ISLAM: Spiritual Pathology

Juni 5, 2011 pukul 8:46 am | Ditulis dalam Islam Sebagai Antitesis Agama, Kontra Islam | Tinggalkan komentar

Buku karangan Robert R. Reilly yang berjudul ‘The Closing Of The Muslim Mind” tampaknya sungguh sangat menarik. Memang saya belum membaca isinya, namun melalui beberapa ulasannya dan juga rangkuman yang disampaikan oleh sang pengarang dapat saya simpulkan secara sederhana bahwa ini buku yang provokatif tapi sekaligus mampu menjelaskan fenomena sikap permusuhan dan intoleransi Islam terhadap dunia.

Ketika mencoba merangkum keseluruhan isi bukunya, Robert R. Reilly dengan tajam dan tegas menyimpulkan sebagai berikut, “Islamism is a spiritual pathology founded on a theological deformation that has produced the dysfunctional culture.” Islam adalah penyakit spiritual yang merusak peradaban dunia!

Tidak bisa tidak saya 100% setuju dengan sang pengarang.

Islam Dan Kemajuan Peradaban

Ketika berbicara mengenai sumbangan Islam terhadap peradaban dunia, kaum intelektual Islam seringkali merujuk pada ‘peradaban emas Islam’ di abad-abad awal perkembangan ekspansi Islam dimana muncul pemikiran-pemikiran dan pusat-pusat intelektual yang menjadi sumber inspirasi abad pencerahan Eropa. Tapi ironisnya, kemajuan peradaban Islam ini seolah tidak berlanjut lagi dan malah bergerak mundur sehingga peradaban Islam justru menjadi peradaban yang terbelakang.

Kaum intelektual Islam kebanyakan setuju bahwa kemunduran pemikiran dunia Islam terutama disebabkan oleh semakin besarnya pengaruh pemikiran Al-Ghazalli yang berupaya membungkam kaum Mutazillah (motor pemikiran intelektual Islam). Al-Ghazalli bagi Islam kurang lebih sama perannya seperti St. Paulus bagi kristianitas. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazalli yang cenderung meminggirkan pentingnya peran akal budi dalam memahami kebenaran inilah yang kemudian memberikan arah bagi perkembangan peradaban Islam hingga saat ini.

Lalu bagaimana kita memahami kemajuan peradaban Islam yang hanya sebentar dan sekaligus kemundurannya yang permanen?

Bagi saya kenyataan sejarah ini menunjukkan satu hal: apapun yang menyebabkan kemajuan peradaban Islam pada masa itu pasti tidak sesuai dengan karakter Islam yang sesungguhnya. Dalam hal ini perjumpaan Islam dengan peradaban Yunani saat mereka menguasai Byzantium adalah penyebab utama dari kemajuan peradaban Islam. Sementara itu pada dasarnya Islam tidak memiliki apa-apa yang ditawarkan kepada dunia selain semangat ekspansi yang ingin mempertobatkan dunia. Pemikiran-pemikiran Yunani yang dijumpai dalam proses ekspansinya berupaya dirangkul ke dalam Islam karena pada masa itu dilihat sebagai alat yang ampuh untuk memajukan Islam dan untuk menaklukkan dunia lebih lanjut. Jadi penyebab kemajuan peradaban Islam tidak berasal dari dalam Islam itu sendiri, melainkan berasal dari perjumpaannya dengan peradaban Yunani yang disinergikan dengan semangat ekspansi dakwah Islam.

Tapi kemudian muncul persoalan besar. Pemikiran Yunani ternyata memberi dampak buruk bagi Islam karena akal budi mulai leluasa mempertanyakan kebenaran-kebenaran Islam. Dan ini membuat Islam tidak tahan. Helenisasi adalah racun maut yang akan membunuh Islam, dan racun itu harus segera dikeluarkan! Inilah yang terjadi ketika pemikiran-pemikiran Al-Ghazalli, teolog besar kaum Asy’syariah, mulai mendominasi dunia Islam untuk mencegah hancurnya Islam akibat racun helenisasi yang disebarkan kaum Mutazillah.

Bandingkan ini dengan Gereja yang justru terus berupaya menunjukkan keselarasan antara iman dan akal budi dalam memahami kebenaran sampai sekarang. Tak pernah ada satu katapun yang mempertentangkan iman dan akal budi dalam ajaran Gereja.

Lalu pertanyaan lain yang muncul: mengapa proses helenisasi yang mengedepankan terang akal budi tidak selaras dengan Islam? Jawaban saya satu: Islam sejak awalnya adalah sebuah kebohongan dan agama palsu yang dapat terbongkar kesesatannya jika diperiksa dalam terang akal budi. Dengan tepat ini juga dirumuskan oleh Robert R. Reilly yang mengkategorikan Islam sebagai ‘spiritual pathology’ alias penyakit spiritual.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan sebuah ‘penyakit’? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan membuangnya jauh-jauh dan selanjutnya mencegah penyakit itu datang lagi.

Re-helenisasi Islam, mungkinkah?

Akibat dari proses de-helenisasi di dunia Islam sangat jelas, paling tidak kita bisa mengamati dari fenomena-fenomenanya. Tidak berfungsinya akal-budi dalam pemahaman Islam pada akhirnya hanya menyebabkan munculnya kekerasan-kekerasan atas nama iman. Sangat logis, ketika akal budi tidak lagi mampu menjawab tantangan maka solusinya yang paling gampang adalah penggunaan kekerasan dan kekuasaan. Terorisme, jihad, pembakaran gereja, dan banyak lagi kekerasan atas nama agama adalah contoh-contoh yang begitu jelas untuk masalah ini.

Kondisi memalukan ini bukannya tidak menimbulkan keprihatinan dari kalangan internal Islam sendiri. Bagaimanapun masih banyak orang Islam yang berpihak pada hati nurani dan akal sehat mereka. Banyak pemikir-pemikir Islam yang mencoba menentang arus dengan melakukan kritik-kritik atas pemikiran tradisional Islam. Ini mungkin merupakan bagian dari proses re-helenisasi dunia Islam yang sedang diupayakan untuk mencegah kemunduran Islam lebih lanjut.

Di Indonesia upaya re-helenisasi ini bisa kita lihat dari pemikiran-pemikiran kaum intelektual seperti Gus Dur dan juga Ulii Abshar Abdalla dengan teman-teman JIL-nya. Dan kurang lebih kita tahu bagaimana reaksi Islam terhadap pemikiran-pemikiran semacam ini.

Lalu apakah upaya ini akan berhasil atau bagaimanakah pengaruh pemikiran-pemikiran mereka terhadap Islam? Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap pemikiran-pemikiran kaum pembaharu Islam ini saya hanya mengatakan kemungkinannya ada dua: pemikiran-pemikiran mereka akan gagal dan dilibas oleh pandangan kaum tradisional ATAU pemikiran mereka berhasil tapi akibatnya di luar dugaan mereka: Islam bukannya terbaharui melainkan justru hancur dan ditinggalkan pengikutnya karena segala kepalsuannya terbuka di hadapan nalar dan kebenaran.

Mengapa saya berani mengatakan demikian? Yang pertama berdasarkan kenyataan sejarah akan kegagalan kaum Mutazillah dan sejarah ini akan berulang. Yang kedua berdasarkan fakta bahwa Islam adalah sebuah ‘penyakit spiritual’ atau agama palsu yang tidak mungkin diperbaiki dengan cara apapun kecuali dengan membongkar kepalsuannya dan membuangnya jauh-jauh dari peradaban. Dengan cara apakah uang palsu dijadikan asli dan berharga? Tidak ada cara apapun yang bisa dilakukan, satu-satunya hanyalah dengan membuangnya jauh-jauh atau membakarnya supaya tidak ada lagi orang yang memanfaatkannya untuk menipu orang lain…

Islam Sebagai ANTITESIS AGAMA (4 – Habis): Deus Vult!

April 5, 2008 pukul 5:45 am | Ditulis dalam Islam Sebagai Antitesis Agama | 10 Komentar

Siapakah pendusta itu?
Bukankah dia yang menyangkal
bahwa Yesus adalah Kristus?
Dia itu adalah
antikristus,
yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak.
(1 Yoh. 2:22)


Tulisan ini adalah bagian terakhir dari seri ‘Islam Sebagai Antitesis Agama’. Pada bagian pertama saya menjelaskan bagaimana Islam berupaya mengacaukan rancangan keselamatan yang telah dibangun Tuhan sendiri tanpa terputus dalam bentuk Agama Universal, yang dimulai sejak jaman Abraham hingga hari ini (Paus Benediktus XVI). Lalu pada bagian kedua saya mencoba menunjukkan bagaimana Alquran di hadapan kriteria obyektif bukanlah kitab suci yang berasal dari Tuhan, sebaliknya kehadiran Alquran tidak lebih dari upaya untuk menyesatkan manusia dari Sabda Tuhan yang sesungguhnya. Pada bagian ketiga saya menunjukkan bagaimana Islam sebagai agama gagal menawarkan visi peradaban yang ideal bagi manusia, bahkan dalam banyak hal ajaran-ajaran Islam justru memiliki unsur-unsur yang merusak peradaban.

Tulisan-tulisan ini memang bernuansa anti-islam. Mengapa saya melakukannya? Sebenarnya apa yang saya lakukan kurang lebih memiliki semangat yang sama seperti yang dilakukan oleh St. John of Damascus (676 – 479), atau juga Peter The Venerable (1092 – 1156) dalam tulisan-tulisan mereka tentang Islam. Bagi saya tulisan-tulisan ini bukanlah ekspresi kebencian, sebaliknya ini adalah sebuah ekspresi dari kecintaan saya pada kebenaran. Kalau anda mencintai kebenaran, pada saat yang sama anda juga akan membenci ketidakbenaran atau apapun yang melawan kebenaran (antitesis kebenaran). Tidak mungkin anda mencintai kebenaran tapi bersikap setuju terhadap antitesisnya. Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau agak pengecut!

Agama-Agama Misioner

Sebenarnya diantara semua agama-agama di dunia, kedua agama ini: kristianitas dan Islam, memiliki karakter khas yang sama yaitu agama yang bersifat misioner. Tapi keduanya memiliki doktrin yang berbeda dalam mewujudkan tujuannya.

Doktrin misioner Gereja dijiwai oleh ayat ini:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)

Sementara itu doktrin misioner Islam dijiwai ayat ini:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)

Silahkan cermati kedua ayat tersebut baik-baik… Yang satu mengajak orang untuk mengenal Yesus dan menjadikanNya sebagai teladan hidup, kemudian memberikan sarana keselamatan dalam rupa baptisan. Sedangkan yang satunya memisahkan manusia menjadi dua golongan: ‘beriman’ dan ‘tidak beriman/kafir’, lalu memerintahkan pihak ‘beriman’ untuk memerangi ‘kafir’ sampai mereka tunduk.

Tidak heran jika kedua agama ini memiliki kedua cara yang berbeda juga dalam upaya-upaya misionernya. Hampir empat abad pertama sejarahnya, Gereja perdana mampu menyebarkan ajaran Kristus sepenuhnya tanpa bantuan kekuasaan. Meski abad-abad selanjutnya Gereja juga berkolaborasi dengan kekuasaan, sejarah Gereja perdana menunjukkan bahwa kristianitas punya kemampuan untuk menyebar tanpa bantuan kekuasaan duiniawi. Kekuasaan bukanlah keharusan dalam karya misioner Gereja tetapi sekedar pilihan! Gereja punya kemampuan dialogis dan juga inkulturatif dalam mewujudkan karya misionernya.

Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang tanpa bantuan kekuasaan politik.

Bagi saya salah satu unsur yang membedakan keduanya (selain doktrin-doktrin ajarannya) adalah soal teladan hidup. Bagi Gereja, Yesus Kristus adalah teladan utama dan sempurna yang menjadi sumber inspirasi bagi para pengikutNya. Sebaliknya bagi Islam teladan terbaik yang tersedia mau tidak mau harus Muhamat. Mengajukan kandidat lain sebagai teladan jelas sebuah pelecehan dan penghujatan. Ironisnya Muhamat memiliki karakter yang kompleks, disamping memiliki perbuatan baik yang mungkin cukup layak diteladani Muhamat juga banyak melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji seperti menzinahi budak-budak, mengawini anak di bawah umur (6 tahun), membunuh, menjarah, dan banyak lagi.

Karena ketiadaan teladan yang layak maka Islam mau tidak mau harus disebarkan melalui propaganda (dakwah) yang hanya efektif jika didukung oleh kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam (syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik. Tidak percaya? Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!

Invasi Islam: Perang Jihad

Ketika St. John of Damascus menulis tentang Islam, dia melihat Islam hanya sebagai bidaah yang cukup diatasi dengan cara membongkar kekeliruannya. St. John of Damaskus tidak mengira bahwa Islam adalah sebuah agama baru yang sejak awal memang dirancang untuk menentang kristianitas dan peradaban manusia. Memang Islam juga berasal dari keturunan Abraham dan percaya pada nabi-nabi yang ada di Kitab Suci, tapi Islam tidak sungguh-sungguh berasal dari agama Abraham! Islam bukanlah gerakan bidaah penerus arianisme, Islam adalah agama baru yang berbeda!

Sejak awal berdirinya Islam sudah berlumuran darah. Muhamat sendiri memimpin tidak kurang dari 70 operasi peperangan atas nama penyebaran Islam. Dan perang atas nama agama ini tidak berhenti dengan meninggalnya Muhamat. Para pengikutnya dengan setia meneruskan semangat jihad ini untuk melakukan invasi ke luar wilayah Arab. Ini adalah fakta sejarah.

Memanfaatkan kelemahan kekaisaran Romawi Timur akibat konflik internal dan peperangan dengan Persia selama bertahun-tahun, tentara-tentara Islam terus melakukan jihad dengan menginvasi wilayah-wilayah yang pada awalnya merupakan basis kekristenan. Termasuk juga kota suci Yerusalem, ketika patriark Yerusalem St. Sophronios pada tahun 638 terpaksa harus menyerahkan kota suci ini pada penguasaan muslim untuk menghindari bahaya kelaparan dan penghancuran kota. Pada masa inilah Islam menodai kota suci Yerusalem dengan membangun mesjid ‘Dome of Rock’ tepat di tengah-tengah Gunung Bait Allah (Yahweh’s Temple Mount). Tindakan ini oleh St. Sophronios dianggap telah melanggar kesepakatan sebelumnya sehingga dia berteriak-teriak dan meratap, “Sungguh ini sebuah penghujatan dan perusakan yang dinubuatkan oleh Daniel!”

Tidak berhenti di situ saja, Islam terus melancarkan serangan jihadnya untuk menguasai Mesir, Armenia, Afrika Utara, dan provinsi-provinsi kekaisaran Rowawi Timur (Byzantium) . Bahkan pada tahun 711 tentara Islam berhasil memasuki Spanyol. Setidaknya dua per tiga wilayah kekristenan dirampas oleh keganasan jihad Islam. Seandainya Charles Martel dari Perancis tidak berhasil mematahkan serangan tentara Islam dalam pertempuran di Tours pada tahun 732, bukan mustahil seluruh Eropa akan berhasil ditaklukkan. Bahkan kota Roma sendiri juga pernah mendapatkan ancaman tentara jihad, ketika tahun 827 mereka menyerang Sicilia dan Korsika, lalu berlanjut dengan upaya penyerangan di sekitar kota Roma pada tahun 846.

Dari episode beberapa ratus tahun perang jihad ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Islam memang disebarkan melalui pedang. Muhamat boleh saja tidak berhasil memberikan teladan untuk hidup, tapi dia sangat berhasil memberikan teladan untuk mati: yaitu melancarkan jihad dengan imbalan surga penuh bidadari. Inilah warisan terbesar Muhamat untuk umat manusia: kultur kematian. Dan inilah wajah asli Islam yang sesungguhnya, yang entah mengapa sekarang ingin dihilangkan atau ditutup-tutupi dengan mempropagandakan Islam sebagai agama damai. Damai apanya?

Gereja Menentang Islam

Pada peperangan Manzikert, tahun 1071, Kekaisaran Bizantium mengalami kekalahan yang serius. Paus Gregorius II berupaya membantu dengan mengirimkan pasukan. Akan tetapi karena kekurangan dukungan, operasi ini tidak berhasil. Baru pada tahun 1095, Paus Urbanus II di Konsili Clairmont menyerukan upaya peperangan untuk mengambil alih kembali kota suci Yerusalem dari tangan kaum muslim. Ajakan heroik ini kemudian disambut oleh para pendengarnya dengan seruan: “Deus Vult”, atau “Tuhan menghendakinya!”

Ajakan Paus yang kemudian menyulut dimulainya Perang Salib sebenarnya bukanlah seruan yang bersifat ofensif. Ini adalah tanggapan yang sangat terlambat atas serangan dan invasi jihad Islam yang sudah berlangsung berabad-abad sebelumnya. Meski Perang Salib I ini meraih sukses dan berhasil merebut kembali Yerusalem, perang-perang salib berikutnya tidak. Sebagian besar wilayah-wilayah kekristenan yang diinvasi Islam selama perang jihad seperti Mesir, Siria, Turki dan Afrika Utara tidak pernah kembali lagi sampai sekarang. Ini ongkos yang sangat mahal akibat terlambatnya tanggapan Gereja atas invasi jihad Islam.

Bahkan Yerusalem hanya sanggup dikuasai selama 100 tahun dan kemudian terlepas lagi selama berabad-abad. Sampai akhirnya pada tahun 1917 Jendral Allenby memasuki kota Jerusalem dan menyatakan ini sebagai akhir dari Perang Salib, Yerusalempun terlepas dari tangan muslim sampai hari ini. Mungkin Jendral Allenby tidak pernah menyadari bahwa sikapnya saat memasuki Yerusalem yang seolah-olah menjadi akhir drama Perang Salib membuat sakit hati dan dendam berkepanjangan di kalangan muslim karena dipaksa menerima keadaan sebagai pihak yang kalah.

Belajar Dari Sejarah Dan Tanda-Tanda Jaman

Sekalipun beberapa tahun yang lalu Paus Yohanes Paulus II menyatakan permintaan maaf atas segala kesalahan dan tindakan atas nama Gereja, diantaranya selama Perang Salib, Inkuisisi, perang Katolik – Protestan, dan lain-lain, tidak sedikitpun Paus meminta maaf atau menyesal atas Perang Salib itu sendiri.

Dengan demikian Gereja menyadari bahwa tindakannya melawan invasi jihad Islam dan penodaan kota suci Yerusalem adalah benar dan sudah seharusnya. Apa yang digalang oleh Paus Urbanus II dan ditanggapi dengan penuh antusias oleh raja-raja dan putra-putra terbaik Gereja bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah kehendak Tuhan: Deus Vult!

Dalam konteks jamannya, mungkin seruan itu bertujuan untuk merebut kembali Yerusalem dan membantu Kekaisaran Bizantium merebut kembali wilayahnya yang dikuasai Islam. Tapi membatasinya pada konteks itu akan membuat kita gagal menangkap kehendak Tuhan dalam cakupan yang lebih luas!

Seruan perang Paus Urbanus II adalah sebuah pertanda pada jamannya bahwa Tuhan tidak menghendaki Islam menguasai dunia. Tuhan tidak menghendaki Islam menodai tempat-tempat suciNya! Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan SabdaNya dengan Alquran. Tuhan tidak menghendaki Islam menggantikan Agama Universal yang telah dibangunNya sendiri selama ribuan tahun! Lebih jauh lagi, seruan Paus Urbanus II juga berarti bahwa Tuhan menghendaki umatNya tidak tinggal diam menerima nasib, tapi melawan dengan semangat yang suci didasari kecintaan pada Tuhan dan Gereja!

Seruan perang ini tidak pernah ditarik kembali, dengan demikian semangatnya masih tetap hingga hari ini. Tapi perang ini tidak selalu berarti dengan senjata dan kekerasan, tentunya perlu disesuaikan dengan konteks jaman. Jika St. Bernard of Clairvaux memilih panggilan ini dengan mengangkat senjata, pada saat yang sama Bl. Peter The Venerable memilih panggilan ini dengan cara intelektual: “…aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami, dengan senjata, tapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan tapi dengan akal-budi, bukan dengan kebencian tapi dengan kasih. Aku sungguh mengasihimu, dan aku memang menulis kepadamu, aku mengajakmu pada keselamatan.”

Islam Agama Damai, Sebuah Topeng

Dalam konteks jaman sekarang cara yang ditempuh oleh Peter The Venerable mungkin lebih sesuai untuk menanggapi panggilan Gereja yang diserukan berabad-abad lalu. Tapi menjadi pertanyaan, apakah kita harus menganggap Islam sebagai musuh yang harus diperangi dan dilawan? Sebenarnya tidak juga! Jika bisa dilakukan dengan dialog dan saling pengertian mengapa memilih jalan perang? Upaya untuk melakukan dialog dan menjadikan Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban manusia terus-menerus dilakukan Gereja, bahkan sampai sekarang.

Tetapi hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa Islam memang merupakan antitesis dari Gereja. Islam sejak awal berdirinya memang bermaksud melawan Gereja dan seluruh ajarannya. Tak ada yang dapat mengubah ini, bahkan para malaikat dari surga sekalipun! Sangat berbahaya memelihara anak macan, suatu saat macan tersebut menjadi besar dan akan menerkam anda saat merasa lapar! Demikian juga kurang bijaksana dan sia-sia mencoba percaya bahwa Islam tidak memusuhi Gereja, karena secara alamiah Islam memang dirancang sebagai antitesis dari Gereja!

Gereja punya wewenang untuk menafsirkan Sabda Tuhan dan mengambil berbagai kebijakan sesuai konteks jaman, termasuk mencoba menerima Islam sebagai mitra dalam membangun peradaban. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa tidak ada orang Islam atau organisasi Islam yang bisa dan berhak mengubah ajaran Islam. Jika sejak awal Islam memang dimaksudkan menjadi antitesis Gereja, maka Islam akan tetap seperti itu sampai kapanpun!

Anda mungkin akan bertanya, ajaran Islam memang tidak berubah tapi penafsirannya tentu bisa disesuaikan dalam konteks jaman dan orang-orang Islam yang berniat baik dapat menafsirkannya untuk kebaikan manusia tanpa harus bersikap memusuhi agama lain. Tapi masalahnya tidak ada penafsiran yang bersifat resmi dan mengikat dalam Islam. Penafsiran yang bersahabat, moderat, dan pluralis hanyalah salah satu dari sekian banyak penafsiran yang sama benarnya menurut Islam!

Akibatnya posisi golongan Islam moderat ini menjadi menjadi sedikit unik. Penafsiran mereka tidak ditolak oleh golongan Islam yang lain, tapi juga tidak didengarkan! Umumnya penafsiran Islam moderat ini tidak populer dan tidak membumi. Penafsiran semacam ini hanya menjadi konsumsi kaum intelektual dan pihak luar Islam. Jadilah Islam moderat sebagai juru bicara atau PR yang sangat efektif menggambarkan Islam sebagai agama damai, sementara rekan-rekannya dari golongan lain dengan tenang menyiapkan rencana serangan bom bunuh diri dan rudal nuklir.

Menurut saya, dari pada golongan moderat ini sibuk membersihkan citra buruk Islam dan berupaya menggambarkan Islam sebagai agama damai kepada orang lain, jauh lebih baik mereka meyakinkan penafsiran moderat itu kepada teman-temannya sendiri sesama muslim! Semoga dengan cara itu mereka bisa menjadikan dunia lebih damai.

Dunia Menentang Islam

Upaya Gereja untuk membangun dialog yang konstruktif dan bersahabat dengan Islam mencapai puncaknya pada jaman Paus Yohanes Paulus II. Untuk pertama kalinya seorang Paus memasuki sebuah mesjid di Siria dengan rasa hormat dan menyatakan Islam bersama Yahudi dan Kristen adalah ‘tiga anak-anak Abraham’. Tapi segala upaya yang dilakukan tidak menghasilkan buah yang sepadan, ‘kambing tidak juga berubah menjadi domba’. Upaya dialog hanya berpengaruh pada golongan elit kaum moderat tapi di tingkat ‘grass-root’ wajah Islam yang penuh kekerasan dan tidak toleran justru lebih alami, lebih mudah diterima, dan lebih populer. Tidak heran jika tindakan teror dan kekerasan atas nama Islam semakin menjadi fenomena umum.

Era wajah lemah-lembut Gereja kepada Islam mulai berubah menjadi lebih tegas pada jaman Paus Benediktus XVI. Sebelumnya Paus Yohanes Paulus II masih menyebut terorisme kaum fundamentalis berakar pada rasa ketidakadilan. Tapi dengan mengutip perkataan Kaisar Manuel II Paleologus mengenai Muhamat yang hanya membawa ‘kejahatan dan ketidakmanusiawian’ Paus Benediktus XVI seolah mengisyaratkan bahwa akar kekerasan itu ada di dalam ajaran yang dibawa Muhamat! Saya tidak menganggap ini sebuah kebetulan, dan meski Paus menyesali kemarahan kaum muslim, dia tidak pernah menarik ucapannya!

Di atas telah saya singgung bahwa Islam memang diciptakan dan dirancang sebagai antitesis dari Gereja dan seluruh ajarannya. Sebagai konsekuensi lanjutannya, yang menjadi lawan Islam tidak hanya Gereja, tapi juga seluruh dunia! Ketika Gereja berupaya membangun peradaban dan kultur kehidupan, Islam dengan sikap intoleran dan kekerasan yang mengatasnamakan agama justru berupaya menghancurkan peradaban dan membangun kultur kematian!

Bukan sebuah kebetulan jika seorang anggota parlemen Belanda yang atheis bernama Geertz Wilders membuat sebuah film berjudul FITNA yang isinya menunjukkan keterkaitan antara ajaran Islam dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama Islam! Di akhir film FITNA Geertz Wilder dengan singkat dan tegas mengajak penontonnya untuk menyadari bahaya Islam dan menghentikan proses islamisasi yang mulai melanda Eropa. Geertz Wilders tidak sedang menyerang Islam, sebaliknya dia hanya berusaha mempertahankan kebebasan dan kedaulatan negerinya dari serangan Islam. Menyadari hal ini, selesai menonton film FITNA saya berteriak (tentu saja dalam hati): Deus Vult!

Bagi saya ini juga sebuah tanda-tanda jaman. Dulu beberapa abad yang lalu Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib melawan Islam, selain itu banyak orang suci seperti St. John of Damascus, St. Bernard of Clairvaux atau juga Bl. Peter The Venerable yang sudah menyadarkan kita akan kekeliruan Islam. Kini seorang atheis juga menyuarakan seruan yang senada untuk melawan Islam. Dengan demikian Islam telah disadari sebagai musuh, tidak hanya oleh mereka yang beragama tapi juga yang tidak beragama. Islam seolah menjadi musuh seluruh kemanusiaan!

Lalu bagaimana kita menanggapi seruan ini? Tuhan jelas menghendaki kita bangkit melawan, bukan diam dan tidak peduli. Tentu saja saya tidak sedang menyarankan anda ikut latihan militer dan belajar merakit bom. Itu bukan konteks yang tepat untuk saat ini dan akan membuat kita tidak berbeda dengan apa yang kita lawan. Kita bisa mengikuti apa yang dilakukan Peter The Venerable: dengan kata-kata, akal-budi, dan kasih! Bukan untuk menghancurkan tapi untuk menyelamatkan.

Akan tetapi kita perlu belajar dari sejarah, apapun yang anda lakukan tidak pernah dapat mengubah Islam itu sendiri. Dari awalnya Islam memang diciptakan sebagai antitesis Agama Universal dan tidak mungkin berubah sampai kapanpun. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Agama Universal yang telah diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi mungkin akan mengubah pengikutnya. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.

Islam Sebagai Antitesis Agama (3): Visi Peradaban

Maret 1, 2008 pukul 9:39 am | Ditulis dalam Islam Sebagai Antitesis Agama | 1 Komentar

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru,
sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama
telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah,
yang berhias bagaikan pengantin perempuan
yang berdandan untuk suaminya.
(Why. 21:1-2)

Dewasa ini cukup banyak orang yang mempertanyakan apakah kehadiran agama masih cukup relevan? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik tentu perlu diketahui hal penting apa yang dapat diberikan agama pada manusia yang tidak mampu diberikan oleh apapun sebaik agama. Salah satunya adalah: tujuan hidup. Untuk apakah manusia hidup dan kemanakah manusia seharusnya mengarahkan hidupnya? Ada banyak yang berupaya memberi jawaban, termasuk diantaranya filsafat dan sains, tapi pertanyaan ini secara khas mendapat jawaban terbaiknya dalam agama.

Bukan hanya tujuan hidup yang bersifat personal, tapi bahkan untuk seluruh umat manusia agama mampu memberikan sebuah visi peradaban global yang secara ideal menjadi akhir perjalanan peradaban manusia. Dalam ayat yang saya kutip di atas tampak jelas bahwa dalam kristianitas peradaban manusia akan berakhir pada suatu tatanan peradaban baru yang ideal dan sempurna, yang merupakan duplikat dari kehidupan surgawi.

Memang benar, itu tadi adalah gagasan dari kristianitas dan anda mungkin akan bertanya, bukankah ada banyak agama? Jika ada banyak agama, tentu ada banyak visi peradaban yang berbeda-beda. Atas hak apa kristianitas menjadikan visinya menjadi visi universal umat manusia? Jawaban saya adalah atas dasar obyektivitas. Dari semua visi peradaban yang ditawarkan agama-agama, adakah yang lebih baik dari sebuah peradaban surgawi? Inilah puncak peradaban yang ditawarkan kristianitas pada manusia!

Satu Kapal Satu Nahkoda

Pernahkah anda mengetahui ada sebuah kapal yang dinahkodai oleh dua orang atau lebih? Saya belum pernah, dan saya yakin tidak pernah ada karena kapal semacam itu sudah tentu tidak pernah sampai ke tujuan dan mungkin akan tenggelam di tengah lautan. Perlunya satu kapal dikendalikan oleh hanya satu orang nahkoda adalah sebuah kebenaran yang kita terima begitu saja secara wajar. Tapi anehnya banyak orang, terutama kaum pluralis, merasa alergi kalau saya katakan bahwa peradaban manusia ini juga hanya membutuhkan satu agama universal dengan satu visi global untuk menjadi nahkoda yang mengarahkan kemana peradaban manusia ini hendak menuju. Seperti misalnya Paul F. Knitter dalam bukunya “No Other Name?” yang agaknya merasa malu dengan ajaran Gereja yang menempatkan Kristus sebagai jalan keselamatan satu-satunya.

Banyak agama sudah pasti memunculkan banyak visi. Dulu, pada saat manusia masih hidup dalam komunitas-komunitas yang cenderung terpisah satu sama lain adanya agama-agama lokal mungkin memang diperlukan untuk menjadi visi peradaban (sementara) bagi komunitas tersebut. Eyang saya orang jawa, yang karena segala keterbatasan situasi dan kondisi pada masa itu hanya mengenal agama Islam dan kejawen. Tentu saja apa yang baik dalam kedua jenis kepercayaan itu cukup untuk menjadi jalan kebenaran bagi mereka. Dari sini saya dapat memahami kebenaran dari sikap inklusif Gereja sebagaimana diungkapkan Karl Rahner bahwa agama-agama lain pada batasan tertentu juga mengarahkan manusia pada keselamatan karena mengajarkan kristianitas secara anonim.

Tapi itu situasi yang mungkin hanya cocok sampai pada milenium kedua. Pada milenium ketiga, yaitu sekarang, secara umum semua orang memiliki akses untuk mengenali agama universal. Manusia semakin lama semakin membaur menjadi satu komunitas global. Sekat-sekat yang dahulu membatasi perjumpaan antar bangsa, tradisi, dan iman sudah terkikis oleh kemajuan jaman. Ini realitas yang tidak bisa dibantah atau dihalangi. Dalam kondisi seperti ini kehadiran banyak visi peradaban sebagaimana yang ditawarkan agama-agama hanya akan membuat manusia kebingungan dan justru kehilangan visi peradaban yang sesungguhnya. Akibatnya peradaban manusia akan kehilangan arah dan jalan di tempat. Satu komunitas manusia global seharusnya membutuhkan hanya satu visi peradaban yang universal, yang berasal dari satu agama universal!

Dengan demikian dalam komunitas global kehadiran banyak agama dengan beragam visi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Manusia harus menerima kenyataan bahwa kemajemukan agama adalah realitas masa lalu yang segera hilang ditelan perjalanan sejarah. Tugas agama-agama lokal dan parsial sudah saatnya berakhir, untuk itu perlu kita sampaikan ucapan terima kasih pada agama-agama masa lalu itu dan menempatkan mereka pada bagian yang cukup terhormat dalam panggung sejarah umat manusia. Sayang sekali tidak banyak orang yang siap menerima kenyataan ini.

Visi Bersama Agama-Agama

Bagi kaum pluralis ide-ide perlunya umat manusia memiliki satu visi yang berasal dari satu agama universal tidak dapat diterima. Bagi mereka itu adalah ungkapan kesombongan agama tertentu dan sekaligus pelecehan terhadap kemanusiaan. Dalam pandangan mereka visi peradaban universal, kalau itu ada, seharusnya merupakan visi bersama yang diterima semua agama, bukan visi agama tertentu. Setidaknya upaya mencari titik temu agama yang digagas kaum pluralis seperti Fritjof Schuon, Harold Coward, John Hick, Huston Smith, dan lain-lain mengarah pada ide yang demikian. Manusia, menurut mereka, mampu memutuskan sendiri visi peradabannya berdasarkan apa yang diberikan dan disepakati oleh semua agama-agama manusia.

Tapi pandangan ini memiliki kelemahan yang mendasar. Siapa yang memutuskan visi bersama itu sebagai visi universal dan atas dasar apa visi bersama ini menjadi visi universal yang bersifat tetap dan mengikat? Tidak ada yang mampu menjamin itu! Akibatnya visi bersama, kalaupun itu berhasil diupayakan, hanya merupakan visi bersama yang bersifat sementara, tidak memiliki kekuatan yang mengikat dan dapat berubah-ubah oleh selera jaman. Selain itu, karena sifatnya yang kompromis pastilah dangkal.

Salah satu contoh upaya kompromi ini adalah ‘Global Ethic’ gagasan Hans Kung dan Karl-Josef Kuschel yang mau tidak mau membatasi cakupannya pada relasi antar manusia. Memang ‘Global Ethic’ tidak dimaksudkan untuk menjadi visi peradaban, tapi itu sebuah contoh dangkalnya hasil yang dicapai dari upaya kompromi agama-agama. Nasib yang sama akan terjadi kalau manusia mengupayakan visi bersama agama-agama. Apalagi kalau manusia mau mencoba menentukan visinya sendiri secara independen di luar ajaran agama-agama, keadaannya bisa jadi akan lebih parah. Visi yang bersifat dangkal (karena bersifat kompromistis) dan sementara (tidak mengikat, bisa direvisi sewaktu-waktu) bukanlah visi peradaban global.

Gereja Universal Dan Visi Peradaban Global

Seperti yang saya ungkapkan di bagian awal, Gereja universal telah menawarkan sebuah visi peradaban berupa sebuah peradaban surgawi. Memang ini terasa arogan dan tidak akan menyenangkan bagi mereka yang tidak mengimani Kristus. Tapi secara teoritispun peradaban semacam ini adalah peradaban terbaik yang mungkin dicapai oleh manusia.

Memang setiap agama tentu punya visi peradabannya sendiri, tapi seperti apa visi peradaban yang ditawarkan dan bagaimana agama-agama itu menjadikan visi peradaban tersebut sebagai kesadaran umat? Saya belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Sebaliknya, peradaban surgawi yang ditawarkan Gereja sebagai tujuan akhir perjalanan peradaban manusia tidak hanya berhenti sebagai konsep teoritis dan asumsi teologis saja tapi terus-menerus ditanamkan sebagai harapan dan kesadaran umat. Bagi saya, sejak awal berdirinya Gereja memang sudah dirancang untuk membawa manusia pada sebuah peradaban surgawi. Ini akan tampak jelas sekali dalam doa satu-satunya yang diajarkan Yesus di dalam Injil:

Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namamu
Datanglah KerajaanMu
Jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam Surga……

Dalam teks doa ini terkandung jelas sebuah harapan akan datangnya peradaban baru yang ideal, peradaban surgawi yang hadir di bumi sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Lalu seperti apa gambaran peradaban surgawi itu akan tampak pada lanjutan doa ini:

Berilah kami rejeki pada hari ini

Dalam peradaban baru itu manusia tidak akan mengalami kekurangan kebutuhan sehari-hari, Tuhan akan menyediakannya.

Dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami

Dalam peradaban baru itu akan hadir perdamaian yang sejati, yaitu perdamaian dengan Tuhan dan sesama.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Dalam peradaban baru itu tidak akan ada lagi penderitaan dan kejahatan.

Saya yakin Yesus mengajarkan doa-doa lain juga, tapi bukan sebuah kebetulan jika doa ini adalah satu-satunya doa yang diajarkan Yesus yang tercatat dalam Injil. Tampaknya doa ini memang dimaksudkan menjadi doa seluruh Gereja sekaligus seluruh umat manusia yang akan membawa peradaban manusia menuju peradaban surgawi. Doa Bapa Kami adalah doa yang membangun peradaban baru. Sejauh yang saya tahu tidak ada doa yang sedahsyat ini.

Islam Dan Visi Peradaban Global

Dalam kaitannya dengan peradaban manusia Islam memiliki posisi yang sedikit janggal. Islam mengaku sebagai agama pamungkas yang mengakhiri rangkaian pewahyuan nabi-nabi. Tapi visi peradaban yang ditawarkan Islam pada manusia tidak begitu jelas apakah lebih baik dari peradaban surgawi yang sudah ditawarkan oleh Gereja.

Ada beberapa hal dalam Islam yang justru membuat saya sangat yakin bahwa Islam tidak mampu menawarkan peradaban yang ideal bagi manusia. Banyak prinsip-prinsip dan ajaran Islam yang justru bersifat menghancurkan peradaban manusia. Saya akan paparkan beberapa kelemahan mendasar Islam dalam konteks ini:

1. Islam tidak memiliki gambaran ideal peradaban manusia yang damai.

Ketika Gereja merujuk Kerajaan Surga sebagai gambaran ideal peradaban manusia, Islam tidak memiliki rujukan apa-apa untuk visi peradabannya selain peradaban teoritis yang disebut Darul Islam. Jangan dulu bicara soal surga sebagai rujukan, gambaran Islam tentang surga ternyata sangat duniawi. Seperti misalnya hidup yang penuh kenikmatan karena dikawinkan dengan banyak bidadari (Ath-Thuur:17-20).

Ini dapat dipahami karena Muhamat, seperti kebanyakan manusia umumnya, memang tidak pernah tahu seperti apa itu surga. Jadi gambarannya tentang surga tidak lebih dari proyeksi imajinasinya sendiri yang kebetulan sangat terobsesi pada kenikmatan seksual. Dengan demikian di Islam yang terjadi serba terbalik, bukannya berharap peradaban manusia menjadi seperti kehidupan surgawi tapi justru gambaran tentang kehidupan surga yang menjadi seperti kehidupan duniawi, hanya saja dengan kenikmatan tanpa batas.

Dalam pandangan Islam, puncak peradaban manusia adalah terbentuknya Darul Islam yang bersifat global. Tapi sayangnya Islam tidak mempunyai cara lain yang efektif untuk mewujudkan itu selain melalui kekerasan (dengan berbagai manifestasinya). Secara teoritis mungkin saja Islam mengajarkan dan membawa damai, setidaknya begitulah klaim mereka. Bahkan banyak kalangan Islam moderat mencoba dengan berbagai upaya untuk menunjukkan wajah Islam yang penuh damai. Tapi kenyataan sejarah menunjukkan fakta yang bertentangan.

Sejak awal sejarahnya Islam tidak pernah berkembang dengan cara damai, Islam selalu menggunakan kekerasan, baik melalui kekuatan senjata maupun dominasi ekonomi / politik. Tidak heran jika seorang kaisar Byzantium, Manuel II Paleologus, sebagai seorang saksi jaman pada masa ekspansi Islam mengatakan: “Tunjukkanlah sesuatu yang baru yang dibawa Muhammad, dan yang Anda temukan hanyalah kejahatan dan ketidakmanusiawian, seperti dalam perintahnya untuk menyebarkan iman dengan pedang.” Kutipan ini menjadi sangat populer karena pernah dikutip oleh Paus Benedictus XVI dan menjadi kontroversi. Sang kaisar tentu tidak berbicara tanpa dukungan fakta yang diketahuinya. Bahkan kenyataan sejarah menunjukkan Muhamat sendiripun terlibat dalam banyak peperangan demi menyebarkan Islam. Secara praktis tak ada satu fase sejarah yang signifikan dimana Islam berkembang dengan damai tanpa campur tangan kekuasaan.

Jika Muhamat sendiri tidak mampu mengembangkan Islam dengan damai, apa mungkin pengikutnya bisa melakukan yang lebih baik? Kalau sudah seperti itu bagaimana mungkin Islam menawarkan sebuah peradaban masa depan yang damai kepada manusia? Ada pepatah bijak, jangan pernah percaya pada orang telanjang yang menawari anda baju, kemungkinan besar anda akan ditipunya.

2. Islam juga tidak mampu membangun komunitas manusia yang baik

Kalau membangun peradaban yang damai berada di luar jangkauan Islam, kita akan turunkan lagi standarnya menjadi sekedar membangun komunitas manusia. Tapi untuk inipun ternyata ajaran Islam tidak memiliki kualifikasi yang cukup. Ini bukan tuduhan yang mengada-ada. Saya mengacu pada prinsip sederhana: barangsiapa tidak dapat melakukan hal kecil dengan baik, jangan berharap dapat melakukan hal besar. Bagaimana mungkin Islam dapat membangun komunitas manusia yang baik, atau bahkan peradaban yang baik, jika Islam tidak memiliki ajaran yang memadai tentang perkawinan?

Bandingkan ini dengan ajaran Gereja tentang perkawinan yang bersifat sakral, monogami dan tak terceraikan. Perkawinan dalam Islam tidak pernah merupakan perkawinan yang sakral, melainkan sekedar sebuah kontrak perjanjian manusiawi yang setiap saat bisa dibatalkan. Kehadiran Tuhan dalam janji perkawinan hanya sekedar hiasan pemanis atau alat legalitas saja, tidak lebih. Sepasang mempelai Islam yang baru menikah akan sangat yakin bahwa pasangannya adalah jodoh yang telah ditentukan Tuhan. Tapi setelah dua tahun menikah kemudian mereka bercerai, menurut mereka hal itu adalah kehendak Tuhan karena mereka tidak berjodoh. Tidak jelas Tuhan mana yang betul, yang mengawinkan mereka atau yang menceraikan mereka.

Islam juga mengijinkan poligami, dengan embel-embel asalkan dapat berlaku adil. Siapapun yang mau menggunakan akal sehatnya akan tahu bahwa perkawinan poligami tidak pernah adil, sehebat apapun keadilan itu diupayakan. Perkawinan poligami pada dasarnya sudah mengandung unsur ketidakadilan yang melekat. Dimana letak keadilan bagi seorang istri yang menyerahkan diri dan cinta seutuhnya bagi seorang suami sementara sang suami tidak pernah mampu memberikan diri dan cinta seutuhnya bagi sang istri karena harus membaginya dengan istri yang lain? Akhirnya pengertian keadilan dalam perkawinan poligami hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat material dan dangkal seperti harta, waktu kunjungan, dan sebagainya.

Lebih jauh lagi perkawinan poligami hanya bisa berlangsung dengan baik jika diikuti dengan tindakan-tindakan manipulatif: si teteh diberi pengertian bahwa itu semua sudah takdir dan kehendak Tuhan, bahwa penderitaan karena ikhlas dimadu adalah sesuatu yang mulia di mata Tuhan, dan sebagainya, sementara si aak cengar-cengir setiap malam menikmati istri baru.

Fakta yang lebih menyedihkan tentang perkawinan islami akan banyak kita temukan dengan melihat sejarah kehidupan Muhamat, nabi mereka. Tidak perlu saya paparkan semua disini, cukup saya ambil kasus yang mungkin paling menonjol yaitu perkawinan Muhamat (yang berusia lebih dari setengah abad) dengan Aisyah yang baru berusia 6 tahun. Bukan hanya perkawinan semacam itu menunjukkan sifat pedofil Muhamat, tapi jelas sekali tidak mungkin dilandaskan oleh adanya unsur saling cinta. Bagaimana mungkin seorang Aisyah yang berusia 6 tahun dapat memahami apa itu cinta suami-istri? Dari sini jelas sekali bahwa perkawinan dalam Islam tidak perlu dilandasi oleh unsur cinta, tapi bisa unsur lain seperti kepentingan politik, ekonomi, atau sekedar hawa nafsu. Soal perkawinan yang berdasarkan hawa nafsu, ini terlihat pada adanya konsep nikah mut’ah yang kontroversial itu dimana sepasang suami-istri dapat melakukan ikatan perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu. Edan….

Jika Islam tidak mampu meletakkan cinta dan keadilan sebagai landasan dari perkawinan islami, bagaimana mungkin Islam mampu membangun keluarga yang baik? Karena keluarga adalah bentuk komunitas yang paling kecil dan sederhana, jika Islam tidak mampu membangun keluarga yang baik bagaimana mungkin Islam membangun komunitas manusia yang baik? Sudah jelas tidak mungkin.

3. Islam bahkan tidak memahami awal mula kehidupan

Sangat ironis, ajaran Islam ternyata memiliki kesalahan yang fatal dalam memahami awal mula kehidupan. Gereja mengajarkan bahwa kehidupan manusia dimulai saat pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, sekalipun masih dalam bentuk organisme yang sangat sederhana, embryo sudah memiliki martabat manusiawi dan dihargai sebagai pribadi. Lalu apa kata Islam tentang awal mula kehidupan? Entah ilham dari mana dan atas dasar apa ajaran Islam mengatakan, dengan merujuk pada hadis, bahwa roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah terjadinya pembuahan.

Secara ideal, pembuahan adalah hasil dari persetubuhan dua manusia yang terikat dalam sebuah perkawinan. Dan persetubuhan adalah ungkapan cinta kasih suami-istri. Jadi hadirnya kehidupan adalah buah dari cinta kasih, oleh sebab itu hadirnya kehidupan tidak bisa dipisahkan dari cinta kasih.

Tapi dengan mengajarkan roh kehidupan baru ditiupkan 40 hari setelah pembuahan maka hadirnya kehidupan bukan lagi merupakan ungkapan dari cinta kasih tapi semata-mata sebuah mekanisme biologis. Dalam ajaran Islam kehadiran kehidupan dipisahkan dari cinta kasih. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap martabat kehidupan manusia. Saya tidak ragu mengatakan ini ajaran sesat.

Konsekuensi yang mengerikan dari ajaran sesat ini cepat atau lambat akan segera mengikuti. Beberapa waktu yang lalu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa aborsi adalah halal bagi wanita korban perkosaan jika dilakukan sebelum usia 40 hari kehamilan. Ini sebuah langkah yang semakin mendekati legalisasi aborsi. Karena janin yang berusia di bawah 40 hari dianggap bukan manusia dan tidak memiliki roh kehidupan maka bisa seenaknya dimusnahkan untuk alasan-alasan tertentu.

Sama sekali tidak jelas atas dasar apa angka 40 hari itu diambil, tapi ini sebuah spekulasi teologis yang sangat berbahaya dan kehidupan manusia menjadi taruhannya. Dengan mengajarkan prinsip sesat ini Islam akan membuat banyak sekali wanita-wanita dan semua orang yang terlibat dalam proses aborsi menjadi pembunuh-pembunuh berdarah dingin. Melalui ajaran sesatnya Islam mengarahkan mereka semua ke pintu neraka seperti menggiring sekawanan domba ke tempat pembantaian!

Agama Anti Peradaban

Membandingkan visi peradaban yang ditawarkan Gereja dan visi peradaban Islam sama seperti membandingkan langit dan bumi. Peradaban surgawi yang ingin dicapai oleh Gereja dibangun dengan pertama-tama menghargai martabat kehidupan sejak saat pembuahan dan menempatkan kehidupan sebagai buah dari cinta kasih. Lalu Gereja mempersiapkan peradaban surgawi itu dengan membangun unit terkecil peradaban manusia, yaitu keluarga dengan membentuk lembaga perkawinan yang sakral, monogamis dan tak terceraikan, yang didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan. Selanjutnya peradaban surgawi ini juga diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan dan upaya manusiawi tetapi juga dengan membuka diri pada penyertaan dan kuasa Tuhan, salah satunya melalui doa yang mengubah peradaban: Doa Bapa Kami.

Sedangkan Islam, jangankan bicara soal membangun peradaban, membangun lembaga perkawinan yang sakral dan didasari cinta kasih, keadilan dan kesetaraan sebagai prasyarat untuk membangun unit terkecil komunitas manusia yang membentuk peradaban saja Islam sudah tidak mampu.

Mengingat kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas, ajaran Islam tampaknya tidak dimaksudkan untuk membangun sebuah peradaban manusia yang sejati. Sebaliknya ajaran-ajaran itu, yang di dalamnya terkandung kultur kekerasan dan kematian, justru berupaya melemahkan dan menghalangi hadirnya peradaban surga di bumi. Kesimpulan sederhana saya: Islam pada dasarnya adalah agama yang anti-peradaban.

Meskipun demikian bukan berarti upaya menghadirkan peradaban Islam (yaitu Darul Islam yang bersifat global) tidak ada. Upaya ini berlangsung terus dengan berbagai cara. Namun karena sejak awal berdirinya Islam tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun peradaban dengan jalan damai, maka yang digunakan adalah sarana-sarana kekuasaan politik, dominasi ekonomi, dan kalau perlu dengan teror. Jadi jangan heran kalau terorisme dan Islam itu seperti bersaudara.

Tapi seberapa lama peradaban semu yang dibangun dengan kekuasaan dan kekerasan ini dapat bertahan? Sejarah membuktikan kekalifahan Islam yang pernah hadir pada awal terbentuknya Islam hanya bertahan beberapa abad saja. Nasib yang sama juga akan dialami oleh peradaban Islam di masa sekarang, jika itu ingin diwujudkan lagi.

Islam Sebagai Antitesis Agama (2): Sabda-sabda Tuhan

Februari 26, 2008 pukul 3:38 am | Ditulis dalam Islam Sebagai Antitesis Agama | 11 Komentar

Tetapi sekalipun kami atau
seorang malaikat dari sorga yang memberitakan
kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan
Injil yang telah kami beritakan kepadamu,
terkutuklah dia.
( Gal.1:8 )

Setiap agama memiliki kitab sucinya masing-masing yang menjadi dasar dari ajarannya. Hindu memiliki kitab Veda yang merupakan kumpulan dari pengetahuan spiritual bangsa Arya selama berabad-abad dan kemudian dikumpulkan oleh Rsi Vyasa. Agama Budha memiliki Tripitaka yang merupakan kumpulan perkataan-perkataan Sang Budha yang dikumpulkan dan dikodifikasi oleh para bhiksu pengikutnya beberapa abad setelah kematian Sang Budha. Agama Yahudi memiliki kumpulan kitab-kitab Taurat, kitab Mazmur, kitab-kitab para nabi, kitab sejarah dan berbagai kitab kebijaksanaan yang muncul dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Yahudi. Kristianitas memiliki kitab-kitab Perjanjian Lama (kitab-kitab Yahudi) dan Perjanjian Baru (Injil dan tulisan-tulisan para rasul). Dan tentu saja tidak mau ketinggalan, Islam juga memiliki Alquran yang dipercaya sebagai sabda Tuhan yang turunkan pada Muhamat melalui perantaraan malaikat Gabriel.

Untuk mencegah pembahasan yang terlalu luas dan kehilangan fokus saya tidak akan membahas mengenai kitab-kitab Hindu dan Budha, cukuplah kalau saya katakan kitab-kitab itu berisi ajaran-ajaran mulia yang berupaya mengajarkan manusia untuk meraih kebenaran.

Alquran, Kitab Suci Pamungkas?

Kerap kita dengar, bahkan mungkin sejak jaman sekolah dulu, bahwa Islam adalah agama terakhir yang muncul dari rangkaian agama wahyu yang berasal dari keturunan Abraham. Tampaknya logika ini masuk akal karena memang Islam baru muncul pada abad ke 6 setelah kemunculan kristianitas yang menjadi penerus Yahudi. Seolah seperti mengikuti pola kristianitas yang mengklaim sebagai kelanjutan dan penggenap (penyempurna) ajaran yang diterima bangsa Yahudi, Islampun mengklaim dirinya sebagai penggenap dan penyempurna seluruh rangkaian ajaran agama yang diturunkan para nabi sebelumnya.

Salah satu klaim bombastis Islam adalah kebanggaan Islam atas kemurnian Alquran yang konon tidak mengandung perubahan sejak awal tersusunnya sampai pada detik ini. Tapi sebenarnya hal ini masih dapat mengundang perdebatan karena kitab Alquran yang kita kenal sekarang ini ternyata usianya belum melampaui satu abad. Alquran ini adalah Alquran edisi Mesir yang dicetak 1924, salah satu diantara beberapa versi Alquran yang beredar di kalangan muslim. Dengan bantuan dana dari Kerajaan Arab Saudi, edisi ini kemudian dicetak besar-besaran dan membanjiri dunia sehingga keberadaan edisi-edisi lain menjadi terpinggirkan dan akhirnya dunia hanya mengenal edisi ini sebagai satu-satunya Alquran yang ada. Jadi klaim kemurnian Alquran sebenarnya masih dapat dipertanyakan dan bukti adanya beberapa versi Alquran cukup melemahkan klaim tersebut.

Tapi saya tidak akan mempermasalahkan ini, ada hal lain yang lebih mendasar yang nantinya akan menunjukkan apakah Alquran ini memang sungguh-sungguh kitab suci yang berasal dari Tuhan ataukah sebaliknya.

Kenyataannya, disini ada dua klaim yang saling berhadap-hadapan. Bagi kristianitas, Kitab Suci (PL & PB) adalah Sabda Tuhan yang benar dan otentik, sebaliknya bagi Islam justru Alquranlah yang merupakan Sabda Tuhan yang benar dan otentik serta menjadi pelurus atau penyempurna semua kitab-kitab para nabi sebelumnya. Dan ironisnya kedua klaim ini saling menegasikan satu sama lain, artinya jika klaim kristianitas yang benar maka kehadiran Alquran sama sekali tidak diperlukan. Sebaliknya kalau klaim Islam yang benar maka Alkitab juga harus ditinggalkan umatnya untuk beralih ke Alquran. Dengan cara apapun tidak mungkin kedua klaim ini sama benarnya.

Superioritas Kitab Suci

Tapi tentu saja tidak bijaksana kalau menggugat klaim pihak lain hanya berdasarkan klaim sepihak, itu hanya akan menjadi perbantahan yang tidak ada habisnya (“your words againts my words”). Harus ada suatu kriteria yang setidaknya dapat menjadi tolok ukur yang dapat membedakan mana kitab suci yang benar/otentik dan mana yang palsu.

Dari sekian banyak upaya untuk mengatasi permasalahan ini saya belum melihat adalanya kriteria yang cukup tegas yang dapat dipakai untuk membedakan mana kitab suci buatan Tuhan dan mana yang bukan. Padahal secara logika jika benar sebuah kitab suci itu berasal dari Tuhan sebagaimana dipercaya pendukungnya, tentunya kitab suci itu akan memiliki superioritas yang tak tertandingi oleh kitab-kitab manapun yang tidak dibuat oleh Tuhan. Sampai disini saya kira anda semua akan setuju dengan saya.

Seandainya saja kita bisa menemukan kriteria ini (dan bisa sepakat), maka perdebatan mengenai Kitab Suci sudah bisa diakhiri. Manusia tidak lagi perlu berdebat mengenai kitab suci mana yang benar tapi mulai ke tahap yang lebih produktif: bagaimana memahami dan mengaplikasikan ajaran kitab Suci untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Saya percaya jika suatu kitab suci itu sungguh-sungguh berasal dari Tuhan, tentunya kitab itu memiliki unsur yang tidak tertandingi oleh kitab-kitab lain. Karena unsur ini tidak tertandingi, dapat saya katakan bahwa unsur ini tentunya hanya dapat dibuat oleh Tuhan sendiri. Adakah unsur semacam itu dalam Alkitab atau Alquran? Ini adalah sebuah tantangan yang obyektif dan akan memberikan hasil yang obyektif juga.

Klaim Otentisitas Alquran

Beberapa upaya sudah ditunjukkan kaum muslim untuk memperlihatkan superioritas Alquran dibandingkan kitab-kitab suci lainnya. Salah satunya adalah unsur kemurnian Alquran yang diklaim sebagai tetap utuh tanpa perubahan sejak disusun pertama kali. Tapi seperti yang saya tulis di atas, dengan melihat realita yang ada klaim ini nampaknya kurang kuat. Lagipula ini bukan kriteria yang utama yang bisa menenunjukkan otentisitas Alquran sebagai kitab suci yang berasal dari Tuhan. Bahkan sekalipun klaim ini benar, artinya Alquran yang sekarang itu sama persis isinya dengan Alquran yang pertama kali ada di muka bumi, ini sama sekali tidak berarti apa-apa.

Uang palsu yang dicetak 1500 tahun yang lalu dan berhasil ditemukan di jaman ini, tetaplah uang palsu. Sejarah yang panjang dan keasliannya (sebagai uang palsu kuno) tidak bisa membuatnya menjadi uang asli. Mungkin benda tersebut menjadi uang palsu yang bernilai sejarah, tapi tidak pernah menjadi uang asli. Paling-paling itu akan menjadi penemuan bersejarah yang menunjukkan bahwa 1500 tahun yang lalu uang palsu sudah mulai dibuat oleh manusia!

Demikian juga dengan Alquran! Seandainya alquran itu bukan berasal dari sabda Tuhan, sekalipun isinya tetap sama dan tidak ada yang berubah dari jaman ke jaman hal itu tidak membuatnya menjadi kitab suci yang otentik dan berasal dari Tuhan. Jadi maaf, kita harus mencari kriteria yang lain. Kerepotan ahli-ahli sejarah Islam untuk membuktikan keotentikan bentuk Alquran menjadi sia-sia dan tidak sanggup memberikan pertolongan apapun. Islam bisa saja mengklaim keaslian bentuk, tapi soal keotentikan isinya sebagai Sabda Tuhan masih perlu dipertanyakan.

Klaim Alquran Mencakup Ajaran Semua Nabi

Kriteria lain yang juga sering dikemukakan oleh ahli-ahli dan ulama-ulama islam untuk menunjukkan superioritas Alquran adalah klaim soal isi Alquran yang mencakup ajaran ‘semua’ nabi-nabi mulai dari Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, hingga Yesus. Tapi studi mengenai isi Alquran menunjukkan bahwa kisah-kisah Alquran yang berkaitan dengan nabi-nabi dan tokoh-tokoh dalam tradisi Yudeo-Kristian merupakan adaptasi dan kompilasi yang berselera rendah dari teks-teks kitab-kitab Yahudi dan Injil-injil (baik yang kanonik maupun apokrif) ditambah cerita-cerita rakyat yang ada dalam Talmud Yahudi.

Kitab kompilasi semacam ini tidak otomatis menjadi lebih lengkap dari kitab sebelumnya. Ironisnya justru banyak ajaran-ajaran para nabi yang ‘hilang’, dimutilasi, dan ditambah-tambah sesuai selera dan pengetahuan Muhamat. Kalau anda membaca sendiri kisah-kisah Abraham, Musa, Daud, atau bahkan Yesus dalam Alkitab, lalu anda membaca kisah tentang tokoh yang sama dalam Alquran anda akan langsung bisa merasakan sendiri bedanya.

Bagaimana rasanya membaca kisah-kisah Musa yang diceritakan bangsa Israel sendiri melalui tokoh-tokoh yang mengenal betul Musa berdasarkan tradisi lisan bangsanya sendiri DIBANDINGKAN dengan mendengarkan kisah serupa yang diceritakan seorang Muhamat yang hidup ribuan tahun setelah Musa dan tidak memiliki kedekatan tradisi apapun dengan Musa? Mana yang anda anggap lebih layak untuk didengarkan?

Bagaimana rasanya mendengarkan kisah hidup dan ajaran Yesus dari kitab-kitab yang ditulis oleh saksi mata dan orang-orang yang hidupnya begitu dekat dengan Yesus sendiri DIBANDINGKAN dengan mengenal Yesus dari uraian seorang Muhamat yang hidup 5 abad setelah Yesus dan secara geografis berada jauh dari tanah Palestina yang kemungkinan besar hanya mengetahui kisah Yesus dari cerita-cerita atau kabar burung? Mana yang anda anggap lebih kredibel dan layak dipercaya? Gunakan akal sehat anda untuk menjawab pertanyaan sederhana ini!

Membaca dan percaya pada kisah-kisah tokoh-tokoh Alkitab yang diceritakan oleh Alquran sama menggelikannya seperti percaya kisah tentang Sukarno berdasarkan dongengan rejim order baru. Tidak kredibel dan penuh manipulasi! Percaya bahwa Alquran mengandung ajaran-ajaran yang paling otentik dan benar dari nabi-nabi tersebut sama absurdnya dengan percaya bahwa Reog Ponorogo dan seni batik adalah kebudayaan milik Malaysia!

Tunggu dulu, Alquran bukan karangan Muhamat tapi wahyu Tuhan yang disampaikan melalui malaikat Gabriel! Ya, betul begitu menurut klaim Islam. Tapi bukankah klaim itu yang justru akan dibuktikan disini? Oleh karenanya klaim itu tidak bisa dipakai sebagai fakta.

Klaim-klaim Lainnya

Klaim lain yang cukup populer adalah kandungan ‘fakta-fakta’ sains dan ilmu pengetahuan yang konon ada dalam Alquran. Kaum muslim mengklaim banyak sekali fakta-fakta yang ditulis dalam Alquran yang baru diketahui kebenarannya jaman sekarang setelah manusia memiliki kemajuan dalam sains dan teknologi. Dengan dalih itu mereka mengatakan bahwa Alquran tidak mungkin dibuat oleh Muhamat. Soal ini masih banyak mengundang perdebatan karena banyak ilmuwan dan ahli justru menemukan fakta yang berlawanan dengan klaim Islam. Tapi sekalipun benar bahwa ‘fakta-fakta ilmiah’ semacam itu tidak mungkin diketahui Muhamat sendiri, hal itu tidak langsung berarti bahwa Alquran berasal dari Tuhan, bisa saja berasal dari kekuatan dan sumber adikodrati / supranatural lain.

Ada lagi klaim superioritas Alquran yang secara eksplisit diungkapkan dalam Alquran yaitu tantangan dari Alquran untuk membuat ayat-ayat yang lebih baik dari Alquran. Tantangan ini sebenarnya begitu relatif dan subyetif sekali, tidak bisa menjadi tolok ukur superioritas Alquran. Saya pribadi akan menempatkan ‘Sabda Di Bukit’ sebagai ayat-ayat suci yang jauh melampaui keindahan Alquran. Sementara itu ada juga yang berpendapat kalau Kahlil Gibran menggubah puisi-puisi yang keindahannya melampaui ayat-ayat Alquran. Dengan demikian tantangan Alquran itu sama sekali tidak ada artinya.

Masih banyak lagi kriteria-kriteria yang sering diajukan Islam untuk menunjukkan superioritas Alquran, tapi tidak mungkin saya tuliskan semuanya. Lagi pula pada intinya juga tidak memberikan hasil yang signifikan, saya tidak melihat kriteria-kriteria tersebut mampu membuktikan Alquran sebagai kitab suci yang otentik (sungguh-sungguh berasal dari Tuhan).

Sebuah Kriteria Obyektif

Sekarang saya akan mengajukan sebuah kriteria yang menurut pendapat saya cukup obyektif. Sejauh ini saya belum melihat ada yang mengangkat kriteria ini sebagai penanda otentisitas kitab suci. Padahal jika kriteria ini dipahami dengan baik, anda kan bisa melihat perbedaan yang amat mencolok antara kitab suci yang otentik dan tidak. Disini akan tampak bahwa kitab suci yang otentik ternyata memiliki suatu unsur yang hanya dapat dibuat oleh Tuhan sendiri. Setidaknya unsur ini tidak saya lihat dalam buku buatan manusia yang manapun, bahkan sampai bumi ini musnah sekalipun saya yakin manusia tidak akan pernah mampu membuat buku yang memiliki unsur semacam itu.

Sebenarnya kriteria ini sangat sederhana, mudah dipahami oleh semua orang yang mau menggunakan akal sehatnya. Lagi pula kita sudah sering menggunakan analoginya dalam banyak hal yang kita terima sebagai suatu kebenaran faktual.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, siapa yang membangun Candi Borobudur? Jawabannya sederhana dan ada di buku-buku sejarah atau di wikipedia: Raja Samaratungga. Siapa yang membangun Taj Mahal, jawabannya juga mudah: Shah Jehan. Siapa yang membangun Menara Eiffel? Sejarah mencatat: Gustave Eiffel. Jawaban ini diakui sebagai benar dan obyektif meskipun ketiga orang ini mungkin tidak pernah bersusah-payah dan berkotor-kotor meletakkan batu-batu ataupun tiang-tiang untuk mendirikan apa yang nanti disebut sebagai karya besar mereka. Mereka mungkin hanya menggagas dan merancang karya-karya tersebut tapi dunia telah mencatat merekalah yang membangun mahakarya tersebut.

Dari sini saya harap anda mulai mengerti apa yang saya maksudkan. Dengan analogi yang sama saya bisa mengatakan bahwa Alkitab (PB & PL) adalah sungguh-sungguh ciptaan Tuhan. Sekalipun para penulis-penulisnya adalah manusia yang menulis dengan cara-cara dan pemikiran yang tampak sangat manusiawi, di balik semua itu ada Sang Pengarang Agung yang memberikan inspirasi dan menjadi pengarang sesungguhnya. Para nabi, imam-imam dan penulis kitab-kitab suci yang mungkin tidak pernah kita ketahui persis siapa hanyalah pekerja-pekerja yang bahu-membahu membangun sebuah karya agung bernama Alkitab. Jika sejarah menerima Raja Samaratungga sebagai pembangun Borobudur, Shah Jehan sebagai pembangun Taj Mahal dan Gustave Eiffel sebagai pembuat menara Eiffel, mengapa tidak mau menerima bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi pengarang Alkitab?

Tapi akan muncul sanggahan bahwa analogi serupa juga dapat diterapkan pada Alquran: bukan Muhamat dan para pengikutnya yang mengarang Alquran tapi Tuhan sendiri melalui malaikat Gabriel yang membisikkan segala sesuatu yang harus dituliskan di Alquran.

Disini saya akan mengajak anda untuk melihat adanya unsur yang terdapat dalam Alkitab yang tidak mampu dibuat oleh manusia, unsur seperti ini tidak dimiliki oleh Alquran maupun kitab-kitab lainnya. Ini akan membedakan kitab yang sungguh-sungguh otentik sebagai Kitab Suci dan kitab-kitab yang sekedar diklaim sebagai kitab suci.

Sekarang perhatikanlah Alquran, fakta-fakta menunjukkan bahwa Alquran hanyalah sebuah karya yang muncul pada satu jaman dan ditulis oleh satu kelompok manusia. Tidak lebih dan tidak kurang.

Bandingkan dengan Alkitab yang terdiri dari kumpulan kitab-kitab yang ditulis dalam jaman yang berbeda-beda oleh kelompok manusia yang berbeda-beda namun keseluruhannya mampu menampilkan satu konsep dan visi yang utuh.

Kalau anda mau jujur dengan akal sehat anda, tentu anda akan melihat perbedaan yang besar ini. Siapakah yang mampu memberi inspirasi sedemikian rupa sehingga kitab-kitab yang ditulis pada jaman yang berbeda-beda dan oleh orang yang berbeda-beda itu mampu memiliki satu kesatuan konsep dan visi? Tak ada satupun manusia yang sanggup memiliki konsep dan visi yang melampaui jaman semacam ini.

Bisa jadi Musa adalah penulis kitab-kitab Taurat, tapi dia tidak pernah tahu bagaimana kitab-kitab Mazmur atau kitab-kitab nabi lain akan menjadi satu kesatuan yang utuh dari apa yang pernah ditulisnya. Mungkin saja Daud atau Salomo menuliskan kitab-kitabnya berdasarkan inspirasi yang diterima dari hukum-hukum Taurat yang pernah ditulis Musa, tapi dia tidak bisa mengontrol apa yang akan dituliskan pada kitab Daniel ataupun Yesaya. Apalagi kalau kita bicara mengenai kitab-kitab Perjanjian Baru yang isinya sama sekali di luar jangkauan para nabi dan penulis-penulis kitab Perjanjian Lama.

Max I. Dimont dalam bukunya “Desain Yahudi Atau Kehendak Tuhan” mencoba melihat ini semua sebagai rancangan atau konspirasi bangsa Yahudi. Mungkin hal ini benar jika Kitab Suci hanya berisi kitab-kitab Perjanjian Lama saja. Dalam hal ini bisa jadi apa yang tertulis dalam kitab suci merupakan hasil olahan sekelompok elit Yahudi yang secara konsisten menurunkan ide-ide mereka secara turun-temurun di sepanjang sejarah Yahudi. Tapi dengan munculnya Yesus sebagai Mesias yang menjadi penggenap dari ajaran-ajaran dan nubuat yang ada dalam kitab Perjanjian Lama, teori ini tidak bisa dipertahankan lagi.

Kehadiran Yesus sebagai Mesias telah ditolak oleh bangsa Yahudi, artinya secara jelas bangsa Yahudi telah mengatakan bahwa kehadiran Yesus sebagai Mesias bukanlah rencana dan kehendak mereka. Tapi mengingat kehadiran Yesus dari sudut pandang tertentu (kristianitas) merupakan penggenap dan kelanjutan dari nubuat-nubuat kitab-kitab suci Yahudi, hal ini mengindikasikan bahwa ada kuasa lain di luar manusia: Tuhan sendirilah yang telah merancang ini semua. Jadi karya keselamatan sama sekali bukanlah ide-ide dan rekayasa bangsa Yahudi. Hanya Tuhan yang mampu memberikan inspirasi secara konsisten melampaui jaman melalui manusia yang berbeda-beda, dan inilah yang terekam dalam keseluruhan Kitab Suci.

Saya juga ingin menambahkan lagi sifat Alkitab yang tidak mungkin dibuat oleh manusia: apa yang terekam dalam Alkitab adalah sebuah narasi besar yang dibentuk oleh sejarah manusia. Anda tentu tahu ‘James Bond’, sebuah karakter fiktif ciptaan Ian Flemmings. Mungkin pada awalnya Ian Flemmings sendiri yang menulis cerita-cerita James Bond, tapi cerita-cerita James Bond selanjutnya bukan lagi karya Ian Flemmings. Ada penulis-penulis lain yang melanjutkan idenya. Jadilah kisah-kisah James Bond menjadi kisah yang abadi yang berpusat pada satu ide fiktif manusia. Tapi sebagus apapun kisah itu, materi yang digunakan untuk membangun cerita James Bond sepenuhnya bersifat fiktif, ada dalam dunia imajinasi dan manusia mampu merancangnya.

Mari kita lihat Alkitab. Keseluruhan Alkitab sesungguhnya adalah sebuah narasi besar yang berpusat pada ide-ide karya keselamatan. Dan hebatnya materi yang digunakan untuk membangun narasi besar ini bukanlah imajinasi TAPI kenyataan sejarah. Abraham adalah manusia yang hadir dalam sejarah, Yusuf yang membawa saudara-saudaranya ke Mesir adalah fakta sejarah, kisah keluarnya bangsa Israel dibawah pimpinan Musa adalah fakta sejarah, Daud dan Salomo juga manusia-manusia yang eksis dalam sejarah. Demikian juga Yesus Sang Mesias yang disalibkan dan bangkit adalah suatu kenyataan sejarah.

Pertanyaan kritisnya: siapakah yang mampu membangun narasi besar semacam ini dengan menggunakan sejarah manusia sebagai bahannya? Tidak ada satu manusiapun yang sanggup menguasai dan mengendalikan jalannya sejarah. Dengan demikian akal sehat akan membimbing kita untuk menerima fakta ini: Tuhan sendirilah yang telah mengarang Kitab Suci dengan menggunakan sejarah manusia sebagai (salah satu) bahannya dan para nabi serta penulis-penulis Kitab Suci sebagai pekerja-pekerjaNya.

Keutuhan konsep dan visi dari karya-karya yang terbentuk pada jaman yang berbeda-beda serta kemampuan menggunakan sejarah sebagai materi untuk membentuk narasi besar adalah hal-hal yang tidak mampu dilakukan manusia dan itu adalah unsur yang hanya mampu dibuat dan diadakan oleh Tuhan sendiri. Ini semua hanya ada dalam Alkitab, tidak ada dalam kitab manapun di dunia ini yang diklaim sebagai kitab suci. Dan manusia sampai kapanpun tidak pernah sanggup menandinginya.

Konklusi

Akhirnya kita sampai pada konklusi sederhana. Saya sudah menunjukkan dengan cara sederhana bahwa ada cara untuk membedakan mana kitab suci yang sungguh-sungguh buatan Tuhan dan mana yang hanya diklaim sebagai buatan Tuhan.

Dari apa yang telah saya paparkan maka saya bisa menunjukkan bahwa dalam Alkitab sungguh-sungguh terdapat suatu unsur yang sama sekali tidak akan mampu dibuat oleh manusia, suatu unsur-unsur yang hanya dapat dibuat dan diselenggarakan oleh Tuhan sendiri. Ini menunjukkan superioritas Alkitab dibandingkian dengan kitab-kitab suci lainnya, sekaligus menunjukan bahwa Alkitab sungguh-sungguh kitab suci yang otentik dan berasal dari Tuhan sendiri.

Sebagai konsekwensinya, klaim Alquran sebagai kitab suci yang berasal dari Tuhan sama sekali tidak memiliki dasar kecuali klaimnya sendiri. Dan memang inilah yang terjadi: kesucian Alquran diklaim oleh Muhamat dan sebaliknya kenabian Muhamat diklaim oleh Alquran. Di luar dari klaim yang saling bahu-membahu itu, sama sekali tidak ada dasar yang cukup untuk membenarkan kenabian Muhamat dan kesucian Alquran. Pertanyaan kristisnya: jika Alquran tidak bisa dibuktikan sebagai buatan Tuhan dan juga ditolak oleh kaum Muslim sebagai karangan Muhamat, lalu buatan siapa?

Islam Sebagai Antitesis Agama (1): Pemberontak Dan Penipu

Februari 26, 2008 pukul 3:32 am | Ditulis dalam Islam Sebagai Antitesis Agama | 4 Komentar

Pemberontakan dan Anti Kemapanan.

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku
hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan tahtaku mengatasi
bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan,
ke tempat yang paling dalam di liang kubur.” (Yes. 14:12-15)

Cuplikan ayat dari kitab Yesaya di atas menggambarkan kejatuhan malaikat terang yang kemudian dikenal sebagai Lucifer sebagai asal mula munculnya iblis dalam tata ciptaan Tuhan. Dalam teologi Yudeo-Kristian, Tuhan yang Maha Baik tidak mungkin menciptakan iblis sejak semula. Tuhan hanya menciptakan para malaikat. Ini berbeda kontras dengan teologi Islam yang mengatakan bahwa iblis diciptakan dari api, dengan demikian Islam mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan iblis. Atau dengan kata lain Tuhan sendiri yang telah menciptakan sumber segala kejahatan.

Lucifer berasal dari bahasa latin Lux Fere – Pembawa Cahaya. Lucifer adalah malaikat yang paling cemerlang diantara semua malaikat ciptaan Tuhan. Tapi justru karena kecemerlangannya itu ia menganggap dirinya setara dengan Tuhan dan mulai mengajak malaikat lain untuk tidak lagi taat kepada Tuhan. Pemberontakan para malaikat ini digagalkan oleh malaikat-malaikat yang setia kepada Tuhan di bawah pimpinan malaikat agung Mikael (yang artinya “Siapa seperti Tuhan”), sehingga akhirnya para malaikat pemberontak ini menjadi iblis dan di buang dari surga.

Ada sebuah kenyataan yang sangat menarik disini dan dapat kita jadikan sebagai titik pandang untuk membedakan karya Tuhan dan karya Iblis. Dalam membangun keseluruhan tata-ciptaan, yang dilakukan Tuhan adalah menyelenggarakan harmoni, keteraturan, ketaatan, kemapanan dalam kebebasan penuh. Sebaliknya iblis melakukan ketidaktaatan, pemberontakan dan merancang kekacauan serta ketidakteraturan. Semangat ketaatan dan kemapanan berasal dari Tuhan, sebaliknya semangat pemberontakan dan ketidakteraturan adalah berasal dari iblis. Jika kita memahami dua sifat yang berbeda ini kita akan memahami mana sesungguhnya karya-karya Tuhan dan mana yang bukan.

Kejatuhan Manusia

Dalam hal kejatuhannya, Lucifer dan para iblis sama sekali tidak menerima kenyataan pahit ini. Sekalipun mereka telah kalah oleh para malaikat yang setia, iblis masih berusaha menunjukkan dirinya mampu mengalahkan Tuhan. Iblis melihat kesempatan itu sangat terbuka lebar dengan jalan merampas ciptaan Tuhan yang paling sempurna: manusia.

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang sempurna karena diciptakan sesuai dengan citra Tuhan sendiri. Iblis dalam kedengkiannya beranggapan dengan menghancurkan citra Tuhan berarti ia berhasil menunjukkan bahwa Tuhan telah gagal: citra Tuhan sudah takluk sepenuhnya pada iblis.

Kesempatan untuk menghancurkan manusia akhirnya muncul saat iblis membujuk Adam dan Hawa untuk melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah pengetahuan. Iblis melakukannya dengan cara-cara yang menjadi ciri iblis yakni dengan memfitnah dan menipu. Iblis memfitnah Tuhan dengan mengatakan pada mereka bahwa perkataan Tuhan tentang buah pengetahuan sama sekali tidak benar, perkataan iblislah yang benar. Iblis juga menipu mereka dengan mengatakan bahwa dengan makan buah pengetahuan mereka akan bisa menjadi seperti Tuhan. Adam terkena tipu daya iblis, dia mulai memberontak dan tidak taat lagi terhadap Tuhan.

Akibat dari tipu daya iblis dan ketidaktaatannya pada Tuhan, manusia akhirnya kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan dan harus di usir dari taman Eden (Firdaus). Inilah dosa asal yang terus-menerus menjadi bagian dari peradaban manusia sampai akhirnya (menurut kristianitas) nanti dipulihkan kembali oleh Yesus Kristus melalui penebusan.

Teologi Islam memandang kejatuhan ini jauh berbeda, seolah-olah ini sekedar dosa biasa yang cukup diselesaikan dengan permohonan ampun. Islam tidak menyadari konsekuensi yang amat mendasar dari kejatuhan manusia-manusia pertama ini sehingga Islam menolak ide-ide tentang dosa asal. Padahal konsekuensi dari dosa ini amat besar: manusia kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan dan sekaligus kehilangan kehidupan yang damai, manusia mulai hidup dalam kesusahan dan jatuh ke dalam dosa-dosa.

Pemulihan Kembali

Kejatuhan manusia tentu saja tidak dikehendaki Tuhan. Tuhan yang sangat mengasihi manusia membangun rencana untuk menyelamatkan manusia dari kehancurannya. Tuhan ingin memulihkan kembali kehidupan damai yang pernah dialami manusia, dan lebih dari itu Tuhan ingin memulihkan martabat manusia kembali menjadi citra Tuhan.

Tuhan memulai rencana keselamatan manusia dengan memilih Abraham dan keturunanNya sebagai pembawa berkat bagi seluruh bangsa. Ada polemik yang cukup sengit, terutama dari kalangan islam, apakah keturunan Abraham itu juga mencakup Ismael. Tapi dalam Kitab Suci sudah cukup jelas bahwa yang disebut sebagai keturunan Abraham adalah yang berasal dari Ishak, bukan Ismael. Sehingga bangsa terpilih yang akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa itu berasal dari keturunan Israel, bukan dari yang lain. Dan ini didukung oleh kenyataan sejarah bahwa nabi-nabi memang muncul dari keturunan Ishak, bukan yang lain. Manusia bisa saja berpolemik, tapi sejarah sudah menunjukkan kebenaran dengan caranya sendiri.

Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa rencana keselamatan itu bergulir melalui rentang waktu ribuan tahun, mulai dari Abraham, Ishak, Yakub. Kemudian Yusuf yang membawa orang Israel menetap di Mesir. Di Mesir sepeninggal Yusuf bangsa Israel ini diperbudak oleh penguasa Mesir sebelum akhirnya 400 tahun kemudian dibebaskan oleh Musa dan dibawa menuju tanah terjanji di wilayah Kanaan.

Pada periode Musa inilah Tuhan memberikan salah satu berkatNya yang penting bagi umat manusia, yaitu hukum-hukum Taurat (termasuk dekalog, 10 perintah Tuhan). Tunggu, bukankah Hukum Taurat hanya untuk bangsa Israel? Tampaknya demikian, tapi jika kita mengingat kembali perjanjian Tuhan dengan Abraham maka akan tampak bahwa apa yang diberikan untuk bangsa Israel sesungguhnya ditujukan untuk semua bangsa. Itu pemberian yang bersifat universal, dan bangsa Israel hanyalah sarana, bukan tujuan dari pemberian hukum-hukum itu.

Sejarah keselamatan terus bergulir melalui jaman dimana Daud menjadi Raja Israel yang terbesar dan di susul oleh pembangunan Bait Allah di Yerusalem oleh Salomo. Kemudian muncul masa dimana Kerajaan Israel terpecah dan ditaklukkan bangsa-bangsa lain, mengalami pembuangan, sebelum akhirnya kembali lagi. Selama masa-masa itu Tuhan terbukti terus memberikan berkatNya berupa Sabda dan hukum-hukumNya melalui para nabi-nabi Israel. Dan lebih dari itu Tuhan juga menjanjikan kedatangan Sang Mesias yang akan menjadi berkat pamungkas bagi seluruh manusia.

Dari Israel Menjadi Berkat Untuk Semua Bangsa

Setelah melalui penantian dan persiapan yang panjang, akhirnya berkat pamungkas itu muncul berupa inkarnasi Tuhan sendiri dalam diri Yesus Kristus. Tak ada berkat dan pemberian Tuhan yang lebih besar dan lebih baik dari DiriNya sendiri. Inilah Sabda Tuhan yang menjadi daging, sabda yang akan memulihkan kehidupan damai seperti yang semula dirancang Tuhan bagi manusia. Dan yang terpenting, inkarnasi Yesus akan memulihkan kembali martabat manusia sebagai citra Tuhan. Melalui ajaranNya dan melihat teladan kehidupan Yesus manusia dapat menyadari betapa manusia memang dapat hidup sempurna seperti Tuhan dan manusia memang sungguh-sungguh citra Tuhan sendiri. Melalui kematian di kayu salib Yesus telah menebus dosa-dosa manusia dan memulihkan martabatnya (yang hilang sejak dosa Adam) sebagai citra Tuhan.

Setelah hadirnya Yesus, sejarah keselamatan manusia memasuki babak yang baru. Berkat Tuhan yang tadinya secara eksklusif hadir dalam sejarah bangsa Israel sekarang mulai menyebar dan dibagikan kepada bangsa-bangsa lain melalui sarana yang baru, keturunan Abraham menurut roh, yaitu Gereja. Yesus sendiri telah memberikan pengutusan sakral: “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu…” Gereja yang SATU dan SAMA yang dimulai dari para rasul dan dilanjutkan oleh para paus dan uskup terus dengan setia mengemban misi suci yang diamanatkan oleh Sang Penebus hingga hari ini.

Hadirnya Gereja sampai detik ini membuktikan satu hal penting: dengan caranya yang ajaib karya keselamatan Tuhan terus hadir sejak jaman Abraham hingga Paus Benediktus XVI tanpa pernah terputus. Inilah Agama Universal yang menjadi berkat keselamatan bagi seluruh manusia. Pada akhirnya Agama Universal akan menghadirkan kembali suatu tatanan damai dan memulihkan kembali martabat kemanusiaan menjadi citra Tuhan di akhir jaman.

Rancangan Para Penipu Dan Pemberontak

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bagi iblis kehancuran manusia adalah keberhasilannya. Meskipun dia tidak mampu mengalahkan Tuhan, setidaknya ia berhasil menghancurkan karya terbaik Tuhan. Ketika Tuhan menjalankan rencana keselamatan untuk memulihkan kembali manusia tentu saja iblis tidak tinggal diam. Iblis ingin menghancurkan Agama Universal yang telah dirancang dan dibentuk Tuhan sejak jaman Abraham.

Berbagai cara terus dilakukan iblis, mulai dari upaya penghancuran bangsa Israel, pembusukan dari dalam dan upaya menyesatkan orang-orang pilihan terus dilakukan. Tapi rancangan Tuhan tetap berjalan dengan lancar hingga akhirnya sampai pada puncak karya keselamatan dengan hadirnya Yesus Sang Penebus. Kehadiran Yesus dan kematianNya di kayu salib merupakan kekalahan telak iblis.

Dan seperti kekalahan sebelumnya, iblis tidak mau terima dan ia bertekad untuk mengacaukan Agama Universal ini. Iblispun akan menggunakan cara-cara klasiknya yang dulu pernah berhasil menjatuhkan Adam: penipuan dan pemberontakan. Memang iblis adalah bapa segala dusta dan akar segala pemberontakan.

Iblis berusaha menghancurkan Agama Universal dalam dua cara, dari dalam dan dari luar. Upaya dari dalam dilakukannya dengan menebarkan bibit-bibit perpecahan di antara umat beriman. Bibit maut paling penting yang disebarkannya adalah penyangkalan ketuhanan Yesus. Ini bukan tanpa alasan…. Bagi Agama Universal, ketuhanan Yesus adalah fondasi yang menjadi dasar bagi seluruh ajarannya. Dengan penyangkalan ketuhanan Yesus berarti seluruh ajaran Gereja akan kehilangan dasar-dasarnya dan keruntuhannya tinggal menunggu waktu.

Momen penting penyesatan dan perpecahan ini terjadi pada abad ke 4 ketika seorang imam berpengaruh (atau uskup?) bernama Arius atas bisikan iblis mulai mengembangkan dan mengajarkan teologi yang menolak ketuhanan Yesus. Seperti sewaktu menipu Adam, iblis juga menipu Arius sedemikian rupa sehingga Arius percaya bahwa apa yang diajarkan para rasul itu salah dan dia harus mengajarkan konsep yang baru.

Karena kejeniusannya dan dukungan yang diberikan oleh kerajaan Romawi waktu itu, nyaris 90 persen uskup-uskup berhasil dipengaruhi oleh pandangan Arius. Sampai akhirnya muncul seorang pendekar trinitarian yang tidak kalah jeniusnya bernama Athanasius. Dengan kegigihan dan kecerdasan yang luar biasa ia berhasil meyakinkan kembali para uskup yang pernah dipengaruhi oleh Arius untuk kembali pada ajaran yang diajarkan oleh para rasul. Ujung-ujungnya usaha busuk Arius untuk menyangkal ketuhanan Yesus gagal total dan pada konsili Nicea seluruh Gereja kembali pada ajaran para rasul hingga hari ini. Iblis lagi-lagi kalah telak….

Tapi sekali lagi iblis tetaplah iblis, dia tidak mau menerima kekalahan ini dan masih berusaha keras. Arius boleh saja gagal, tapi iblis belum mengibarkan bendera putih. Keukeuh dan pantang menyerah…. Soal semangat dan kegigihan, iblis memang patut diacungi jempol.

Cara lain yang ditempuh iblis adalah dengan menghancurkan dari luar. Sampai di sini saya harus ekstra hati-hati karena sudah masuk ke wilayah yang sensitif dan bisa membakar emosi. Tapi bagaimanapun kebenaran harus diungkapkan sekalipun pahit….

Dalam upayanya kali ini iblis masih tetap dengan tema besarnya yang semula: penyangkalan ketuhanan Yesus. Strategi mautnya adalah dengan membangun agama tandingan yang akan menggantikan Agama Universal. Agama ini juga nantinya akan diberi label seolah-olah agama universal, ‘rahmatan lil alamin”, rahmat bagi seluruh alam semesta. Untuk itu dipilihlah keturunan Abraham dari Ismael, seorang bangsa arab bernama Muhamat menjadi tokoh kunci dari rencana busuk ini. Alasannya jelas: setidaknya Islam punya kesempatan untuk mendapat legitimasi sebagai bagian dari agama keturunan Abraham juga. Tidak masalah kalau di Kitab Suci sebelumnya sudah disebutkan bahwa keturunan Abraham adalah yang berasal dari Ishak bukan Ismael, yang penting kalau terus-menerus dipromosikan (didakwahkan) dengan agresif lama-lama orang juga percaya. Seperti kata Hitler, “Ceritakanlah kebohongan, dan ceritakanlah itu terus-menerus maka kebohongan itu akan menjadi kebenaran”.

Sama seperti yang dilakukan pada Adam dan juga Arius, iblis menipu Muhamat dengan mengatakan bahwa ajaran Tuhan keliru atau sudah diselewengkan dan Muhamat diutus untuk ‘meluruskan’ kekeliruan itu. Lebih jauh lagi, umat manusia akan mendapatkan kitab suci yang ‘asli’ yang berisi wahyu ‘Tuhan’ yang sesungguhnya. Dan akhirnya lahirlah Islam dengan Alquran yang lengkap dengan penyangkalannya akan ketuhanan Yesus. Untuk lebih menyempurnakan fitnahnya Islam mencomot ajaran-ajaran para nabi sebelumnya sehingga dapat mengklaim dirinya sebagai pembawa dan pelurus seluruh ajaran para nabi, sekaligus penutup seluruh rangkaian kitab suci.

Jadi sesungguhnya kemunculan Islam berawal dari fitnah terhadap ajaran Kitab Suci, karena tudingan pemalsuan dan penyelewengan yang terjadi pada Kitab Suci sama sekali tidak diikuti dengan bukti. Perlu diingat bahwa Yesus tidak pernah berbicara dan mengeluh, soal adanya penyelewengan pada kitab-kitab Taurat. Artinya, sampai dengan jaman Yesus kitab-kitab Taurat yang ada adalah benar dan tidak diselewengkan isinya. Dan ternyata memang tidak pernah ada bukti bahwa isi kitab-kitab Taurat yang ada pada jaman Yesus berbeda dengan isi kitab-kitab Taurat yang ada pada masa sesudahnya, bahkan sampai sekarang. Jadi dimana letak pemalsuan dan penyelewengannya? Ini sudah cukup membuktikan bahwa isu penyelewengan Kitab Suci yang disebarkan Muhamat dan Alquran hanya sekedar fitnah yang dilakukan untuk mendapatkan legitimasi bagi kehadiran Alquran. Ironis memang, Islam ternyata bukan agama yang dilandasi oleh kebenaran tapi justru oleh kebohongan dan fitnah.

Sebetulnya kalau kita memakai akal sehat, kita tidak perlu termakan isu penyimpangan dan penyelewengan semacam ini. Bayangkan, Agama Universal yang dibangun Tuhan sendiri selama ribuan tahun apa mungkin dengan mudah diselewengkan begitu saja oleh manusia? Biasanya kalangan Islam selalu mengkambinghitamkan Paulus sebagai penyeleweng Agama Universal. Pertanyaannya: apakah Paulus mampu menghancurkan Agama Universal yang dibangun Tuhan selama ribuan tahun? Akal sehat kita akan mengatakan tidak mungkin, terkecuali Paulus itu lebih hebat dari Tuhan. Ketidakmungkinan ini ditambah lagi dengan fakta bahwa Paulus bukanlah kepala Gereja dan pimpinan para rasul. Jika Paulus melakukan penyelewengan dari apa yang diajarkan Yesus, dengan sangat mudah Petrus dan rasul lainnya akan membuang ajaran-ajaran Paulus.

Orang bisa saja beropini bahwa Islam membawa kebenaran. Tapi sejujurnya kalau anda memeriksa seluruh ajaran Islam, tidak ada kebenaran baru yang dibawa oleh Islam yang tidak ada di Agama Universal. Jadi munculnya Islam di muka bumi sama sekali tidak diperlukan. Hal baru yang sebenarnya dan misi utama dari munculnya Islam adalah penyangkalan ketuhanan Yesus. Persis seperti ide yang muncul dalam benak Arius, sehingga kemungkinan besar ide ini juga berasal dari sumber yang sama.

Selebihnya semua ajaran kebaikan yang ada dalam Islam sudah ada dalam Agama Universal, malah Islam menampilkannya dengan mutu yang jauh di bawah standar seperti perkawinan yang kembali ke jaman pra-kristen, ditegakkannya kembali hukum Taurat dalam bentuk yang lebih kejam seperti pemotongan tangan, hukum rajam, penggunaan kekerasan dalam penyebaran agama, dan sebagainya. Lebih dari itu Islam sesungguhnya tidak memiliki konsep ajaran yang jelas, lihat saja sistematika penyusunan Alquran yang begitu berantakan berupa kumpulan ajaran, cerita, perintah-perintah tanpa arah yang jelas. Bagaimana mungkin ajaran semacam ini mau menjadi ‘rahmatan lil alamin’? Jawaban yang paling logis, memang bukan itu tujuan dari Islam yang sebenarnya.

Jika kita melihat bahwa Agama Universal dibangun dalam sejarah yang panjang dan konsisten, mulai dari jaman Perjanjian Lama hingga jaman Perjanjian Baru dan berhasil membentuk satu kesatuan ajaran yang utuh, maka kemunculan Islam yang mengklaim sebagai agama yang berasal dari Tuhan adalah suatu anomali dan sama sekali tidak perlu. Seluruh ajaran Agama Universal sudah tergenapi dengan kehadiran Yesus, dan suatu tatanan yang akan membawa manusia menuju era baru yang penuh kedamaian sedang berproses. Maka dapat disimpulkan bahwa munculnya Islam hanyalah upaya untuk menggagalkan misi Agama Universal, tidak lain dan tidak lebih. Dengan kata lain Islam adalah antitesis dari Agama Universal, Islam adalah bagian dari pemberontakan iblis terhadap Tuhan.

Untungnya sejarah sudah menunjukkan bahwa upaya pemberontakan iblis pada akhirnya akan gagal, termasuk juga antitesis agama yang dibangunnya ini akan menemui takdir yang sama: gagal total.

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.