliki semangat yang sama seperti yang dilakukan oleh St. John of Damascus (676 – 479), atau juga Peter The Venerable (1092 – 1156) dalam tulisan-tulisan mereka tentang Islam. Bagi saya tulisan-tulisan ini bukanlah ekspresi kebencian, sebaliknya ini adalah sebuah ekspresi dari kecintaan saya pada kebenaran. Kalau anda mencintai kebenaran, pada saat yang sama anda juga akan membenci ketidakbenaran atau apapun yang melawan kebenaran (antitesis kebenaran). Tidak mungkin anda mencintai kebenaran tapi bersikap setuju terhadap antitesisnya. Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau agak pengecut!

Agama-Agama Misioner

Sebenarnya diantara semua agama-agama di dunia, kedua agama ini: kristianitas dan Islam, memiliki karakter khas yang sama yaitu agama yang bersifat misioner. Tapi keduanya memiliki doktrin yang berbeda dalam mewujudkan tujuannya.

Doktrin misioner Gereja dijiwai oleh ayat ini:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)

Sementara itu doktrin misioner Islam dijiwai ayat ini:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)

Silahkan cermati kedua ayat tersebut baik-baik… Yang satu mengajak orang untuk mengenal Yesus dan menjadikanNya sebagai teladan hidup, kemudian memberikan sarana keselamatan dalam rupa baptisan. Sedangkan yang satunya memisahkan manusia menjadi dua golongan: ‘beriman’ dan ‘tidak beriman/kafir’, lalu memerintahkan pihak ‘beriman’ untuk memerangi ‘kafir’ sampai mereka tunduk.

Tidak heran jika kedua agama ini memiliki kedua cara yang berbeda juga dalam upaya-upaya misionernya. Hampir empat abad pertama sejarahnya, Gereja perdana mampu menyebarkan ajaran Kristus sepenuhnya tanpa bantuan kekuasaan. Meski abad-abad selanjutnya Gereja juga berkolaborasi dengan kekuasaan, sejarah Gereja perdana menunjukkan bahwa kristianitas punya kemampuan untuk menyebar tanpa bantuan kekuasaan duiniawi. Kekuasaan bukanlah keharusan dalam karya misioner Gereja tetapi sekedar pilihan! Gereja punya kemampuan dialogis dan juga inkulturatif dalam mewujudkan karya misionernya.

Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang tanpa bantuan kekuasaan politik.

Bagi saya salah satu unsur yang membedakan keduanya (selain doktrin-doktrin ajarannya) adalah soal teladan hidup. Bagi Gereja, Yesus Kristus adalah teladan utama dan sempurna yang menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutNya. Sebaliknya bagi Islam teladan terbaik yang tersedia mau tidak mau harus Muhamat. Mengajukan kandidat lain sebagai teladan jelas sebuah pelecehan dan penghujatan. Ironisnya Muhamat memiliki karakter yang kompleks, disamping memiliki perbuatan baik yang mungkin cukup layak diteladani Muhamat juga banyak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menzinahi budak-budak, mengawini anak di bawah umur (6 tahun), membunuh, menjarah, dan banyak lagi.

Karena ketiadaan teladan yang layak maka Islam mau tidak mau harus disebarkan melalui propaganda (dakwah) yang hanya efektif jika didukung oleh kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam (syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik. Tidak percaya? Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!

Invasi Islam: Perang Jihad

Ketika St. John of Damascus menulis tentang Islam, dia melihat Islam hanya sebagai bidaah yang cukup diatasi dengan cara membongkar kekeliruannya. St. John of Damaskus tidak mengira bahwa Islam adalah sebuah agama baru yang sejak awal memang dirancang untuk menentang kristianitas dan peradaban manusia. Memang Islam juga berasal dari keturunan Abraham dan percaya pada nabi-nabi yang ada di Kitab Suci, tapi Islam tidak sungguh-sungguh berasal dari agama Abraham! Islam bukanlah gerakan bidaah penerus arianisme, Islam adalah agama baru yang berbeda!

Sejak awal berdirinya Islam sudah berlumuran darah. Muhamat sendiri memimpin tidak kurang dari 70 operasi peperangan atas nama penyebaran Islam. Dan perang atas nama agama ini tidak berhenti dengan meninggalnya Muhamat. Para pengikutnya dengan setia meneruskan semangat jihad ini untuk melakukan invasi ke luar wilayah Arab. Ini adalah fakta sejarah.

Memanfaatkan kelemahan kekaisaran Romawi Timur akibat konflik internal dan peperangan dengan Persia selama bertahun-tahun, tentara-tentara Islam terus melakukan jihad dengan menginvasi wilayah-wilayah yang pada awalnya merupakan basis kekristenan. Termasuk juga kota suci Yerusalem, ketika patriark Yerusalem St. Sophronios pada tahun 638 terpaksa harus menyerahkan kota suci ini pada penguasaan muslim untuk menghindari bahaya kelaparan dan penghancuran kota. Pada masa inilah Islam menodai kota suci Yerusalem dengan membangun mesjid ‘Dome of Rock’ tepat di tengah-tengah Gunung Bait Allah (Yahweh’s Temple Mount). Tindakan ini oleh St. Sophronios dianggap telah melanggar kesepakatan sebelumnya sehingga dia berteriak-teriak dan meratap, “Sungguh ini sebuah penghujatan dan perusakan yang dinubuatkan oleh Daniel!”

Tidak berhenti di situ saja, Islam terus melancarkan serangan jihadnya untuk menguasai Mesir, Armenia, Afrika Utara, dan provinsi-provinsi kekaisaran Rowawi Timur (Byzantium) . Bahkan pada tahun 711 tentara Islam berhasil memasuki Spanyol. Setidaknya dua per tiga wilayah kekristenan dirampas oleh keganasan jihad Islam. Seandainya Charles Martel dari Perancis tidak berhasil mematahkan serangan tentara Islam dalam pertempuran di Tours pada tahun 732, bukan mustahil seluruh Eropa akan berhasil ditaklukkan. Bahkan kota Roma sendiri juga pernah mendapatkan ancaman tentara jihad, ketika tahun 827 mereka menyerang Sicilia dan Korsika, lalu berlanjut dengan upaya penyerangan di sekitar kota Roma pada tahun 846.

Dari episode beberapa ratus tahun perang jihad ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam memang disebarkan melalui pedang. Muhamat boleh saja tidak berhasil memberikan teladan untuk hidup, tapi dia sangat berhasil memberikan teladan untuk mati: yaitu melancarkan jihad dengan imbalan surga penuh bidadari. Inilah warisan terbesar Muhamat untuk umat manusia: kultur kematian. Dan inilah wajah asli Islam yang sesungguhnya, yang entah mengapa sekarang ingin dihilangkan atau ditutup-tutupi dengan mempropagandakan Islam sebagai agama damai. Damai apanya?

Gereja Menentang Islam

Pada peperangan Manzikert, tahun 1071, Kekaisaran Bizantium mengalami kekalahan yang serius. Paus Gregorius II berupaya membantu dengan mengirimkan pasukan. Akan tetapi karena kekurangan dukungan, operasi ini tidak berhasil. Baru pada tahun 1095, Paus Urbanus II di Konsili Clairmont menyerukan upaya peperangan untuk mengambil alih kembali kota suci Yerusalem dari tangan kaum muslim. Ajakan heroik ini kemudian disambut oleh para pendengarnya dengan seruan: “Deus Vult”, atau “Tuhan menghendakinya!”

Ajakan Paus yang kemudian menyulut dimulainya Perang Salib sebenarnya bukanlah seruan yang bersifat ofensif. Ini adalah tanggapan yang sangat terlambat atas serangan dan invasi jihad Islam yang sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Meski Perang Salib I ini meraih sukses dan berhasil merebut kembali Yerusalem, perang-perang salib berikutnya tidak. Sebagian besar wilayah-wilayah kekristenan yang diinvasi Islam selama perang jihad seperti Mesir, Siria, Turki dan Afrika Utara tidak pernah kembali lagi sampai sekarang. Ini ongkos yang sangat mahal akibat terlambatnya tanggapan Gereja atas invasi jihad Islam.

Bahkan Yerusalem hanya sanggup dikuasai selama 100 tahun dan kemudian terlepas lagi selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada tahun 1917 Jendral Allenby memasuki kota Jerusalem dan menyatakan ini sebagai akhir dari Perang Salib, Yerusalempun terlepas dari tangan muslim sampai hari ini. Mungkin Jendral Allenby tidak pernah menyadari bahwa sikapnya saat memasuki Yerusalem yang seolah-olah menjadi akhir drama Perang Salib membuat sakit hati dan dendam berkepanjangan di kalangan muslim karena dipaksa menerima keadaan sebagai pihak yang kalah.

Belajar Dari Sejarah Dan Tanda-Tanda Jaman

Sekalipun beberapa tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II menyatakan permintaan maaf atas segala kesalahan dan tindakan atas nama Gereja, diantaranya selama Perang Salib, Inkuisisi, perang Katolik – Protestan, dan lain-lain, tidak sedikitpun Paus meminta maaf atau menyesal atas Perang Salib itu sendiri.

Dengan demikian Gereja menyadari bahwa tindakannya melawan invasi jihad Islam dan penodaan kota suci Yerusalem adalah benar dan sudah seharusnya. Apa yang digalang oleh Paus Urbanus II dan ditanggapi dengan penuh antusias oleh raja-raja dan putra-putra terbaik Gereja bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah kehendak Tuhan: Deus Vult!

Dalam konteks jamannya, mungkin seruan itu bertujuan untuk merebut kembali Yerusalem dan membantu Kekaisaran Bizantium merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Islam. Tapi membatasinya pada konteks itu akan membuat kita gagal menangkap kehendak Tuhan dalam cakupan yang lebih luas!

Seruan perang Paus Urbanus II adalah sebuah pertanda pada jamannya bahwa Tuhan tidak menghendaki Islam menguasai dunia. Tuhan tidak menghendaki Islam menodai tempat-tempat suciNya! Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan SabdaNya dengan Alquran. Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan Agama Universal yang telah dibangunNya sendiri selama ribuan tahun! Lebih jauh lagi, seruan Paus Urbanus II juga berarti bahwa Tuhan menghendaki umatNya tidak tinggal diam menerima nasib, tapi melawan dengan semangat yang suci didasari kecintaan pada Tuhan dan Gereja!

Seruan perang ini tidak pernah ditarik kembali, dengan demikian semangatnya masih tetap hingga hari ini. Tapi perang ini tidak selalu berarti dengan senjata dan kekerasan, tentunya perlu disesuaikan dengan konteks jaman. Jika St. Bernard of Clairvaux memilih panggilan ini dengan mengangkat senjata, pada saat yang sama Bl. Peter The Venerable memilih panggilan ini dengan cara intelektual: “…aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami, dengan senjata, tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tapi dengan akal-budi, bukan dengan kebencian tapi dengan kasih. Aku sungguh mengasihimu, dan aku memang menulis kepadamu, aku mengajakmu pada keselamatan.”

Islam Agama Damai, Sebuah Topeng

Dalam konteks jaman sekarang cara yang ditempuh oleh Peter The Venerable mungkin lebih sesuai untuk menanggapi panggilan Gereja yang diserukan berabad-abad lalu. Tapi menjadi pertanyaan, apakah kita harus menganggap Islam sebagai musuh yang harus diperangi dan dilawan? Sebenarnya tidak juga! Jika bisa dilakukan dengan dialog dan saling pengertian mengapa memilih jalan perang? Upaya untuk melakukan dialog dan menjadikan Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban manusia terus-menerus dilakukan Gereja, bahkan sampai sekarang.

Tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Islam memang merupakan antitesis dari Gereja. Islam sejak awal berdirinya memang bermaksud melawan Gereja dan seluruh ajarannya. Tak ada yang dapat mengubah ini, bahkan para malaikat dari surga sekalipun! Sangat berbahaya memelihara anak macan, suatu saat macan tersebut menjadi besar dan akan menerkam anda saat merasa lapar! Demikian juga kurang bijaksana dan sia-sia mencoba percaya bahwa Islam tidak memusuhi Gereja, karena secara alamiah Islam memang dirancang sebagai antitesis dari Gereja!

Gereja punya wewenang untuk menafsirkan Sabda Tuhan dan mengambil berbagai kebijakan sesuai konteks jaman, termasuk mencoba menerima Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tidak ada orang Islam atau organisasi Islam yang bisa dan berhak mengubah ajaran Islam. Jika sejak awal Islam memang dimaksudkan menjadi antitesis Gereja, maka Islam akan tetap seperti itu sampai kapanpun!

Anda mungkin akan bertanya, ajaran Islam memang tidak berubah tapi penafsirannya tentu bisa disesuaikan dalam konteks jaman dan orang-orang Islam yang berniat baik dapat menafsirkannya untuk kebaikan manusia tanpa harus bersikap memusuhi agama lain. Tapi masalahnya tidak ada penafsiran yang bersifat resmi dan mengikat dalam Islam. Penafsiran yang bersahabat, moderat, dan pluralis hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran yang sama benarnya menurut Islam!

Akibatnya posisi golongan Islam moderat ini menjadi menjadi sedikit unik. Penafsiran mereka tidak ditolak oleh golongan Islam yang lain, tapi juga tidak didengarkan! Umumnya penafsiran Islam moderat ini tidak populer dan tidak membumi. Penafsiran semacam ini hanya menjadi konsumsi kaum intelektual dan pihak luar Islam. Jadilah Islam moderat sebagai juru bicara atau PR yang sangat efektif menggambarkan Islam sebagai agama damai, sementara rekan-rekannya dari golongan lain dengan tenang menyiapkan rencana serangan bom bunuh diri dan rudal nuklir.

Menurut saya, dari pada golongan moderat ini sibuk membersihkan citra buruk Islam dan berupaya menggambarkan Islam sebagai agama damai kepada orang lain, jauh lebih baik mereka meyakinkan penafsiran moderat itu kepada teman-temannya sendiri sesama muslim! Semoga dengan cara itu mereka bisa menjadikan dunia lebih damai.

Dunia Menentang Islam

Upaya Gereja untuk membangun dialog yang konstruktif dan bersahabat dengan Islam mencapai puncaknya pada jaman Paus Yohanes Paulus II. Untuk pertama kalinya seorang Paus memasuki sebuah mesjid di Siria dengan rasa hormat dan menyatakan Islam bersama Yahudi dan Kristen adalah ‘tiga anak-anak Abraham’. Tapi segala upaya yang dilakukan tidak menghasilkan buah yang sepadan, ‘kambing tidak juga berubah menjadi domba’. Upaya dialog hanya berpengaruh pada golongan elit kaum moderat tapi di tingkat ‘grass-root’ wajah Islam yang penuh kekerasan dan tidak toleran justru lebih alami, lebih mudah diterima, dan lebih populer. Tidak heran jika tindakan teror dan kekerasan atas nama Islam semakin menjadi fenomena umum.

Era wajah lemah-lembut Gereja kepada Islam mulai berubah menjadi lebih tegas pada jaman Paus Benediktus XVI. Sebelumnya Paus Yohanes Paulus II masih menyebut terorisme kaum fundamentalis berakar pada rasa ketidakadilan. Tapi dengan mengutip perkataan Kaisar Manuel II Paleologus mengenai Muhamat yang hanya membawa ‘kejahatan dan ketidakmanusiawian’ Paus Benediktus XVI seolah mengisyaratkan bahwa akar kekerasan itu ada di dalam ajaran yang dibawa Muhamat! Saya tidak menganggap ini sebuah kebetulan, dan meski Paus menyesali kemarahan kaum muslim, dia tidak pernah menarik ucapannya!

Di atas telah saya singgung bahwa Islam memang diciptakan dan dirancang sebagai antitesis dari Gereja dan seluruh ajarannya. Sebagai konsekuensi lanjutannya, yang menjadi lawan Islam tidak hanya Gereja, tapi juga seluruh dunia! Ketika Gereja berupaya membangun peradaban dan kultur kehidupan, Islam dengan sikap intoleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama justru berupaya menghancurkan peradaban dan membangun kultur kematian!

Bukan sebuah kebetulan jika seorang anggota parlemen Belanda yang atheis bernama Geertz Wilders membuat sebuah film berjudul FITNA yang isinya menunjukkan keterkaitan antara ajaran Islam dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam! Di akhir film FITNA Geertz Wilder dengan singkat dan tegas mengajak penontonnya untuk menyadari bahaya Islam dan menghentikan proses islamisasi yang mulai melanda Eropa. Geertz Wilders tidak sedang menyerang Islam, sebaliknya dia hanya berusaha mempertahankan kebebasan dan kedaulatan negerinya dari serangan Islam. Menyadari hal ini, selesai menonton film FITNA saya berteriak (tentu saja dalam hati): Deus Vult!

Bagi saya ini juga sebuah tanda-tanda jaman. Dulu beberapa abad yang lalu Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib melawan Islam, selain itu banyak orang suci seperti St. John of Damascus, St. Bernard of Clairvaux atau juga Bl. Peter The Venerable yang sudah menyadarkan kita akan kekeliruan Islam. Kini seorang atheis juga menyuarakan seruan yang senada untuk melawan Islam. Dengan demikian Islam telah disadari sebagai musuh, tidak hanya oleh mereka yang beragama tapi juga yang tidak beragama. Islam seolah menjadi musuh seluruh kemanusiaan!

Lalu bagaimana kita menanggapi seruan ini? Tuhan jelas menghendaki kita bangkit melawan, bukan diam dan tidak peduli. Tentu saja saya tidak sedang menyarankan anda ikut latihan militer dan belajar merakit bom. Itu bukan konteks yang tepat untuk saat ini dan akan membuat kita tidak berbeda dengan apa yang kita lawan. Kita bisa mengikuti apa yang dilakukan Peter The Venerable: dengan kata-kata, akal-budi, dan kasih! Bukan untuk menghancurkan tapi untuk menyelamatkan.

Akan tetapi kita perlu belajar dari sejarah, apapun yang anda lakukan tidak pernah dapat mengubah Islam itu sendiri. Dari awalnya Islam memang diciptakan sebagai antitesis Agama Universal dan tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Agama Universal yang telah diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi mungkin akan mengubah pengikutnya. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.

Ayat Ayat FITNA

Maret 30, 2008 at 11:20 am | In Uncategorized | 2 Comments

Baru-baru ini seorang tokoh kanan garis keras Belanda Geertz Wilders (yang masih keturunan Indo juga) membuat heboh dunia dengan filmnya yang berjudul FITNA. Hebat juga nih… saya sebelumnya nggak kenal siapa itu orang, sekarang jadi pengen tau. Hm… jalan pintas menuju ketenaran kelas dunia…

Di YouTube film ini ditampilkan dalam dua bagian dengan durasi total sekitar 16 menit. Film itu dimulai dengan tampilnya gambar kartun Muhamat dengan bom di atas surbannya dan timer yang menunjukkan perhitungan mundur 15 menit.

Selanjutnya ditampilkan ayat Alquran Surah Al-Anfal (8:60) yang diikuti dengan cuplikan serangan WTC 9/11 serta bom kereta di Madrid. Kemudian diikuti komentar seorang imam yang mengatakan bahwa “Allah senang jika non-muslim terbunuh”.

Ayat Alquran berikutnya yang ditampilkan adalah An-Nisa (4:5) yang menggambarkan sikap anti-semit dari ajaran Islam. Berikutnya tampak seorang imam sedang berkotbah dengan berapi-api sambil menghunus pedang: “…bahkan batu-batu akan berkata, ‘Wahai Muslim, seorang Yahudi bersembunyi di belakangku, datang dan penggallah kepalanya.’ Dan kita akan memenggal kepalanya! Demi Allah, kita akan memenggalnya. Wahai Yahudi, Allahu Akbar! Jihad demi Allah!”

Kemudian bergemuruhlah suara para pendengar yang meneriakkan takbir sambil mengepalkan kepalanya ke atas.

Gambar berikutnya adalah seorang anak kecil berusia 3 tahun yang tampaknya sudah diindoktrinasi sedemikian rupa dengan ajaran Islam sehingga ketika ditanya soal orang Yahudi anak itu dengan polos menjawab Yahudi adalah ‘monyet dan babi’. Lalu ditampilkan bagaimana seorang imam dalam sebuah penampilan di Iqra-TV menyatakan bahwa, “Yahudi adalah tetap Yahudi, mereka harus dibunuh dan dibantai”.

Berikutnya ditampilkan gambar pengunjuk rasa berjilbab yang dengan bangga mengangkat spanduk bertuliskan ‘Prepare For The Real Holocaust’, lalu ‘God Bless Htler’. Ditampilkan juga gambar sepasukan teroris berbaris dibelakang para imam sambil memberi penghormatan ala Nazi.

Ayat Alquran yang ditampilkan berikutnya adalah Surah 47:4, yang kemudian dihubungkan dengan pembunuhan Theo van Gogh. Dilanjutkan dengan menampilkan Mohammed B, pembunuh Van Gogh yang dengan tegas menyatakan akan melakukan hal yang sama jika kesempatan itu terulang lagi. Sementara itu para pendukung pembunuh Van Gogh berunjuk rasa mengingatkan semua orang untuk mengambil pelajaran dari kasus Theo Van Gogh atau menghadapi resiko pembunuhan. Kemudian ditampilkan juga culikan gambar pemenggalan Hensley oleh teroris Al Qaeda atas nama Islam.

Selanjutnya Surah 4:89 yang berisi ajakan untuk membunuhi kaum kafir dimanapun berada dihubungkan dengan berbagai upaya pembunuhan dan ancaman pembunuhan bagi orang-orang murtad dan ‘musuh Islam’ seperti Salman Rushdi, dll.

Giliran berikutnya adalah Surah 8:39 yang berisi ajakan untuk memerangi ’seluruh dunia’ sampai semuanya menjadi Islam. Ajaran fasis dan imperialis ala Islam ini kemudian diperkuat dengan pernyataan-pernyataan seorang imam Iran:

“Islam adalah agama yang akan (ingin) menguasai dunia. Islam pernah melakukannya (dulu) dan pasti akan melakukannya lagi”.

Berikutnya tampil juga pahlawan dunia Islam, Mahmoud Ahmadinejad:

“Pesan dari revolusi Islam bersifat global, dan tidak dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu saja. Jangan ragu… Allah menghendaki, Islam menaklukkan apa? Islam akan menaklukkan semua puncak-puncak gunung di dunia”

Kemudian tampil gambar beberapa ulama yang meneriakkan semangat imperialis ini dengan berapi-api,

“Kita pernah menguasai dunia sebelumnya, dan atas kehendak Allah, kita akan menguasai dunia lagi. Harinya akan tiba dimana kita akan menguasai Amerika. Harinya akan tiba dimana kita akan menguasai Inggris dan seluruh dunia.”

“Allah memerintahkan kita untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia”
“Kalian akan menguasai Amerika. Kalian akan menguasai Inggris. Kalian akan menguasai seluruh Eropa. Kalian akan mengalahkan mereka semua. Kalian akan memperoleh kemenangan!….”

Pada film bagian kedua, Geertz Wilder mengutarakan keprihatinan politiknya atas berkembangnya pengaruh Islam di Belanda (akibat membanjirnya imigran dari negara-negara muslim) dengan judul “Belanda dalam pengaruh Islam” Disitu digambarkan bagaimana parlemen Belanda mengijinkan pemakaian burqa, statistik jumlah imigran muslim di Belanda dan seluruh Eropa yang meningkat secara eksponensial, pembangunan mesjid-mesjid megah yang begitu mencolok sampai-sampai kartupos dari Belanda juga bergambar masjid. Juga digambarkan bagaimana polisi Belanda harus melepas sepatunya saat memasuki masjid, dsb.

Selanjutnya Geertz Wilder menggambarkan apa yang akan terjadi apabila Islam menguasai Belanda dan Eropa. Digambarkan bagaimana seseorang harus menjalani hukuman gantung hanya karena dia seorang gay, lalu wanita menghadapi pemenggalan dan hukuman mati hanya karena zina, wanita-wanita harus mengalami penyunatan, anak-anak kecil mengalami penyiksaan dalam suatu acara ritual, kebebasan berbicara dan berpendapat akan dilarang, dsb.

Gambar-gambar berikutnya adalah potongan-potongan headline surat kabar yang menggambarkan semangat kekerasan dalam Islam dan bagaimana Islam menghendaki Belanda menjadi negara muslim.

Kemudian film ditutup dengan pesan ini:

Karena bukan terserah saya, tapi bagi kaum muslim sendiri
untuk merobek ayat-ayat penuh kebencian dari Alquran.

Islam menuntut anda untuk memberi tempat bagi mereka,
tapi Islam tidak memberi tempat bagi anda.

Pemerintah menuntut anda menghormati Islam,
tapi Islam tidak memiliki rasa hormat pada anda.

Islam ingin mengatur, menguasai,
dan berupaya menghancurkan peradaban barat.

Tahun 1945, Nazi sudah dikalahkan di Eropa.
Tahun 1989, komunisme sudah dikalahkan di Eropa.

Sekarang ideologi Islam juga harus dikalahkan.

Hentikan islamisasi.

Lindungi kebebasan kita.

Dan timer berhenti… lalu meledaklah gambar kartun Muhamat.

That’s all folks…..

Buat mereka yang sudah terbiasa melihat Islam dari sudut pandang tertentu apa yang ditampilkan oleh Geertz Wilders sama sekali bukan apa-apa. Memang begitulah Islam!

Itu semua memang fakta, bukan rekayasa. Malah saya pikir seharusnya Geertz juga menampilkan teror bom Bali dan bagaimana para teroris begitu bangga menjalankan misi bom bunuh diri atas nama perintah agama Islam.

Tapi justru karena film ini bukan fitnah dan rekayasa maka dunia Islam menjadi sangat marah dan malu. Bagaimana mau menuntut Geertz kalau semua yang ditampilkannya adalah fakta-fakta yang memang ada!

Bandingkan ini dengan novel ‘Da Vinci Code’ karya Dan Brown atau film dokumenter tentang ‘Makam Talpiot dan osuarium Yesus’ karya James Cameron. Tidak ada hujatan atau ancaman hukuman mati, sebaliknya dengan kepala dingin semuanya dibantah dengan argumen dan fakta-fakta sejarah! Beginilah seharusnya Islam bersikap, tapi sayang sekali Islam memang tidak punya kemampuan untuk itu.

Geertz sama sekali tidak merekayasa apa-apa, ia hanya berupaya mencari benang merah dari semua kejadian-kejadian dan berita-berita tentang Islam yang kita semua terlalu takut atau malu untuk mengakuinya. Mungkin kesalahan Geertz hanya ia terlalu frontal dan tanpa basa-basi serta tidak menyisakan ruang bagi Islam untuk membela diri selain dengan kemarahan. Apa yang dilakukan Geertz hanyalah berteriak ‘maling’ kepada seorang koruptor, sementara banyak orang malu atau sungkan melakukannya karena koruptor itu seorang pejabat.

Kalau anda semua juga ikut marah dan malu itu bagus.. setidaknya anda mengakui bahwa memang ada yang salah dengan Islam. Toh anda tidak bisa menunjukkan apa yang salah dari film itu.

Apa yang dilakukan Geertz tidak akan berhenti dengan adanya pelarangan dan hujatan. Justru ini akan memancing lebih banyak orang mempelajari Islam dari sudut pandang yang dipakai oleh Geertz. Akibatnya, cepat atau lambat wajah buruk Islam akan tampil telanjang di hadapan seluruh dunia. Siapa yang bisa menahan arus informasi di jaman ini?

Islam Sebagai Antitesis Agama (3): Visi Peradaban

Maret 1, 2008 at 9:39 am | In Islam Sebagai Antitesis Agama | 1 Comment

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru,
sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah,
yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
(Why. 21:1-2)

Dewasa ini cukup banyak orang yang mempertanyakan apakah kehadiran agama masih cukup relevan? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik tentu perlu diketahui hal penting apa yang dapat diberikan agama pada manusia yang tidak mampu diberikan oleh apapun sebaik agama. Salah satunya adalah: tujuan hidup. Untuk apakah manusia hidup dan kemanakah manusia seharusnya mengarahkan hidupnya? Ada banyak yang berupaya memberi jawaban, termasuk diantaranya filsafat dan sains, tapi pertanyaan ini secara khas mendapat jawaban terbaiknya dalam agama.

Bukan hanya tujuan hidup yang bersifat personal, tapi bahkan untuk seluruh umat manusia agama mampu memberikan sebuah visi peradaban global yang secara ideal menjadi akhir perjalanan peradaban manusia. Dalam ayat yang saya kutip di atas tampak jelas bahwa dalam kristianitas peradaban manusia akan berakhir pada suatu tatanan peradaban baru yang ideal dan sempurna, yang merupakan duplikat dari kehidupan surgawi.

Memang benar, itu tadi adalah gagasan dari kristianitas dan anda mungkin akan bertanya, bukankah ada banyak agama? Jika ada banyak agama, tentu ada banyak visi peradaban yang berbeda-beda. Atas hak apa kristianitas menjadikan visinya menjadi visi universal umat manusia? Jawaban saya adalah atas dasar obyektivitas. Dari semua visi peradaban yang ditawarkan agama-agama, adakah yang lebih baik dari sebuah peradaban surgawi? Inilah puncak peradaban yang ditawarkan kristianitas pada manusia!

Satu Kapal Satu Nahkoda

Pernahkah anda mengetahui ada sebuah kapal yang dinahkodai oleh dua orang atau lebih? Saya belum pernah, dan saya yakin tidak pernah ada karena kapal semacam itu sudah tentu tidak pernah sampai ke tujuan dan mungkin akan tenggelam di tengah lautan. Perlunya satu kapal dikendalikan oleh hanya satu orang nahkoda adalah sebuah kebenaran yang kita terima begitu saja secara wajar. Tapi anehnya banyak orang, terutama kaum pluralis, merasa alergi kalau saya katakan bahwa peradaban manusia ini juga hanya membutuhkan satu agama universal dengan satu visi global untuk menjadi nahkoda yang mengarahkan kemana peradaban manusia ini hendak menuju. Seperti misalnya Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” yang agaknya merasa malu dengan ajaran Gereja yang menempatkan Kristus sebagai jalan keselamatan satu-satunya.

Banyak agama sudah pasti memunculkan banyak visi. Dulu, pada saat manusia masih hidup dalam komunitas-komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain adanya agama-agama lokal mungkin memang diperlukan untuk menjadi visi peradaban (sementara) bagi komunitas tersebut. Eyang saya orang jawa, yang karena segala keterbatasan situasi dan kondisi pada masa itu hanya mengenal agama Islam dan kejawen. Tentu saja apa yang baik dalam kedua jenis kepercayaan itu cukup untuk menjadi jalan kebenaran bagi mereka. Dari sini saya dapat memahami kebenaran dari sikap inklusif Gereja sebagaimana diungkapkan Karl Rahner bahwa agama-agama lain pada batasan tertentu juga mengarahkan manusia pada keselamatan karena mengajarkan kristianitas secara anonim.

Tapi itu situasi yang mungkin hanya cocok sampai pada milenium kedua. Pada milenium ketiga, yaitu sekarang, secara umum semua orang memiliki akses untuk mengenali agama universal. Manusia semakin lama semakin membaur menjadi satu komunitas global. Sekat-sekat yang dahulu membatasi perjumpaan antar bangsa, tradisi, dan iman sudah terkikis oleh kemajuan jaman. Ini realitas yang tidak bisa dibantah atau dihalangi. Dalam kondisi seperti ini kehadiran banyak visi peradaban sebagaimana yang ditawarkan agama-agama hanya akan membuat manusia kebingungan dan justru kehilangan visi peradaban yang sesungguhnya. Akibatnya peradaban manusia akan kehilangan arah dan jalan di tempat. Satu komunitas manusia global seharusnya membutuhkan hanya satu visi peradaban yang universal, yang berasal dari satu agama universal!

Dengan demikian dalam komunitas global kehadiran banyak agama dengan beragam visi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Manusia harus menerima kenyataan bahwa kemajemukan agama adalah realitas masa lalu yang segera hilang ditelan perjalanan sejarah. Tugas agama-agama lokal dan parsial sudah saatnya berakhir, untuk itu perlu kita sampaikan ucapan terima kasih pada agama-agama masa lalu itu dan menempatkan mereka pada bagian yang cukup terhormat dalam panggung sejarah umat manusia. Sayang sekali tidak banyak orang yang siap menerima kenyataan ini.

Visi Bersama Agama-Agama

Bagi kaum pluralis ide-ide perlunya umat manusia memiliki satu visi yang berasal dari satu agama universal tidak dapat diterima. Bagi mereka itu adalah ungkapan kesombongan agama tertentu dan sekaligus pelecehan terhadap kemanusiaan. Dalam pandangan mereka visi peradaban universal, kalau itu ada, seharusnya merupakan visi bersama yang diterima semua agama, bukan visi agama tertentu. Setidaknya upaya mencari titik temu agama yang digagas kaum pluralis seperti Fritjof Schuon, Harold Coward, John Hick, Huston Smith, dan lain-lain mengarah pada ide yang demikian. Manusia, menurut mereka, mampu memutuskan sendiri visi peradabannya berdasarkan apa yang diberikan dan disepakati oleh semua agama-agama manusia.

Tapi pandangan ini memiliki kelemahan yang mendasar. Siapa yang memutuskan visi bersama itu sebagai visi universal dan atas dasar apa visi bersama ini menjadi visi universal yang bersifat tetap dan mengikat? Tidak ada yang mampu menjamin itu! Akibatnya visi bersama, kalaupun itu berhasil diupayakan, hanya merupakan visi bersama yang bersifat sementara, tidak memiliki kekuatan yang mengikat dan dapat berubah-ubah oleh selera jaman. Selain itu, karena sifatnya yang kompromis pastilah dangkal.

Salah satu contoh upaya kompromi ini adalah ‘Global Ethic’ gagasan Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel yang mau tidak mau membatasi cakupannya pada relasi antar manusia. Memang ‘Global Ethic’ tidak dimaksudkan untuk menjadi visi peradaban, tapi itu sebuah contoh dangkalnya hasil yang dicapai dari upaya kompromi agama-agama. Nasib yang sama akan terjadi kalau manusia mengupayakan visi bersama agama-agama. Apalagi kalau manusia mau mencoba menentukan visinya sendiri secara independen di luar ajaran agama-agama, keadaannya bisa jadi akan lebih parah. Visi yang bersifat dangkal (karena bersifat kompromistis) dan sementara (tidak mengikat, bisa direvisi sewaktu-waktu) bukanlah visi peradaban global.

Gereja Universal Dan Visi Peradaban Global

Seperti yang saya ungkapkan di bagian awal, Gereja universal telah menawarkan sebuah visi peradaban berupa sebuah peradaban surgawi. Memang ini terasa arogan dan tidak akan menyenangkan bagi mereka yang tidak mengimani Kristus. Tapi secara teoritispun peradaban semacam ini adalah peradaban terbaik yang mungkin dicapai oleh manusia.

Memang setiap agama tentu punya visi peradabannya sendiri, tapi seperti apa visi peradaban yang ditawarkan dan bagaimana agama-agama itu menjadikan visi peradaban tersebut sebagai kesadaran umat? Saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Sebaliknya, peradaban surgawi yang ditawarkan Gereja sebagai tujuan akhir perjalanan peradaban manusia tidak hanya berhenti sebagai konsep teoritis dan asumsi teologis saja tapi terus-menerus ditanamkan sebagai harapan dan kesadaran umat. Bagi saya, sejak awal berdirinya Gereja memang sudah dirancang untuk membawa manusia pada sebuah peradaban surgawi. Ini akan tampak jelas sekali dalam doa satu-satunya yang diajarkan Yesus di dalam Injil:

Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namamu
Datanglah KerajaanMu
Jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam Surga……

Dalam teks doa ini terkandung jelas sebuah harapan akan datangnya peradaban baru yang ideal, peradaban surgawi yang hadir di bumi sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Lalu seperti apa gambaran peradaban surgawi itu akan tampak pada lanjutan doa ini:

Berilah kami rejeki pada hari ini

Dalam peradaban baru itu manusia tidak akan mengalami kekurangan kebutuhan sehari-hari, Tuhan akan menyediakannya.

Dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami

Dalam peradaban baru itu akan hadir perdamaian yang sejati, yaitu perdamaian dengan Tuhan dan sesama.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Dalam peradaban baru itu tidak akan ada lagi penderitaan dan kejahatan.

Saya yakin Yesus mengajarkan doa-doa lain juga, tapi bukan sebuah kebetulan jika doa ini adalah satu-satunya doa yang diajarkan Yesus yang tercatat dalam Injil. Tampaknya doa ini memang dimaksudkan menjadi doa seluruh Gereja sekaligus seluruh umat manusia yang akan membawa peradaban manusia menuju peradaban surgawi. Doa Bapa Kami adalah doa yang membangun peradaban baru. Sejauh yang saya tahu tidak ada doa yang sedahsyat ini.

Islam Dan Visi Peradaban Global

Dalam kaitannya dengan peradaban manusia Islam memiliki posisi yang sedikit janggal. Islam mengaku sebagai agama pamungkas yang mengakhiri rangkaian pewahyuan nabi-nabi. Tapi visi peradaban yang ditawarkan Islam pada manusia tidak begitu jelas apakah lebih baik dari peradaban surgawi yang sudah ditawarkan oleh Gereja.

Ada beberapa hal dalam Islam yang justru membuat saya sangat yakin bahwa Islam tidak mampu menawarkan peradaban yang ideal bagi manusia. Banyak prinsip-prinsip dan ajaran Islam yang justru bersifat menghancurkan peradaban manusia. Saya akan paparkan beberapa kelemahan mendasar Islam dalam konteks ini:

1. Islam tidak memiliki gambaran ideal peradaban manusia yang damai.

Ketika Gereja merujuk Kerajaan Surga sebagai gambaran ideal peradaban manusia, Islam tidak memiliki rujukan apa-apa untuk visi peradabannya selain peradaban teoritis yang disebut Darul Islam. Jangan dulu bicara soal surga sebagai rujukan, gambaran Islam tentang surga ternyata sangat duniawi. Seperti misalnya hidup yang penuh kenikmatan karena dikawinkan dengan banyak bidadari (Ath-Thuur:17-20).

Ini dapat dipahami karena Muhamat, seperti kebanyakan manusia umumnya, memang tidak pernah tahu seperti apa itu surga. Jadi gambarannya tentang surga tidak lebih dari proyeksi imajinasinya sendiri yang kebetulan sangat terobsesi pada kenikmatan seksual. Dengan demikian di Islam yang terjadi serba terbalik, bukannya berharap peradaban manusia menjadi seperti kehidupan surgawi tapi justru gambaran tentang kehidupan surga yang menjadi seperti kehidupan duniawi, hanya saja dengan kenikmatan tanpa batas.

Dalam pandangan Islam, puncak peradaban manusia adalah terbentuknya Darul Islam yang bersifat global. Tapi sayangnya Islam tidak mempunyai cara lain yang efektif untuk mewujudkan itu selain melalui kekerasan (dengan berbagai manifestasinya). Secara teoritis mungkin saja Islam mengajarkan dan membawa damai, setidaknya begitulah klaim mereka. Bahkan banyak kalangan Islam moderat mencoba dengan berbagai upaya untuk menunjukkan wajah Islam yang penuh damai. Tapi kenyataan sejarah menunjukkan fakta yang bertentangan.

Sejak awal sejarahnya Islam tidak pernah berkembang dengan cara damai, Islam selalu menggunakan kekerasan, baik melalui kekuatan senjata maupun dominasi ekonomi / politik. Tidak heran jika seorang kaisar Byzantium, Manuel II Paleologus, sebagai seorang saksi jaman pada masa ekspansi Islam mengatakan: “Tunjukkanlah sesuatu yang baru yang dibawa Muhammad, dan yang Anda temukan hanyalah kejahatan dan ketidakmanusiawian, seperti dalam perintahnya untuk menyebarkan iman dengan pedang.” Kutipan ini menjadi sangat populer karena pernah dikutip oleh Paus Benedictus XVI dan menjadi kontroversi. Sang kaisar tentu tidak berbicara tanpa dukungan fakta yang diketahuinya. Bahkan kenyataan sejarah menunjukkan Muhamat sendiripun terlibat dalam banyak peperangan demi menyebarkan Islam. Secara praktis tak ada satu fase sejarah yang signifikan dimana Islam berkembang dengan damai tanpa campur tangan kekuasaan.

Jika Muhamat sendiri tidak mampu mengembangkan Islam dengan damai, apa mungkin pengikutnya bisa melakukan yang lebih baik? Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin Islam menawarkan sebuah peradaban masa depan yang damai kepada manusia? Ada pepatah bijak, jangan pernah percaya pada orang telanjang yang menawari anda baju, kemungkinan besar anda akan ditipunya.

2. Islam juga tidak mampu membangun komunitas manusia yang baik

Kalau membangun peradaban yang damai berada di luar jangkauan Islam, kita akan turunkan lagi standarnya menjadi sekedar membangun komunitas manusia. Tapi untuk inipun ternyata ajaran Islam tidak memiliki kualifikasi yang cukup. Ini bukan tuduhan yang mengada-ada. Saya mengacu pada prinsip sederhana: barangsiapa tidak dapat melakukan hal kecil dengan baik, jangan berharap dapat melakukan hal besar. Bagaimana mungkin Islam dapat membangun komunitas manusia yang baik, atau bahkan peradaban yang baik, jika Islam tidak memiliki ajaran yang memadai tentang perkawinan?

Bandingkan ini dengan ajaran Gereja tentang perkawinan yang bersifat sakral, monogami dan tak terceraikan. Perkawinan dalam Islam tidak pernah merupakan perkawinan yang sakral, melainkan sekedar sebuah kontrak perjanjian manusiawi yang setiap saat bisa dibatalkan. Kehadiran Tuhan dalam janji perkawinan hanya sekedar hiasan pemanis atau alat legalitas saja, tidak lebih. Sepasang mempelai Islam yang baru menikah akan sangat yakin bahwa pasangannya adalah jodoh yang telah ditentukan Tuhan. Tapi setelah dua tahun menikah kemudian mereka bercerai, menurut mereka hal itu adalah kehendak Tuhan karena mereka tidak berjodoh. Tidak jelas Tuhan mana yang betul, yang mengawinkan mereka atau yang menceraikan mereka.

Islam juga mengijinkan poligami, dengan embel-embel asalkan dapat berlaku adil. Siapapun yang mau menggunakan akal sehatnya akan tahu bahwa perkawinan poligami tidak pernah adil, sehebat apapun keadilan itu diupayakan. Perkawinan poligami pada dasarnya sudah mengandung unsur ketidakadilan yang melekat. Dimana letak keadilan bagi seorang istri yang menyerahkan diri dan cinta seutuhnya bagi seorang suami sementara sang suami tidak pernah mampu memberikan diri dan cinta seutuhnya bagi sang istri karena harus membaginya dengan istri yang lain? Akhirnya pengertian keadilan dalam perkawinan poligami hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat material dan dangkal seperti harta, waktu kunjungan, dan sebagainya.

Lebih jauh lagi perkawinan poligami hanya bisa berlangsung dengan baik jika diikuti dengan tindakan-tindakan manipulatif: si teteh diberi pengertian bahwa itu semua sudah takdir dan kehendak Tuhan, bahwa penderitaan karena ikhlas dimadu adalah sesuatu yang mulia di mata Tuhan, dan sebagainya, sementara si aak cengar-cengir setiap malam menikmati istri baru.

Fakta yang lebih menyedihkan tentang perkawinan islami akan banyak kita temukan dengan melihat sejarah kehidupan Muhamat, nabi mereka. Tidak perlu saya paparkan semua disini, cukup saya ambil kasus yang mungkin paling menonjol yaitu perkawinan Muhamat (yang berusia lebih dari setengah abad) dengan Aisyah yang baru berusia 6 tahun. Bukan hanya perkawinan semacam itu menunjukkan sifat pedofil Muhamat, tapi jelas sekali tidak mungkin dilandaskan oleh adanya unsur saling cinta. Bagaimana mungkin seorang Aisyah yang berusia 6 tahun dapat memahami apa itu cinta suami-istri? Dari sini jelas sekali bahwa perkawinan dalam Islam tidak perlu dilandasi oleh unsur cinta, tapi bisa unsur lain seperti kepentingan politik, ekonomi, atau sekedar hawa nafsu. Soal perkawinan yang berdasarkan hawa nafsu, ini terlihat pada adanya konsep nikah mut’ah yang kontroversial itu dimana sepasang suami-istri dapat melakukan ikatan perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu. Edan….

Jika Islam tidak mampu meletakkan cinta dan keadilan sebagai landasan dari perkawinan islami, bagaimana mungkin Islam mampu membangun keluarga yang baik? Karena keluarga adalah bentuk komunitas yang paling kecil dan sederhana, jika Islam tidak mampu membangun keluarga yang baik bagaimana mungkin Islam membangun komunitas manusia yang baik? Sudah jelas tidak mungkin.

3. Islam bahkan tidak memahami awal mula kehidupan

Sangat ironis, ajaran Islam ternyata memiliki kesalahan yang fatal dalam memahami awal mula kehidupan. Gereja mengajarkan bahwa kehidupan manusia dimulai saat pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, sekalipun masih dalam bentuk organisme yang sangat sederhana, embryo sudah memiliki martabat manusiawi dan dihargai sebagai pribadi. Lalu apa kata Islam tentang awal mula kehidupan? Entah ilham dari mana dan atas dasar apa ajaran Islam mengatakan, dengan merujuk pada hadis, bahwa roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah terjadinya pembuahan.

Secara ideal, pembuahan adalah hasil dari persetubuhan dua manusia yang terikat dalam sebuah perkawinan. Dan persetubuhan adalah ungkapan cinta kasih suami-istri. Jadi hadirnya kehidupan adalah buah dari cinta kasih, oleh sebab itu hadirnya kehidupan tidak bisa dipisahkan dari cinta kasih.

Tapi dengan mengajarkan roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah pembuahan maka hadirnya kehidupan bukan lagi merupakan ungkapan dari cinta kasih tapi semata-mata sebuah mekanisme biologis. Dalam ajaran Islam kehadiran kehidupan dipisahkan dari cinta kasih. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap martabat kehidupan manusia. Saya tidak ragu mengatakan ini ajaran sesat.

Konsekuensi yang mengerikan dari ajaran sesat ini cepat atau lambat akan segera mengikuti. Beberapa waktu yang lalu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa aborsi adalah halal bagi wanita korban perkosaan jika dilakukan sebelum usia 40 hari kehamilan. Ini sebuah langkah yang semakin mendekati legalisasi aborsi. Karena janin yang berusia di bawah 40 hari dianggap bukan manusia dan tidak memiliki roh kehidupan maka bisa seenaknya dimusnahkan untuk alasan-alasan tertentu.

Sama sekali tidak jelas atas dasar apa angka 40 hari itu diambil, tapi ini sebuah spekulasi teologis yang sangat berbahaya dan kehidupan manusia menjadi taruhannya. Dengan mengajarkan prinsip sesat ini Islam akan membuat banyak sekali wanita-wanita dan semua orang yang terlibat dalam proses aborsi menjadi pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Melalui ajaran sesatnya Islam mengarahkan mereka semua ke pintu neraka seperti menggiring sekawanan domba ke tempat pembantaian!

Agama Anti Peradaban

Membandingkan visi peradaban yang ditawarkan Gereja dan visi peradaban Islam sama seperti membandingkan langit dan bumi. Peradaban surgawi yang ingin dicapai oleh Gereja dibangun dengan pertama-tama menghargai martabat kehidupan sejak saat pembuahan dan menempatkan kehidupan sebagai buah dari cinta kasih. Lalu Gereja mempersiapkan peradaban surgawi itu dengan membangun unit terkecil peradaban manusia, yaitu keluarga dengan membentuk lembaga perkawinan yang sakral, monogamis dan tak terceraikan, yang didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan. Selanjutnya peradaban surgawi ini juga diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan dan upaya manusiawi tetapi juga dengan membuka diri pada penyertaan dan kuasa Tuhan, salah satunya melalui doa yang mengubah peradaban: Doa Bapa Kami.

Sedangkan Islam, jangankan bicara soal membangun peradaban, membangun lembaga perkawinan yang sakral dan didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan sebagai prasyarat untuk membangun unit terkecil komunitas manusia yang membentuk peradaban saja Islam sudah tidak mampu.

Mengingat kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas, ajaran Islam tampaknya tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah peradaban manusia yang sejati. Sebaliknya ajaran-ajaran itu, yang di dalamnya terkandung kultur kekerasan dan kematian, justru berupaya melemahkan dan menghalangi hadirnya peradaban surga di bumi. Kesimpulan sederhana saya: Islam pada dasarnya adalah agama yang anti-peradaban.

Meskipun demikian bukan berarti upaya menghadirkan peradaban Islam (yaitu Darul Islam yang bersifat global) tidak ada. Upaya ini berlangsung terus dengan berbagai cara. Namun karena sejak awal berdirinya Islam tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun peradaban dengan jalan damai, maka yang digunakan adalah sarana-sarana kekuasaan politik, dominasi ekonomi, dan kalau perlu dengan teror. Jadi jangan heran kalau terorisme dan Islam itu seperti bersaudara.

Tapi seberapa lama peradaban semu yang dibangun dengan kekuasaan dan kekerasan ini dapat bertahan? Sejarah membuktikan kekalifahan Islam yang pernah hadir pada awal terbentuknya Islam hanya bertahan beberapa abad saja. Nasib yang sama juga akan dialami oleh peradaban Islam di masa sekarang, jika itu ingin diwujudkan lagi.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.